Masjid Sunan Ampel Surabaya adalah masjid tertua di Jawa Timur.  Berdiri sejak 1421 oleh Sunan Ampel, masjid ini masih berdiri kokoh meskipun merupakan masjid kuno. Masjid ini terletak di Kelurahan Ampel, Kecamtan Semampir, Surabaya. Masjid ini memiliki luas 120 x 180 meter yang jadi satu dengan komplek makam Sunan Ampel. Masjid Sunan Ampel merupakan salah satu objek wisata religi yang ada di Surabaya.

Berdekatan dengan objek wisata ini, terdapat banyak sekali bangunan-bangunan lama  bergaya tiongkok dan Belanda yang berada sepanjang rute menuju kawasan wisata religi Sunan Ampel. Lokasi wisata religi Sunan Ampel tak hanya menawarkan keindahan masjidnya, namun juga nuansa timur tengah yang disajikan tempat ini. Di sana, wisatawan dapat menemukan berbagai toko parfum, oleh-oleh Umroh, Kurma, makanan timur tengah seperti roti Maryam, nasi kebuli dan berbagai toko buku kitab kuning yang akan memanjakan para santri.

Setiap harinya, kawasan ini tidak pernah sepi pengunjung yang datang untuk melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel, mempelajari sejarah Sunan Ampel, dan juga  ada yang datang untuk sekedar singgah dan shalat.

  1. Sejarah Berdirinya

Adalah Raden Rahmatullah, atau Raden Rahmat, seorang alim ulama dari negeri Campa, Kamboja, yang memperoleh izin dari raja Brawijaya untuk menetap dan membangun komunitas muslim di lahan seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya. Dari nama daerah inilah kemudian Raden Rahmat diberi gelar Sunan Ampel.

Di daerah seluas 12 hektar ini, Raden Rahmat mendirikan pesantren Kembang Kuning dan Masjid Ampel sebagai pusat pendidikan dan dakwah di daerah pesisir timur Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan Raden Rahmat banyak mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat sekitar yang kemudian berpindah keyakinan dari sebelumnya menganut agama Hindu atau Budha.

Baca Juga :  IDUL ADHA MENEGUHKAN SOLIDARITAS SOSIAL

Banyaknya masyarakat yang kemudian berpindah keyakinan disebabkan metode dakwah Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang tidak mengintimidasi, simpatik dan tidak ada unsur pemaksaan didalamnya. Sunan Ampel memperkenalkan Islam dengan cara menunjukkan keindahannya melalui budi pekerti yang luhur dan menghargai budaya atau kearifan lokal setempat.

Sejak berdirinya, masjid ini telah dipugar dan diperluas sebanyak 4 kali. Perluasan pertama dilakukan oleh Adipati Regent Raden Aryo pada tahun 1926 M, yang menambah perluasan ke bagian utara. Perluasan ketiga dilakukan setelah masa kemerdekaan, yang mana dibentuk panitia khusus perluasan Masjid Sunan Ampel pada tanggal 30 Agustus 1954 sampai 21 Februari 1958, dengan perluasan bagian utara dan barat. Perluasan keempat dilakukan pada tahun 1974 dengan memperluas lagi kebagian barat. Dengan demikian bangunan yang semula luasnya hanya 2.096 m2, sekarang menjadi 4.780 m2.

2. Arsitektur yang Penuh Makna

Arsitektur Masjid Sunan Ampel banyak didominasi dan sangat kental oleh budaya dan kearifan lokal. Keberadaan gapura, arca atau ukiran khas jawa turut mendominasi keseluruhan arsitektur masjid Sunan Ampel. Dengan indah, masjid Sunan Ampel mengadaptasi nilai-nilai Islam kedalam arsitektur jawa. Salah satu contohnya adalah Gapura atau pintu gerbang, yang konon berasal dari bahasa arab ghafuro yang berarti memohon ampun sebelum memasuki masjid dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Salah satu dari lima gapuro

Saat memasuki masjid, wisatawan akan menemukan lima gapura atau gerbang masuk yang masing-masing memiliki makna terkait Rukun Islam. Yakni gapuro paneksen (kesaksian/syahadat), gapuro madep (menghadap/shalat), ngamal (beramal/zakat), poso (puasa), dan munggah (naik haji).

Saat memasuki halaman masjid, kita dapat menemukan menara masjid yang menjulang dan menambah keagungan masjid tersebut. Menara masjid ini merupakan bangunan asli dan belum pernah direnovasi sejak awal masjid ini dibangun. Masjid Sunan Ampel masih dipertahakan keaslian bangunannya hingga saat ini. Kita bisa melihat tiang-tiang penyangga masjid yang masih sangat kokoh, terbuat dari kayu jati berbentuk bundar dengan diameter 60 cm dan tinggi 17 m. Tiang penyangga seperti ini berjumlah 16 buah dan semuanya masih menyangga bangunan masjid dengan kokohnya. Angka 17 ini menunjukkan jumlah rakaat shalat dalam sehari.

Baca Juga :  The Dome Of The Rock, Bukan Masjid Al Aqsa

Jika kita memperhatikan atap masjid ini, ia memiliki bentuk piramida bersusun tiga, yang mana bentuk ini mengadopsi arsitektur Majapahit. Dalam tradisi Jawa, mereka merepresentasikan gunung yang diyakini sebagai tempat suci. Akan tetapi, terdapat nilai-nilai ajaran Islam dibalik bentuk atap piramid bersusun tiga tersebut. Tiga tingkat dimaknai Islam, Iman dan Ihsan.

Tiga tingkatan makna ini merefleksikan kemampuan keislama seorang muslim. Islam, Iman dan Ihsan adalah inti ajaran agama yang harus dibawa oleh Rasulullah SAW. Untuk menjadi seorang muslim sejati, seseorang harus melaksanakan rukun Islam yang lima, meyakini rukun iman yang enam, dan mampu mengaplikasikan konsep ihsan, yaitu totalitas ibadah dan berserah diir kepada Allah.

Elemen lain dari masjid ini yang juga masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah keberadaan 48 pintu disekeliling tembok. Kesemua pintu ini memiliki lebar 1,5 m dan tinggi 2 m. Bentuk lengkungan diatas pintu-pintu tersebut menunjukkan pengaruh arsitektur Arab. Diantara pintu dan pola lengkungan terdapat ukiran ukiran tembus mirip kipas.

3. Makam Sunan Ampel

Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M, ia dimakamkan disebelah barat masjid yang kemudian hari dibangunlah area pemakaman. Di komplek makam ini juga terdapat beberapa makam lain, yakni Istri Sunan Ampel, Nyai Condrowati, Mbah Sonhaji atau biasa dikenal mbah bolang, ada juga makam Mbah Sholeh dan makam pahlawan nasional yakni K.H Mas Mansur.

Pengelola Komplek Makam Sunan Ampel memberlakukan peraturan yang melarang setiap peziarah untuk melaksanakan shalat di area makam. Hal ini dilakukan untuk menjegah kemusyrikan yang dapat timbul dari kepercayaan-kepercayaan yang menjerumuskan. Karena sejatinya kita hanya berdoa kepada Allah SWT.