Biografi TokohPesantren

Mbah Hambali dan Pondok Pesantren Bodho “Al Frustasiyah”

HIDAYATUNA.COM – Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama yang mana memiliki satu sosok sentral yaitu Kyai yang menjadi figur panutan para santrinya. Dalam kegiatan belajar mengajar di pesantren, santri justru menjadi subjek atau tidak semata menjadi objek. Setiap pesantren memiliki ciri khas masing-masing misalnya ada yang disebut pesantern Alquran, pesanteren kaligrafi dan juga lainnya. Dinamika perkembangan pesantren di Indonesia semakin beragam sesuai kharakteristiknya masing-masing seperti Pondok Pesantren Bodho “Al Frustasiyah” misalnya, santrinya dari kalangan orang-orang yang mengalami frustasi, stress, yatim piatu dan putus asa.

Pondok Pesantren Bodho “Al Frustasiyah” terletak di Caruban Lasem Jawa Tengah. Nama lembaga pendidikanya dan sudah terlihat jelas dari nama pesantrennya saja sudah menonjolkan jati dirinya. Sebenarnya agak sulit mendapatkan informasi tentang pondok yang sudah tidak ramai lagi seperti dulu ini, bahkan jika ada pengunjung dilarang masuk ke dalam area ini.

Singkat cerita, Pondok Pesantren Bodho Al Frustasiyah didirikan oleh seorang ulama dengan gaya khas nyentriknya dan kharismatik yang bernama KH Hambali Abu Sudjak Ar-Ruslani. Dalam beberapa literatur beliau dikatakan masih keturunan ke 6 dari Sunan Kalijaga.

Mbah Hambali, nama sapaan sebagaimana kebiasaan masyarakat memanggilnya. Beliau dikenal memiliki perawakan sedang, kecoklatan dan berewokan mirip dengan Saddam Hussein mantan penguasa Irak, sekilas seperti galak tapi lembut hatinya.

Mbah Hambali dikenal kyai nyentrik oleh masyarakat dan memiliki banyak karomah dan ceritanya berkembang dari mulut kemulut. Salah satunya adalah sebelum meninggal beliau telah mempersiapkan makam untuk tempat peristirahatannya. Beliau meninggal pada tanggal 28 Mei 2012. Dengan meninggalnya pengasuh pondok pesantren tersebut, kepengurusan pesantrennya dilanjutkan oleh putra-putranya.

Mbah Hambali gemar memberikan ijasah sholawat dan ketika beliau ziarah wali-wali yang sebelumnya kami tidak dikenal oleh masyarakat umum. Ada satu cerita yang cukup mashur mengenai Mbah Hambali, suatu ketika beliau mengasingkan diri untuk shalat di pinggir pantai dan ternyata yang menjadi makmumnya ikan-ikan di laut, cumi, udang, dll.

Baca Juga :  Mengenang Wafatnya Sayyid Alawi Al-Maliky pada Jumat 15 Ramadhan

Hal ini menambah keyakinan masyarakat bahwa beliau memang seorang keturunan wali (kekasih Allah). Semasa Mbah Hambali masih hidup, beliau membimbing para santri-santrinya di Pondok Pesantren Bodho “Al Frustasiyah” dengan penuh kesabaran, meskipun para santrinya berasal dari berbagai macam latar belakang.

Mbah Hambali ini termasuk Kyai ‘Khowariqul Adah’ yang bicaranya tidak pernah secara harfiah atau gamblang, tetapi selalu mengandung makna kinayah yang harus diterjemahkan secara bijaksana dan apa yang beliau bicarakan merupakan solusi atau sesuatu yang akan terjadi dimasa mendatang.

Pengertian Khowariqul Adah sendiri merupaka orang yang memeliki kemampuan luar biasa, mata batin, kebal, tenaga dalam atau indra ke enam. Sedangkan yang memiliki kemampuan Khowariqul Adah ini berasal dari Allah Swt, yang diberikan kepada wali-walinya, yang merupakan orang beriman dan bertaqwa yang lazim selalu mengikuti sunnah dan syari’at islam.

Kemampuan tersebut tanpa harus dipelajari sebelumnya atau harus melakukan ritual tertentu dengan berbagai macam syarat tertentu untuk mendapatkannya. Didunia ini banyak sekali orang-orang yang bertaqwa dan sungguh beruntungnya orang yang memiliki kemampuan tersebut.

Mbah Hambali menggambarkan Pondok Pesantren Pesantren Bodho “Al Frustasiyah” kepada orang-orang yang mau nyantri dengan ucapan berikut “maaf di sini tidak sombong dan tidak sesumbar. Di sini juga bukan pondok pesantren hanya pondok-pondokan. Siap menampung orang yang podo kesasar, dan podo buyar. Disamping menerima, menampung anak-anak yatim piatu, juga orang-orang yang kurang mampu, serta orang yang terbeku. Terus terang di sini tempat tak terhajar dan tak usah membawa bahan bakar. Asal siap ikhtiar dan Tawakal pada Tuhan Kang Maha Besar.”

Bangunan Pondok Pesantren Bodho “Al Frustasiyah” bisa dikatakan tidak kenal selasai. Bahkan tidak jarang dilakukan pemugaran dikarenakan terjadi masalah-masalah yang katanya ada seseorang yang menyumbang pondok tetapi tidak ikhlas, jadi dilakukan bongkar kembali.

Baca Juga :  Harun Ar- Rasyid : Penguasa Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah

Sejarah pembangunan pesantren ini dulunya merupakan tempat pembinaan bagi orang-orang yang mengalami gangguan psikolgis. Terdapat keunikan dari Pondok tersebut, ketika ada pengajian biasanya mengaji kitab. Tetapi berbeda dengan ini, santrinya ada yang ditempatkan ditambak garam miliknya, dapur rumah (sebagai penerima tamu) dan tukang bangunan. Sedangkan setiap malam jum’at diadakan Tahlilan, yasinan, sholat taubat dan sebagianya.

Mbah Hambali membangun pondok pesantren ini tanpa ada campur tangan bantuan pemerintah dan para santrinya juga tidak dipunggut biaya. Sumber dananya didapat dari swadaya sendiri yang melalui usaha tambak ikan dan garam yang menghasilkan untuk kemaslahatan ummat.

Beliau juga sering melakukan upaya pemeliharaan anak-anak yatim piatu menjadi anak sholeh atau sholehah dan meminimalisasi kejahatan sehingga tidak ada pengangguran.

Bangunan yang menyerupai arsitek cina ini, disamping-sampingnya terdapat pohoh-pohon trembesi membuat daerah ini cukup asik untuk didatangi sebagai karya fotorgarfi dan dipinggir pantainya terdapat memiliki sumber air tawar yang tidak dimiliki tetangga lainnya.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close