Memahami Pengertian Asbabun Nuzul

 Memahami Pengertian Asbabun Nuzul

Mengenal Urgensi dan Manfaat Mempelajari Qira’at    

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia dengan tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Al Qur’an juga memuat informasi-informasi peristiwa masa lalu, kejadian-kejadian sekarang serta berita-berita yang akan datang.

Para ahli tafsir sepakat bahwa sebagian besar kandungan Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT untuk tujuan umum ini. Kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya telah menjadi saksi sejarah atas semua fenomena terkait dengan diturunkannya wahyu ilahi (Al Qur’an).

Bahkan kajian mendalam terhadap sebab turunnya Al Qur’an pada generasi awal Islam akan terbukti bahwa terdapat peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah SWT atau masih kabur bagi mereka.

Kedudukan Muhammad SAW sebagai nabi mempunyai peran penting dalam menjelaskan semua peristiwa terkait diturunkannya Al Qur’an.

Hal ini yang mendorong para sahabat senantiasa bertanya setiap menjumpai berbagai peristiwa dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, peristiwa turunnya Al Qur’an selalu terkait dengan kehidupan para sahabat baik peristiwa yang bersifat khusus atau untuk pertanyaan yang muncul.

Pengetahuan mengenai asbabun nuzul besar sekali manfaatnya bagi setiap orang yang hendak menafsirkan Al Qur’an. Pengetahuan tersebut dapat membuat seseorang mengetahui kandungan makna Al Qur’an secara tepat dan sekaligus dapat menghindarkan seseorang dari pemahaman yang salah.

Pengertian Asbabun Nuzul

“Semua yang disebabkan olehnya diturunkan suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, memberi jawaban terhadap suatu sebab atau menerangkan hukumnya pada saat terjadi peristiwa itu“

Berangkat dari pengertian di atas, sebab turunnya ayat-ayat al Qur’an dapat diklarifikasikan menjadi dua macam :

  1. Didahului oleh “sebab”

Hal ini bisa terjadi bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al Qur’an mengenai peristiwa itu. Sebab turunnya ayat itu adakalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam atau adakalanya berupa pertanyaan dari kalangan Islam atau dari kalangan lain yang diarahkan kepada Nabi (Az Zarqony, 1988: 106). Seperti yang diriwayatkan ibn Abbas berkaitan dengan sebab turunnya ayat 214 dalam surat Asy-Syura :

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat”

Langkah nabi SAW ketika turun ayat tersebut adalah mengumpulkan kerabat dekatnya dengan memberikan peringatan (Imam Bukhary, 1995 : 93). Nabi pergi dan naik ke bukit sofa, seraya berseru: “ Wahai kaumku !”. Maka mereka berkumpul di dekat nabi SAW. Beliau berkata : “ Bagaimana pendapatmu bila aku beritahukan kepadamu bahwa dibalik gunung ini ada sepasukan kuda yang hendak menyerangmu.Percayakah kamu apa yang saya katakan. “ Mereka menjawab: ” Kami belum pernah melihat anda berbuat dusat “ Nabi melanjutkan : Aku memperingatkan kamu tentang sikas yang pedih”. Ketika itu abu lahab berkata: “ Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?”. Laluia berdiri, lalu turunlah al lahab:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

“Celakalah kedua tangan Abu Lahab,”

  • Bila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat al qur’an menerangkan hukumnya.

Peristiwa dhihar, adalah bila seorang laki-laki menyerupakan isterinya dengan ibunya sehingga isterinya itu haram atasnya, seperti kata suami kepada isterinya,

“Engkau tampak olehku seperti punggung ibuku.”

Ucapan yang demikian yang tidak diteruskan kepada talaq, maka ia wajib membayar kifarat dan haram bercampur dengan istrinya sebelum membayar kafarat itu (Ibn Rusd : 75) yang menimpa sahabat Khaulah bunti Sa’labah merupakan fakta yang mendukung pernyataan di atas.

Musibah zihar yang dikenakan oleh suaminya. Aus bin Samit, mendapat perhatian serius dari Allah SWT. Sehingga malaikat Jibril turun membawa ayat dalam surat Al Mujadalah : 1 terkait dengan peristiwa tersebut.

Ketika Aus bin Samit menjatuhkan Zihar kepada Istrinya Khaulah bin Sa’labah, lalu isterinya datang kepada Nabi SAW. Mengadukan hal itu. Aisyah r.a berkata:

“Maha suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segalanya. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Sa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW. Katanya: “ Rasulullah suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah berapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi ia menjatuhkan zihar kepadaku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu.Aisyah berkata “ Tiba-tiba Jibril turun membawa ayat tersebut”.

Namun demikian, ternyata ada diantara ayat Al Qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab. A’isyah Abdurahman pakar tafsir kontemporer, yang terkenal dengan julukan Bintuys-Syathi’, mengusulkan penolakan untuk menganggap setiap peristiwa dalam Asbabun Nuzul tersebut sebagai sebab atau bahkan tujuan turunnya wahyu, tapi sekedar merupakan wahyu kondisi-kondisi eksternal dari pewahyuan itu, sehingga penekanannya diletakkan pada universalitas makna dan bukan pada kekhususan kondisi tersebut (A’isyah Abdurrahman, 1996: 15). Seperti yang berkaitan dengan akidah, kewajiban iman, kewajiban Islam dalam kehidupan pribadi dan sosial.

As-Syuyuti berpendapat bahwa ayat-ayat al qur’an tidak diturunkan di saat-saat terjadinya sebab. Ia berpendapat demikian karena hendak mengkritik atau membatalkan penafsiran surah Al fiil, bahwa sebab turunnya surah tersebut adalah kisah datangnya orang-orang Habasyah yang hendak menghancurkan ka’bah dibawah komando raja Abrahah, Jurzi Zaidan memberikan analisis terkait dengan maksud dan tujuan raja Abrahah untuk menguasai Mekkah karena lokasi kotanya berada di sepanjang rute perdagangan yang membentang dari Arabia selatan dan utara. Ia menjadi jalur lalu lntas peragangan terpenting mulai dari Mediteranian, Teluk Persia, laut merah sampai Afrika (Jurzi Zaidan, 1966 :350). Pada dasarnya kisah tersebut tidak sedikitpun berhubungan dengan sebab turunnya suarh al-fiil.

Akan tetapi peristiwa dalam kandungan surah tersebut lebih mengarah pada informasi peristiwa masa lalu., seperti halnya kisah kaum nabi Nuh a.s., kaum Ad, kaum Samud dan lain-lain. Ayat-ayat itu mempunyai motif yang bersifat umum, yakni untuk menghibur Nabi SAW. Dan untuk menguatkan hatinya dalam menghadapi berbagai tantangan yang keras, terutama dari kaumnya sendiri. (*)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *