Meluruskan Pembodohan dalam Situs Wahabi kepada Ulama Salaf

 Meluruskan Pembodohan dalam Situs Wahabi kepada Ulama Salaf

Menyoal Fatwa-Fatwa Tidak Jelas di Medsos (Ilustasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dalam sebuah situs besar milik Wahabi, saya bisa menemukan pembodohan-pembodohan. Banyak keajaiban yang tak ada duanya, sebab sulit sekali rasio manusia normal bisa dibuang sampai sebegitunya karena fanatisme pada Syaikh Ibnu Taymiyah.

Penulisnya membebek begitu saja pada pernyataan Ibnu Taymiyah meskipun sangat ajaib. Dalam satu frame kecil ini saja sudah ada tiga keajaiban dunia:

1. Ulama Salaf Dikatakan Tidak Pernah Berkata ‘Alquran Qadim’

Parah sekali ketidakamanahannya dalam membahas salaf. Di artikelnya itu sendiri ada sekian nukilan bahwa Alquran adalah qadim yang sebenarnya cukup membuktikan Inkonsistensi.

Tetapi bisa-bisanya penulisnya mentahrif makna qadim yang seharusnya “tak berawalan” menjadi “jenisnya saja yang qadim” sesuai kredo bid’ah yang dikarang Ibnu Taymiyah di abad kedelapan bahwa Allah punya hawadits la Awwala laha.

Ini kredo bid’ah sekali dan irasionalnya kebangetan tanpa ada keraguan. Ini sama seperti orang yang bilang bahwa manusia itu secara satu persatu punya awalan, tetapi secara jenis tidak berawal. Kesimpulan irasional. 

Imam at-Thabari dalam at-Tabshir fi Ma’alimi ad-din mengatakan Allah tidak mungkin sukut (diam). Dengan kata lain, tak ada ceritanya Allah kadang berkalam kemudian kadang diam.

Ulama salaf lainnya kebanyakan memakai redaksi “lam yazal mutakalliman” yang artinya tak pernah berhenti berkalam. Ini yang diplesetkan secara tidak amanah oleh penulis artikel itu sebagai pernyataan selalu berkalam kapan pun kalau Allah mau.

Dalam arti, kalau sedang tidak mau maka diam tak berkalam. Ada satu pernyataan yang konon dari Imam Ahmad mengatakan demikian, tapi riwayat dari beliau yang lain menentang statemen semacam ini.

Kebanyakan ulama memilih redaksi Alquran bukan makhluk, yang artinya adalah qadim sebab semua makhluk tidak qadim.

2. Huruf-huruf Alquran Bukanlah Makhluk

Perkataan aneh ini diwarisi oleh Ibnu Taymiyah dari literalis Hanabilah sebelumnya. Mereka ngotot bilang kalam Allah berupa rangkaian huruf, tetapi di waktu yang sama, ngotot bilang bahwa huruf itu bukan makhluk.

Lalu, jika ada huruf yang bukan makhluk, itu apa? Apa mereka mau bilang huruf-huruf itu Khaliq semua? Atau mereka mau bilang bahwa tulisan mushaf yang terdiri dari huruf-huruf itu qadim meskipun jelas-jelas cetakan pabrik atau tulisan tangan yang sebelumnya tidak ada? 

Kalau ada makna qadim yang berawal mula seperti ini, maka tinggal selangkah lagi ada yang bilang bahwa makna Allah qadim adalah aslinya berawal mula juga, wal iyadzu Billah. Literalis Hanabilah dari dulu parah gagal pahamnya soal ini. 

3. Hoax Allah Berkalam dengan Quran saat Azali

Mereka mengatakan bahwa dalam akidah Asy’ariyah, Allah berkalam dengan Alquran saat azali (kondisi semesta belum tercipta). Kemudian tidak berkalam lagi.

Ini hoax murahan yang anak kecil Asy’ari setingkat madrasah ibtida’iyah saja tahu kalau itu bohong. Semua tahu kalau dalam kredo Asy’ariyah sifat kalam itu tergolong sifat wajib.

Artinya ia adalah sifat yang selalu ada dalam diri Allah tak pernah sedetik pun berhenti. Imam Al-Baqillani dalam at-Tamhid misalnya berkata: 

وَهُوَ تَعَالَى لم يزل متكلما بِكَلَام غير مُحدث وَلَا مَخْلُوق 

“Allah ta’ala tak henti-hentinya Berkalam dengan kalam yang tidak wujud belakangan (tidak muhdats) dan juga bukan makhluk.” 

Lalu bagaimana bisa ada orang yang sanggup mengarang bebas bahwa menurut Asya’irah Allah berkalam lalu tak berkalam lagi? Bahasan soal ini sangat panjang sebenarnya, tapi kadar ini sudah cukup bagi siapa pun yang nalarnya masih sehat dan menjauhi fanatisme.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *