Melampaui Sekat Halal-Haram: Berwisata ke Borobudur

 Melampaui Sekat Halal-Haram: Berwisata ke Borobudur

Bagaimana Hukum Berwisata Candi? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – “Haram hukumnya berwisata ke candi Borobudur,” begitulah kabar yang baru-baru ini kembali viral di jagat maya. Ceramah ini muncul dari seorang ustaz yang bernama Sofyan Chalid Ruray yang menyatakan dengan tegas tentang keharaman mengunjungi tempat ibadah agama, selain agama Islam.

Betapa banyak isu-isu yang telah lalu, namun kembali mencuat, seperti halnya kecamuk kehalalan dan keharaman musik beberapa waktu lalu. Berikutnya merembet pada kunjungan wisata ke tempat ibadah selain agama Islam yang menyasar Candi Borobudur haram dikunjungi.

Dikutip dari detik.com ternyata video ustaz yang viral tersebut ternyata telah beredar pada 3 September 2018 lalu.

Jika dianalisis, mereka (yang mengharamkan dan membolehkan) sama-sama berpijak pada argumen teologis, menyebut berasal dari kitab suci yang sama beserta dalil-dalilnya tapi dengan ragam pemahaman yang berbeda. Alhasil produk hukum yang acapkali muncul pun terkadang beraneka.

Paling tidak, jika ditinjau lebih jauh akan ditemukan tiga sikap, di antaranya, mereka yang mengharamkan karena khawatir aqidah yang terpatri tercemar hingga tercerabut. Kedua, mereka yang juga mengharamkan tapi memberikan kelonggoran tapi bersyarat terpenting memiliki tujuan, semisal study tour atau dalam rangka penelitian. Ketiga, mereka yang membolehkan tanpa syarat dan ketentuan khusus.

Rasa khawatir soal pencemaran aqidah lantaran mengunjungi lokasi yang dianggap berpotensi menggugurkan iman tentu sangat mulia dan sah-sah saja dilakukan. Meski begitu, kekhawatiran yang terlalu, juga tidak baik.

Akhirnya cenderung berpandangan sempit, menyangkal perbedaan. Alhasil gampang curiga dan boleh jadi di kemudian hari akan gampang meremehkan kadar kualitas keimanan seseorang.

Tinjauan Pragmatis Soal Halal-Haram Borobudur

Pernah tidak kita berpikir, kehadiran Borobudur atau wisata-wisata candi lainnya cukup membantu roda kehidupan ekonomi masyarakat. Jika misal kunjungan ke tempat ini saja tidak boleh, bagaimana dengan nasib kebutuhan ekonomi mereka yang bergantung pada candi?

Entah itu sekadar menyewakan alas (karpet), pinjaman payung di kala panas terik maupun hujan, penyedia jasa Tour Guide. Mereka yang menjual aneka macam makanan, pakaian, souvenir serta kebutuhan lainnya. Mungkin haram bagi lainnya, tapi beberapa lainnya merasa perlu dan wajib dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Beberapa sektor lain misalnya, dari candi juga kita belajar dan mengenal kecanggihan dalam hal seni arsitektur nenek moyang kita yang begitu fenomenal. Dari segi ketahahanan, kekokohan, hingga unsur estetisnya melampaui peradaban manapun.

Candi yang dibangun pada abad ke-9 M ini berdiri ketika masyarakat dunia saat itu baru mahir jadi tukang kayu. Sedangkan Eropa saat itu masih diam berkutat dalam Abad kegelapannya (Dark age). Nmun tidak bagi nenek moyang kita yang telah menguasai teknik mengolah batu.

Ini zaman dulu, yang belum ada semen. Bagaimana cara mereka menempelkan batu ke batu lainnya hingga kokoh menggunung, kalau bukan karena kelihaian seni arsitektur yang brilian?

Perlunya Rasa Menghargai yang Tinggi

Kecerdasan nenek moyang ini tentu dibarengi kerja keras, kesabaran, kegigihan, ketelitian, dan tentu dengan waktu membangun yang juga tidak instan. Hasilnya pun masih bisa dinikmati anak-cucunya hingga kini sebagai jejak sejarah.

Bukankah ini sebuah prestasi yang menakjubkan? Prestasi yang pernah tertoreh dan menjadi bukti nyata dalam panggung dunia hingga Borobudur ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia.

Akan sangat disayangkan jika segenap persoalan sosial kemasyarakatan ditinjau secara hitam putih. Ini hanya akan terus melahirkan dikotomi berkepanjangan. Jika saja soal halal dan haram terus diributkan karena satu soal, kemudian pindah ke soal lain yang telah lalu. Apa tidak lelah dengan perkara yang sudah-sudah?

Sementara bangsa lain telah memikirkan bagaimana hidup di planet lain selain bumi, dan mungkin projek teknologi canggih lainnya yang tengah dirancang.

Apa kita tidak malu pada nenek moyang kita yang telah menorehkan peradaban maju yang tak kalah saing dengan peradaban bangsa dunia. Tidaklah berlebihan jika dikatakan melampaui peradaban bangsa dunia lainnya, sementara kita yang saat ini masih jauh tertinggal dari masyarakat dunia yang telah maju.

Betapapun ragam pemahaman yang lahir kian berbeda, paling tidak rasa menghargai dan spirit belajar kita tetap harus dipupuk untuk kehidupan lebih baik ke depannya. Hal ini sebagai perwujudan Islam yang rahmatan lil alamin.

Wallahu A’lam bi al-shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *