Masjid Dan Gereja “Berpelukan” Dalam Hagia Sophia

 Masjid Dan Gereja “Berpelukan” Dalam Hagia Sophia
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Hagia Sophia, atau Sancta Sophia dalam bahasa Latin, memiliki arti kebijaksanaan suci. Hagia Sophia adalah sebuah museum di Istanbul, Turki yang pernah menjadi basilika dan masjid. Tempat ini juga menjadi bukti sejarah kekuatan Sultan Muhammad Al-Fath dalam menaklukkan Konstantinopel. Dalam bahasa Turki Hagia Sophia disebut Aya Sophia.

Pada awal berdirinya, Hagia Sophia adalah sebuah gereja katedral atau basilika yang dibangun pada masa Byzantium. Penguasa yang membangun gereja ini adalah Kaisar Konstantinus, putra Konstantin yang Agung. Dahulu, gereja ini sering mengalami kerusakan karena dihantam oleh gempa. Hagia Sophia tidak mampu menahan goncangan gempa yang sering melanda Konstantinopel meskipun struktur bangunannya telah dibuat sedemikian rupa.

Bagian terpenting dari Hagia Sophia adalah kubahnya yang besar dan tinggi. Kubah ini berdiameter 30 meter dan tinggi 54 meter. Bagian dalam Hagia Sophia dihiasi dengan interior yang berbentuk mozaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni, dan dindingnya dihiasi dengan ukiran.

Pada 7 Mei 558 M, di masa kekuatan Kaisar Justinianus, kubah sebelah timur Hagia runtuh akibat gempa bumi. Kemudian pada 26 Oktober 986, pada masa Kaisar Basil II, bangunan ini kembali terguncang gempa. Oleh sebab itu, pada awal abad ke-14 dilakukan renovasi besar-besaran oleh penguasa Byzantium agar Hagia Sophia tidak mengalami kerusakan lagi jika gempa mengguncang Konstantinopel.

Dua orang arsitek yang paling berjasa dalam membangun kembali Hagia Sophia ketika itu adalah Anthemios dan Isidorus. Melalui tangan dingin keduanya, Hagia Sophia muncul menjadi simbol puncak ketinggian arsitektur Byzantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia dengan konsep baru, setelah mereka mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari kawasan Suriah dan Persia. Keuntungan praktis bentuk kubah yang dikembangkan dari arsitektur Islam ini adalah bahannya yang ringan.

Kedua arsitek ini mengombinasikan konsep kubah dalam arsitektur Islam dalam bentuk bangunan gereja yang memanjang. Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang secara struktur berbeda dari kubah Romawi dan kubah Byzantium. Pada arsitektur Romawi, kubah dibangun di atas denah yang sudah berbentuk lingkaran dan kubah tersebut berada di dalam tembok yang menjulang tinggi sehingga hampir tidak kelihatan. Sedangkan kubah dalam arsitektur Byzantium dibangun d atas struktur berbentuk segitiga melengkung yang menahan kubah dari keempat sisi.

Selama menjadi gereja, salah satu bagian Hagia Sophia terdapat pada pintu masuknya. Di situ terdapat lukisan besar Yesus dengan mahkota berlian, tangan kanannya diangkat memberi berkah dan tangan kirinya memegang sebuah kitab bertuliskan : “Aku adalah terang dunia dengan berkat Tuhan”. Selain itu, tampak juga lukisan Bunda Maria dengan para malaikat.

Menjadi Masjid pada Masa Turki Utsmani
Pada tahun 1453, setelah Konstantinopel direbut oleh Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad II al-Fath, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Ketika memasuki kota pada hari Selasa, 27 Mei 1453, Sultan Muhammad II segera turun dari kudanya dan bersujud untuk menghaturkan rasa Syukur kepada Allah SWT. Setelah itu dia berangkat menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan untuk mengubahnya menjadi masjid.

Sultan Muhammad II pun mengganti nama Hagia Sophia menjadi Aya Sofya, yang kemudian pada hari Jum’atnya langsung digunakan untuk sholat Jum’at. Meski telah mengubah fungsinya menjadi masjid, Sultan Muhammad II tetap membiarkan Hagia Sophia seperti apa adanya ketika masih menjadi gereja. Satu-satunya yang berubah adalah pembangunan menara bagian selatan.

Setelah kekuasaan Muhammad II berakhir, barulah dilakukan berbagai modifikasi terhadap Hagia Sophia. Modifikasi tersebut dilakukan agar Hagia Sophia memiliki gaya dan corak yang sesuai dengan masjid. Pada masa kekuasaan Sultan Salim II (1566-1574) dibangun lagi dua menara tambahan, bagian-bagain bangunan yang identik dengan gereja diubah, diantaranya tanda salib yang terpampang pada puncak kubah diganti dengan hiasan bulan sabit. Penggantian ini sebagai penanda bahwa bangunan tersebut adalah masjid.

Selama hampir 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid, benda-benda seperti patung, salib, dan lukisan sama sekali tidak dihancurkan. Penguasa Turki Utsmani hanya mencopot atau menutupnya dengan cat agar nuansa bangunan ini tetap sesuai dengan masjid pada umumnya sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk.

Mosaik-mosaik Kristiani yang dilapisi emas yang terdapat gambar-gambar Arch Angel, Bunda Maria, dan beberapa orang yang suci ditutup dengan plester dinding baru. Sedangkan lonceng dan altar dicopot dan kemudian ditambah kaligrafi – kaligrafi Islami, seperti kaligrafi lafal Allah SWT, Muhammad SW dan empat Khalifah Rasyidin.

Salah satu kaligrafi yang paling menarik perhatian terdapat di pintu keluar geddung yang sekarang menjadi museum itu. Di situ tertulis sebuah Hadist Nabi Muhammad SAW yang menerangkan bahwa suatu saat Konstantinopel akan takluk di bawah kekuasaan Islam. Ratusan tahun kemudian hadist tersebut terbukti kebenarannya pada masa Sultan Muhammad al-Fatih.

Selama menjadi masjid, Hagia Sophia terus mengalami perkembangan, baik dari sisi bangunan fisik, maupun fungsinya. Selain membangun beberapa menara disekelilingnya, penguasa Turki Utsmani juga membuat mimbar tempat khatib berkhutbah, mihrab tempat sultan mengaji dan beribadah, tempat mudhu, serta madrasah sebagai tempat orang belajar agama dan Al-Qur’an.

Menjadi Museum
Pada pertengahan abad ke-19, Turki Utsmani mulai melemah akibat berbagai masalah internal maupun eksternal. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Mustafa Kemal Ataturk untuk mengubah sistem pemerintahan Turki dari khalifah menjadi republik. Turki pun menjadi negara republik pada abad ke-20.

Pada tahun 1935, Ataturk yang terpilih menjadi presiden Turki pertama mengubha Hagia Sophia menjadi museum. Sejak saat itu, terjadi perubahan yang sangat mencolok pada Hagia Sophia. Dinding-dinding yang menutupi hiasan-hiasan kristen dibongkar dan diperbaiki kembali sehingga figur dari dua agama berbeda yang terdapat di dalam Hagia Sophia terlihat jelas, sebagaimana yang terdapat di sekitar mimbar.

Di tempat itu tampak jelas gambar Bunda Maria yang sedang memangku Nabi Isa (Yesus) di antara kaligrafi Muhammad dan Allah. Selain itu juga terdapat gambar Arch Angel di beberapa sudut kubsh. Sedangkan di lantai dua dari bangunan megah ini tampak jelas beberapa figur Kristiani, seperti kuburan Saint Irene dan John, Yesus dan Bunda Maria yang dilapisi emas.

Pada awal abad ke-21, museum Hagia Sophia direnovasi pada beberapa bagian terutama di kubah utamanya. Renovasi yang dilakukan pemerintah Turki ini untuk mempersiapkan Istanbul sebagai pusat kebudayaan Eropa pada tahun 2010.

Sebagai bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, Museum Hagia Sophia tidak pernah sepi dari pengunjung. Para wisatawan berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Biaya untuk memasuki museum ini lumayan mahal untuk ukuran Indonesia. Setiap pengunjung diharuskan membayar tiket masuk sebesar 20 lira Turki (sekitar 140 ribu, dengan kurs 1 lira = 7 ribu).

Hagia Sophia meupakan salah satu bangunan kebanggaan masyarakat muslim di Istanbul. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan setiap pengunjung. Jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap rasanya tanpa melihat kemegahan bangunan in. Selain keindahan interior, daya tarik bangunan ini tentu saja terdapat pada nilai sejarahnya. Disinilah simbol pertarungan antara Islam dan Kristen, termasuk di dalamnya pertarungan nilai-nilai Islam dan nilai-nilai sekularisme setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani.

Sejak dialihfungsikan menjadi museum, pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada hagia Sophia. Langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi sengaja dikelupas sehingga mosaik-mosaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen kembali terlihat dan berdampingan dengan tulisan-tulisan kaligrafi.

Inspirasi Arsitektur Islam
Arsitektur Islam identik dengan arsitektur sebuah masjid. Kemajuan arsitektur Islam seiring dengan perkembangan arsitektur masjid. Salah satu masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh para arsitek muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah kekuasaan Islam adalah Masjid Hagia Sophia.

Desain dan corak bangunan Hagia Sophia menjadi inspirasi utama bagi Sinan (1489-1588), seorang arsitek terkenal dari Turki, dalam membangun masjid. Sinan adalah arsitek yang ditunjuk oleh pemerintah Turki Utsmani dan memiliki posisi yang setara dengan menteri. Kubah besar Hagia Sophia diadopsi oleh arsitek muslim lainnya untuk membangun masjid, misalnya Masjid Biru dan Masjid Raya Sulaiman.

Peninggalan Khalifah Utsmani
Di dalam Hagia Sophia terdapat surat-surat dari para khalifah Turki Utsmani yang berisi jaminan, perlindungan dan janji pemerintah untuk memakmurkan warganya ataupun orang-orang asing yang mencaru suaka. Terdapat sekitar 10 ribu sampel surat yang ditujukan kepada maupun yang dikeluarkan oleh Khalifah.

Surat yang paling tua berisi sertifikat tanah untuk para pengungsi Yahudi pada tahun 1519, yang lari dari inkuisi Kerajaan Kristen Spanyol setelah jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia. Selain itu, juga terdapat surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirimkan khalifah kepada negara tersebut pasca-Revolusi Amerika abad ke-18.

Surat lain yang cukup penting adalah jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia pada 7 Agustus 1709, serta surat yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang beremigrasi ke Rusia pada tanggal 5 September 1865. Meskipun belakangan mereka kembali ke Turki Utsmani. Selain itu, di Hagia Sophia juga tersimpan surat khalifah yang berisi peraturan bebas cukai terhadap barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari suaka ke wilayah Turki Utsmani pasca-Revolusi Bolshevik tanggal 25 Desember 1920.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 1 =