Tempat Bersejarah

Masjid Tanpa Nama di Tengah Hutan

HIDAYATUNA.COM – Masjid megah berdiri di tengah hutan di Dusun Langkoa, Desa Bontoloe, Kecamatan Bontolempangang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sempat jadi perbincangan masyarakat karena masjid ini tidak memiliki nama.

Sejak berdirinya masjid ini belum diberikan nama sama sekali. Masyarakat menyebut masjid ini sebagai masjid 12 kubah yang sempat ramai dimedia sosial dan ditempuh kurang lebih 3 jam dari kota Makassar untuk ke lokasi masjid tersebut di tengah hutan.

Karena harus melewati perkampungan penduduk, hutan pinus serta tebing bekas longsoran yang melanda Kabupaten Gowa beberapa tahun lalu. Jalan menuju ke masjid tersebut bisa dilalui dengan kendaraan roda empat. Masjid tersebut berada di kaki Gunung Lompobattang.

Masjid tersebut awal dibangunnya pada Februari 2012 dan sudah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Gowa dengan luas 8 x 10 meter.

Kemudian, rencananya akan diresmikan pada tahun 2021 nanti. Masjid yang begitu megah ini didirikan oleh Puang Busli sekaligus pengusaha kopi asal Kabupayen Wajo, Sulawesi Selatan. Pendiri masjidnya sendiri tidak mau disebutkan identitasnya, tetapi warga sekitar memanggilnya dengan sapaan Puang Busli. Warga desa sekitar sendiri mengakui bahwa keberadaan masjid megah di tengah hutan tersebut telah lama diketahui

Masjid itu milik seorang pria kelahiran (Bugis) Makassar yang berusia 70an yang memiliki berbagai usaha di sejumlah daerah, ia juga disebut memiliki beberapa usaha di Papua dan pengusaha kopi ternama di Sulawesi Selatan. Sebenarnya masjid yang ia didirikan itu bukan ditengah hutan, tapi di tengah kebun kopi milik Puang Busli yang berada di ujung perkampungan tepatnya di kaki Gunung Lompobattang.

Lahan perkebunan kopi milik Puang Busli ini seluas 5 Hektar yang dibeli langsung dari pemilik asli pada tahun 2009 dari kepala desa yang bernama (Alm) H. Tayang dan sekarang sertifikat kepemilikannya diserahkan kepada anaknya, termasuk dalam sertifikat atas namanya lahan kebun kopi milik beliau diberi nama Nirmala Bukit Celebes.

Baca Juga :  Runtuhnya Khalifah Cordoba

Puang Busli memiliki niat yang mulia dengan mendirikan masjid itu untuk ditempati ibadah, belajar mengaji bagi warga setempat. Karena, saat pembelian awal lahannya terdapat sebuah batu raksasa yang sering dikunjungi oleh warga sekitar yang kerap diberi sesajen dan dianggap sebagai batu keramat.

Pada saat itu juga, beliau mempunyai ide untuk membangun sebuah masjid yang konstruksinya nyaris sama dengan salah satu masjid di timur tengah, didominasi warna kuning keemasan dan warna putih. Memiliki ide tersebut ketika beliau pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah bersama istrinya dan ia berdoa untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Berdirilah masjid tersebut diatas batu yang dikeramatkan oleh warga sekitar dan alhamdulillah perbuatan musyrik warga telah hilang sejak didirikannya masjid tanpa nama itu.

Sebelum pembangunan awal masjid ini, sering kali digunakan oleh sejumlah warga melakukan ritual untuk panjatkan doa dan masyarakat setempat menganggapnya lahan keramat. Puang Busli pun memutuskan menghancurkan batu besar lalu dibangun masjid tersebut. Sebelum membangun masjid, ia sempat beberapa kali merenovasi masjid-masjid desa disekitar.

Warga desa sendiri telah mensyukuri keberadaan masjid megah ini membuat suatu perubahan, karena kehadiran masjid itu diperuntukkan untuk tempat ibadah pekerja kebun kopi dan serta masyarakat Dusun Langkoa. Beberapa kali digunakan untuk sholat Tarawih di bulan Ramadhan oleh pekerja kebun kopi dan warga setempat

Sementara selain masjid, berdiri tiga rumah panggung berbahan kayu dengan ornamen adat rumah adat Bugis Makassar yang digunakan sebagai tempat peristirahatan sang pemilik bersama keluarganya dan para pekerja kebun. Selain kebun kopi, masi banyak pepohonan dan didirikan kandang sapi yang diternak oleh warga setempat dilahan seluas 5 hektar tersebut.

Baca Juga :  Fakta Dibalik Kisah Ribuan Jin Membangun Masjid Tiban

Puang Busli tidak hanya dikenal sebagai pengusaha kopi saja, tetapi dikenal sebagai ke dermawanan beliau dan baik hati walaupun memang orang kaya. Rumah penduduk pun tak jauh dari masjid itu, ia telah memperkejakan sekitar 30 warga dan digaji setiap minggu.

Jumlah penduduk disekitarnya diberikan pekerjaan ringan, kerjaannya hanya membersihkan kebun dan hasil dari kebun itu dinikmati sendiri oleh warga, bukan diambil oleh pemiliknya. Warga di sana justru sangat senang dengan keberadaan beliau dan masjid.

Suatu ketika, jika Puang Busli datang ke Makasar selalu menyempatkan ke kebun kopinya itu, karena beliau sering bolak balik Makasar, Jakarta dan Timika. Ia sering menyempatkan untuk sholat jumat berjamaah bersama pekerja.dan beliau memberikan amplop kepada seluruh jamaahnya setelah selesai sholat berjamaah.

Puang Busli ini tidak menjelaskan secara detail dengan awal mulanya pembangunan masjid di perkampungan itu. Meski demikian, beliau menyayangkan jika ada yang salah tafsir tujuan pembangunan masjid ini, apalagi sampai ada tuduhan sebagai radikal.

Pemilik lahan mengaku merasa resah dengan tudingan tersebut dan mengaku saat ini hanya butuh ketenangan dan dirinya juga meminta agar keberadaan masjid tersebut jangan sampai memunculkan polemik. Karena keberadaan masjid yang letaknya di tengah pegunungan. Pasca ramai di media sosial, sang pemilik sekaligus pendiri masjid ini memilih untuk membatasi komunikasi dengan wartawan atau pengunjung.

Pembangunan masjid ini, ikhlas lillahi ta’ala untuk ibadah masyarakat sekitar dan tidak ada unsur radikal. Karena itu, ia menyayangkan jika disalahtafsirkan untuk tujuan lain. Akhirnya Puang Busli akan menggandeng dan menjalin kerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Gowa untuk memaksimalkan fungsi masjid.

Baca Juga :  Harmoni 3 Budaya di Masjid Agung Palembang

Selain itu DPD WI Gowa, yang akan mengutus salah satu da’i untuk pengelolaan masjid tersebut. Da’i tersebut bernama Andi Tajuddin, ia akan secepatnya datang untuk membantu mengaktifkan Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk anak-anak serta majelis taklim untuk warga setempat dan menjadi imam masjid.

Selain respon yang baik dari DPD WI tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) WI Bontolempangan ikut serta bekerjasama dengan dalam pengontrolan da’i.

Sementara itu Puang Busli mengaku ikhlas membangun masjid tersebut agar bisa dimanfaatkan oleh pegawai dan warga sekitar. Masjid ini sangat terbuka untuk pengelolaan dan pembinaannya, agar ibadah di dalamnya lebih maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close