Tasawuf

Mau Jadi Orang Merdeka Atau Budak?

Oleh: Prof. H. Ahmad Thib Raya

HIDAYATUNA.COM – Ibn Atha’illah berkata:  “Kau menjadi orang yang merdeka dari segala yang tidak kau inginkan dan kau menjadi budak dari segala yang kau inginkan.”   Alangkah dalam kalimat hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah, dalam pesan hikmahnya yang ke-64 itu, yang tertuang di dalam bukunya, Terjemah al-Hikam, hal. 91.

Kata Rasulullah panutan kita: “Ketahuilah bahwa di dalam badanmu itu ada segumpal daging. Yang apabila daging itu baik, maka seluruh badanmu akan menjadi baik. Jika hatimu rusak, maka rusak pula seluruh badanmu.” Dia itulah hati.” Dirimu sangat ditentukan oleh hatinya. Kalau hatimu baik, maka engkau akan baik. Kalau hatimu buruk, maka engkau akan buruk pula. Manusia mempunyai keinginan, yang baik atau yang buruk. Dua keinginan itu datang dan bersumber dari hatimu. 

Tahukah Anda berapa besar hati yang ada di dalam diri Anda? Besarnya hatimu adalah sebesar kepalan tanganmu. Coba kepalkan tanganmu, lalu kau ukur. Sebesar itulah hatimu yang ada di dalam dirimu itu. Hatimu adalah salah satu bahagian yang terkecil dari badanmu, tetapi mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan baik dan buruknya badanmu. Hati yang kecil itu mempunyai keinginan yang sangat besar, bukan sebesar badanmu, bukan pula sebesar dan seluar rumahmu. Besarnya keinginan hatimu sama besarnya dengan dunia ini. Artinya yang diinginkan oleh hatimu itu adalah dunia dan isinya ini. Keinginan hatimu tidak pernah habis, tidak pernah putus, dan tidak pernah puas.

Rasulullah pernah berkata:  “Sekiranya manusia telah memiliki dua lembah (gunung) yang penuh dengan harta, maka dia ingin agar dia memiliki gunung yang ketiga. Maka tidak ada yang mengisi tenggorokan manusia kecuali tanah. Kemudian Allah menerima tobat dari orang yang bertobat.” HR. Bukhari. Hadis ini menggambarkan bahwa keinginan manusia tidak pernah habis. Sudah ada satu, mau dua, sudah ada dua mau tiga, sudah ada tiga mau empat, dan berapa pun jumlah harta yang diberikan kepadanya,  hatinya tidak akan pernah puas. Manisnya kehidupan manusia telah meracuni hati sebahagian besar dari manusia. Manisnya itulah yang menyebabkan hati tidak pernah puas.

Baca Juga :  Ibadah dan Surga dalam Minhajul Abidin Karya Terakhir Imam Ghazali

Manusia yang paling merdeka dalam hidupnya di dunia ini adalah manusia yang tidak memiliki keinginan terhadap kelezatan dunia.  Dia merdeka karena tidak ada yang memerintahkan dia untuk mengikuti  keinginannya. Sebaliknya manusia yang menjadi budak adalah manusia menginignkan segala kelezatan dunia. Apa yang diperintahkan oleh kenginan dan kemauan hatinya selalu dia ikuti dan turuti. Jadilah orang merdeka tapa keinginan hatimu akan kelezatan dunia. Jangan mau menjadi budak dari keinginan hatimu untuk kelezatan dunia. Bebeskanlah dirimu dari kelezatan kehidupan dunia karena kelezatan itu menjadikan kamu lupa.


Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close