Makna dan Penjelasan Waktu Imsak yang Sesungguhnya

 Makna dan Penjelasan Waktu Imsak yang Sesungguhnya

Waktu Imsak (Ilustrasi/Hidaytauna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Saya geli setiap Ramadhan selalu disuguhi artikel atau video yang memprotes waktu imsak dalam jadwal imsakiyah kita. Katanya, waktu imsak di Indonesia itu salah karena seharusnya imsak itu saat subuh tiba, bukan sepuluh menit sebelumnya.

Kenapa geli? Sebab hal semacam ini seharusnya dipahami oleh penulis tingkat pemula sekali pun. Mahasiswa S1 semester awal, bahkan anak sekolah sekali pun diajari, bahwa sebelum menulis suatu tema harus jelas dulu definisinya.

Definisi itu sendiri berbeda-beda aspeknya. Ada aspek bahasa dan ada pula aspek istilah.

Aspek istilah juga berbeda-beda, tergantung istilah dalam konteks apa dan di mana istilah itu berlaku. Ini harus jelas dulu sebelum pembahasan apa pun dimulai.

Soal istilah imsak pun demikian. Kita harus tahu bahwa istilah imsak itu banyak artinya:

  1. Imsak dalam arti tidak berbicara.
  2. Imsak dalam arti menahan apa pun secara umum.
  3. Imsak dalam arti memulai puasa.
  4. Imsak dalam arti waktu persiapan 10 menit sebelum subuh.

Latah Menerbitkan Jadwal Imsak

Semua itu adalah istilah imsak yang berlaku secara umum, tidak ada yang salah darinya. Namanya saja istilah, terserah masyarakat mau membuat istilah apa, yang penting sama-sama paham.

Semua orang yang membuat jadwal imsakiyah Ramadhan. Mulai dari orang Kementerian Agama, Lajnah Falakiyah ormas tertentu, Mahasiswa Astronomi, atau apa pun yang biasa menerbitkan jadwal salat.

Semuanya paham, bahwa kata imsak dalam jadwal mereka adalah makna keempat, yakni waktu persiapan untuk berpuasa 10 menit sebelum dimulai. Bukan makna ketiga yakni subuh itu sendiri yang memang batas dimulainya puasa.

Kenapa namanya kok imsak? Ya, terserah masyarakat mau dikasih nama apa. Kalau tak suka istilahnya karena merasa rancu dengan makna “imsak” yang beragam, maka silakan diganti saja dengan istilah lain.

Hanya saja, kalau ada yang salah paham dan merasa rancu, maka semestinya dia bertanya pada yang paham. Lucunya di negeri ini, yang salah paham dan merasa rancu pada istilah imsak, justru menyalahkan pemakai dan pembuat istilah tersebut—yang paham betul maksudnya.

Kenapa kok 10 menit? Ya, terserah juga orang mau menentukan waktu persiapan berapa menit. Lha wong cuma persiapan untuk ibadah, kok dipermasalahkan.

Imsak Hanya sebagai Tanda Untuk Bersiap-siap Salat

Selama ini di berbagai acara lumrah sekali ada aturan “harap hadir 10 menit sebelum acara dimulai”. Masak mau kita gugat kenapa kok 10 menit? Kenapa bukan 5 menit? Kenapa bukan 15 menit atau kenapa masih diberi waktu persiapan segala? Terlalu kekanak-kanakan mempermasalahkan hal semacam ini.

Apalagi bagi yang paham aturan dalam membuat jadwal salat, maka hal semacam ini sangat penting. Semua jadwal salat yang ditulis itu sudah diberi waktu ihtiyath (waktu berhati-hati).

Waktu tersebut sudah ditentukan selama 1-2 menit, agar siapa pun yang memakainya tidak sampai salat sebelum masuk waktu.

Bisa dibayangkan bagaimana beban dosa dan beban moral pembuat jadwal salat apabila ternyata hitungannya sedikit meleset sehingga salat orang tidak sah.

Oleh karena itu, apabila misalnya waktu subuh dalam perhitungan aslinya jam 4:12:35 (jam empat 12 menit 35 detik), maka akan ditulis sebagai jam 4:14. Pembulatan hingga dua menit ini untuk berhati-hati.

Imsak dari Ilmu Fikih

Nah, dalam kasus puasa pembulatan itu justru menjadi dilema. Sebab mereka tahu betul bahwa waktu subuh dalam perhitungan asli mereka dimulai 1-2 menit sebelum waktu yang mereka tulis di jadwal.

Jadi, prinsip ihtiyath dalam salat adalah agar waktunya dimundurkan sedikit, tetapi ihtiyath dalam puasa justru agar dimajukan sedikit. Maka dari itu, dimunculkanlah waktu imsak sebagai pengejawantahan prinsip ihtiyath dalam berpuasa tersebut.

Masyarakat seolah diberi pesan bahwa waktu subuh yang dilarang makan sudah hampir masuk 10 menit lagi. Jadi, sebaiknya sekarang mulai bersiap-siap dulu, jangan mepet agar sempurna puasanya.

Dari sisi fikih, dalam sebuah hadis pun kita dapati bahwa Nabi Muhammad memberi jeda sepanjang bacaan 50 ayat antara makan sahurnya dan adzan subuh. Itu artinya beliau bersiap-siap dahulu untuk menyambut puasa dengan cara tidak makan sahur saat detik-detik menjelang adzan.

Ini adalah dalil yang cukup untuk dijadikan sebagai patokan kondisi ideal kapan waktunya berhenti sahur. 50 ayat tersebut kalau dihitung dengan menit kurang lebih 5-10 menit, tergantung panjang ayatnya dan kecepatan membacanya.

Lain lagi ceritanya bila konteksnya sedang tidak ideal, seperti misalnya telat bangun untuk sahur. Tentu tidak masalah meskipun sahur di menit terakhir, yang penting belum masuk waktu subuh.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fourteen − 3 =