Melalui Teater, Pemuda Palestina Sampaikan Perlawanan Terhadap Pendudukan Israel

 Melalui Teater, Pemuda Palestina Sampaikan Perlawanan Terhadap Pendudukan Israel

Tiga Mahasiswa Keturunan Palestina Ditembak di Vermont, Amerika Serikat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sekelompok pemuda pencinta seni dari Palestina menggelar pertunjukan teater di bagian utara Tepi Barat. Aksi teaterikal ini merupakan wujud perlawanan dari para pegiat seni dalam menentang kezaliman Israel terhadap rakyat Palestina.

Direktur umum teater Mustafa Sheta mengatakan drama yang diangkat dari cerita Little Jellyfish ini ditulis langsung oleh Ghassan Kanafani. Karya tersebut kemudian diadopsi dan dijadikan drama pertama yang dipentaskan di teater.

“Banyak anak-anak dari kamp yang berakting dalam drama tersebut,” kata Mustafa Sheta, kepada Anadolu Agency, dilansir Kamis (2/11/2021).

Ia menjelaskan kelompok teater ini didirikan pada 1989 bertepatan dengan Intifadah pertama. Sebelumnya dikenal sebagai Teater Batu, kelompok Teater Kebebasan membangkitkan kenangan para pendirinya. Untuk mendukung anak-anak Palestina di kamp pengungsi.

Ia juga menceritakan awal mula terbentuknya kelompok teater. Pada 2002, lanjut Mustofa, Juliano yang terus memimpin kelompok itu setelah kematian ibunya. Telah menemukan bahwa anak-anak seperti Alaa Sabagh, Ashraf Abu Alhija dan Yousef Sweatat, dan banyak lainnya, yang telah bergabung dalam pertempuran Jenin untuk melawan tentara Israel. Ini telah memasuki kamp selama Intifadah kedua.

“Dia mengikuti cerita anak-anak yang menjadi pejuang. Semuanya dibunuh oleh tentara Israel kecuali Zakaria Zubaidi, yang dipenjara sejak 2018,” kata Sheta.

Membangun Identitas Budaya Nasional

Terinspirasi oleh pergantian peristiwa ini, lanjutnya, Juliano menyutradarai film Aran’s Children. Pada 2004 yang menceritakan kisah seniman anak Palestina, yang terbunuh saat invasi militer Israel ke kamp.

“Juliano telah terinspirasi oleh kelompok-kelompok di Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Swedia, dan Portugal untuk mendukung dan meningkatkan teater,” kata Mustofa.

“Dengan kelompok-kelompok ini, dia ingin membangun identitas budaya nasional. Jadi ini adalah kesempatan besar bagi para sukarelawan. Untuk mengekspresikan solidaritas mereka untuk perjuangan Palestina,” tambah Sheta.

Mereka mengadopsi banyak cerita internasional yang mirip dengan kehidupan di Palestina. Membahas situasi politik dan sosial seperti cerita terkenal.

“Kegiatan-kegiatan ini berjalan sangat baik sampai Juliano dibunuh pada 2011 di kamp Jenin. Oleh seorang pria bersenjata bertopeng di dekat Freedom Theatre,” kata direktur umum teater tersebut.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *