Hadis

Maksud Hadis, “Permudahlah Jangan Dipersulit”

HIDAYATUNA.COM – Islam adalah agama yang mudah dan berasal dari Dzat yang murah kasih, Maha Penerima dan Pengampun. Dalam menjalankan segala aktiftasnya manusia memiliki beban syariatnya sebagai pengikut Rasulullah, kepemurahan Allah tersebut banyak disebutkan dalam ayat-ayat al-Quran maupun hadis Nabi, Ketika seseorang kesulitan dalam menjalankan anjuran syariat, maka Allah meringankan, Allah gantikan dengan yang lebih mudah bahkan kadang Allah bebaskan kewajibannya. Yang menjadikan agama ini terlihat sulit dan memberatkan itu sendiri terkadang sikap kita sebagai seorang muslim yang memahami, agama dengan penuh kesukaran dan mengekang. Padahal dalam sebuah hadis di sebutakan bahwa.

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu At Tayyah dia berkata; saya mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kalian mempersulitnya, buatlah mereka tenang dan jangan membuat mereka lari.” (HR. Bukhari: 5660)

            يَسِّرُوا (permudahlah) ini adalah perintah memberi kemudahan. Maksudnya adalah kemudahan biasanya bersamaan dengan rasa tenang.  Karena bisanya sesuatu yang diiringi dengan kesulitan adatnya membuat orang menghindarinya. Begitu juga dengan pembawa kabar gembira, biasanya berangkatnya dari rasa mempermudah membawa ketenangan. Tidak ada kabar gembira yang membuat orang semakin lari darinya, kalaupun ada itu berarti bukan kabar Bahagia, tapi kabar buruk, karena membuat orang lari, menjauh dan menghindarinya.

Menurut ath-Thabari, “maksud perintah mempermudah adalah berkenaan dengan hal-hal sunah yang dirasa memberatkan, agar yang melaksanakan tidak merasa bosan atau keberatan, yang akhirnya dapat membuatnya lari meninggalkan dan malah tidak mengamalkan sama sekali, atau ia menjadi bangga dengan amalannya sendiri sehingga tidak mau melakukan hal-hal wajib yang diberi keringanan, seperti contoh shalat fardhu sambal duduk boleh dilakukan bagi orang yang tidak mampu, atau orang yang tidak berpuasa fardhu Ketika lagi berpergian, hal ini boleh dilakukan, karena kalau saja tetap memaksakan melaksanakan sebagaimana mestinnya dapat menjadi kesulitan baginya.

Baca Juga :  Bagaimana Malu Menjadi Tanda Keimanan Seseorang

Lebih lanjut, Rasulullah mempermudah ketentuan syariat yang dilakukan oleh umatnya dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap syariat yang dibawa Nabi pasti mampu diamalkan oleh umatnya, jika syariat tersebut tidak dapat sempurna diamalkan oleh umatnya, baik itu karena ketidak mungkinan fisik, dll. Maka ada cara lain yang dapat digunakan unutk menghindari masyaqqat (beban berat) yang sulit dilakukan, misalnya dengan cara rukhshah. Bahkan Nabi pernah marah kepada sahabat-sahabatnya yang memaksakan untuk melakukan ketentuan syariat bagi orang yang sakit disamakan sebagaimana orang sehat umumnya. Padahal pemaksaan itu dapat mejadikan sakitnya semakin parah, ataupun menjadikan orang yang sakit merasa menjadi Islam cukup sukar dan memberatkan, dan akhirnya malah lari dari Agama yang dibawa Nabi,

 Kalau disuruh memilih, Rasulullah selalu memilih yang paling mudah bagi umatnya selama itu tidak mengandung dosa. Bila mengandung dosa, maka Rasulullah adalah manusia pertama yang paling menghindarinya. Dalam Shahih Muslim pada Riwayat Jabir disebutkan Rasulullah bersabda “ Allah tidak mengutusku untuk menyusahkan dan tidak pula membuat bingung, tetapi Allah mengutusku untuk mengajarkan dan memudahkan”

Dalam sebuah Riwayat lain dari al Zaraq bin Qais, diceritakan, Ketika kami berada di tepi sungai di Ahwaz yang airnya sedang surut, datang seorang Abu Bahzah al Aslami dengan kudanya, kemudian dia shalat. Dalam kondisi shalat itu kudanya lepas, Abu Bahzar mengejarnya dengan meninggalkan shalatnya, setelah kuda itu tertangkap, dia mengganti shalat yang ditinggalkannya tadi. Dan diantara rombongan al Zaraq bin Qais. Ada seorang laki-laki yang berpandangan “lihatlah syaikh itu dia meninggalkan shalatnya hanya karena kudanya lepas” kemudian Abu Bahzar berkata. “aku tidak pernah dicela seorangpun sejak berpisah dengan Rasul, dan sesungguhnya rumahku cukup jauh, jika aku lanjutkan shalat dan membiarkan kudaku kabur, maka aku tidak akan sampai rumah hingga larut malam” kemudian dia menceritakan dirinya sewaktu menyertai Nabi, dan melihat sikap beliau yang mempermudah”

Baca Juga :  Dhaifnya Hadis ‘Surga Ditelapak Kaki Ibu’

Kejanggalan hari ini adalah, ghirah keagamaan yang tinggi menjadikan manusia mempersulit dirinya sendiri, melakukan ibadah muamalah inginnya presisi sebagaimana apa yang dilakukan Nabi dulu, tidak mentolerir perbedaan yang masih sama-sama dalam naungan nas dan syariat, padahal berubahnya zaman memungkinkan semakin mudahnya manusia menjalani kehidupannya.

Pada hadis ini terdapat pembelajaran bahwa berlerbihan dalam ibadah dan selainnya adalah perbuatan yang tercela, Adapun yang baik adalah segala sesuatunya dilakukan secara berkesinambungan, seimbang, karena segala sesuatu yang berlebihan dapat membawa pelakunya pada sifat-sifat membanggakan diri jika itu perbuatan baik, jika itu perbuatan buruk maka itu dapat membawa pada kebinasaan bagi pelakunya. Wallahu A’lam

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close