Mamluk, Budak Kelas Kesatria dan Juru Gedor Perang

 Mamluk, Budak Kelas Kesatria dan Juru Gedor Perang

Karakteristik Dinasti Mamluk (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Jauh sebelum menjadi Dinasti tersendiri, dalam sejarahnya keberadaan Mamluk yang merupakan para budak dari kelas kesatria ini telah menempati posisi khusus. Dengan kekuatan fisik yang dimiliki serta kemampuan berperang membuat budak-budak dari Turki ini menjadi primadona sebagai juru gedor penguasa Islam.

Dr. Muhammad Suhail Thaqqus dalam bukunya berjudul “Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Mamluk” menjelaskan. Bahwa pelabelan kata Mamluk mulai populer dan dikenal ke publik ketika pada masa Dinasti Abbasiyah.¬†khususnya ketika era Makmun (813-833 M) dan kemudian dilanjutkan lagi di era Al-Mu’tashim (833-842 M).

“Kata ini menjadi istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok budak kulit putih,” jelasnya, dikutip Kamis (24/12/2020).

Saat itu tren yang berkembang di Abbasiyah adalah para Khalifah, para panglima besar dan para gubernur banyak membeli Mamluk dari pasar-pasar budak kulit putih.

Tujuan pembelian ini untuk digunakan membentuk kelompok-kelompok pasukan militer khusus, dengan tujuan menjadikan mereka sebagai penopang untuk memperkuat pengaruh mereka.

Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah, khusunya era kepemimpinan Al-Mu’tashim merupakan penguasa pertama Islam yang memanfaatkan jasa dari unsur Turki, yakni Mamluk.

Hal itu mengingat kemampuan tempur mereka yang dinilai istimewa. Bahkan, pasukan pengawal dari bangsa Turki ini menjadi salah satu pilar kekhalifahan selama pemerintahannya.

Bahkan Al-Mu’tashim sudah mulai “mengoleksi” mereka sejak masih menjadi pangeran. Setiap tahun, ia mengirim orang untuk membeli para Mamluk, hingga dia berhasil memiliki sekitar 3.000an Mamluk pada masa kekhalifaan Al-Ma’mun.

Al-Mu’tashim Naik Tahta

Kemudian Al-Mu’tashim naik tahta kekhalifaan di tengah situasi dan kondisi yang penuh dengan konflik yang sangat tajam antara orang Arab di satu sisi dan orang Persia di sisi lain, ditambah dengan terjadinya ketidakseimbangan antara elemen-elemen yang membentuk kekhalifahan Abbasiyah.

Al-Mu’tashim sendiri tidak tertarik kepada unsur-unsur Arab dan tidak mempercayai mereka, mengingat sikap mereka yang dinilai suka berubah-ubah dan tidak pro kepada khalifah.

Hal itu ditambah lagi dengan kenyataan bahwa unsur Arab waktu itu telah kehilangan sebagian besar elemen-elemen kekuatan politik dan militer mereka, sehingga mereka menjadi kirang begitu penting dan lemah daya tawarnya.

“Fakta-fakta itu mendorong Al-Mu’tashim mempercayakan keamanan pribadinya kepada sekelompok orang dari unsur Turki (Mamluk),” kata Suhail Thaqqus.

Hal ini karena karakteristik psikologis dan karakteristik fisik dari budak-budak kulit putih ini dikenal kuat dan berani. Selain itu tubuh kekar yang dimiliki oleh unsur Turki ini tersebut cocok dengan karakteristik orang-orang Turki sebagai sebuah bangsa Barbar yang kuat dan suka berperang.

“Unsur Turki ini pada akhirnya memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan politik dan sosial, meskipun bangsa Turki bukanlah bangsa yang memiliki peradaban Kuno,” ungkpanya.

Al-Mu’tashim Membeli Pasukan Turki

Al-Mu’tashim membeli orang-orang Turki dalam jumlah besar dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh Arab dan Persia. Pada waktu yang sama, dia juga menyadari pentingnya peran dan keberadaan mereka di sisinya.

“Bahkan, jumlah Mamluk Turki yang dimiliki Al-Mu’tashim mencapai angka 8.000an orang. Ada yang bilang 18.000an orang. Al-Mu’tashim memberi mereka pengaruh dan wewenang yang spesial, menyerahkan kepemimpinan pasukan kepada mereka. Memberi mereka kekuasaan dan menyediakan mereka posisi strategis dan tinggi dalam dunia politik,” jelasnya.

Sebagai informasi, kata Mamluk dalam bahasa Arab adalah bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah Mamalik yang secara bahasa artinya seorang budak yang ditawan. Dengan kata lain Mamluk adalah budak belian dari kasta kesatria yang dimiliki oleh khalifah Islam yang berkuasa.

Meskipun para Mamluk adalah belian namun status mereka di atas budak biasa. Jika budak biasa tidak diperkenankan membawa senjata dan juga dilarang melakukan aktivitas tertentu. Sebaliknya mereka dipersenjatai dan diberikan kepercayaan untuk memimpin pasukannya sendiri.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − 12 =