Mahasiswa Indonesia Sidang Doktoral di Leiden Pakai Sarung dan Kopyah

 Mahasiswa Indonesia Sidang Doktoral di Leiden Pakai Sarung dan Kopyah

Ilustrasi/Hidayatuna

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Seorang mahasiswa S3 asal Indonesia, Fachrizal Afandi mencatatkan sejarah di Belanda. Lantaran dirinya menjalani sidang doktoral di Leiden dengan mengenakan sarung dan kopyah serta dipadu memakai jas tuksedo hitam, Kamis (21/1/2021).

Di hadapan para proffesor Leiden, pakaian yang dikenakan Fachrizal Afandi ini jelas merupakan hal yang tidak lumrah. Khususnya dalam tradisi promosi-promosi doktoral selama ini di Negara Kincir Angin tersebut.

Namun apa yang dilakukan pria asal Malang kelahiran 1981 ini bukan berarti tanpa alasan. Alumni Podok Pesantren Ilmu Al Quran Malang dan Madrasah Aliyah Al Ma’arif Singosari itu mengaku terinspirasi dari sosok Husein Djajadiningrat. Yakni priyayi Jawa peraih gelar doktor pertama di Leiden tahun 1910.

Dimana dulu saat mendapatkan gelar doktoralnya, Husein Djajadiningrat dengan sangat gagah dan bangganya mengenakan identitas pakaian khas Jawa. Yakni ia memakai blangkon, beskap serta keris yang menyelinap di balik pinggangnya saat promosi doktoralnya.

“Dari awal kuliah sudah pengen pakai sarung dan kopiah saat ujian nanti. Inspirasi saat lihat patung Husein Jayadiningrat,. PhD dari priayi Jawa pertama di Leiden,” ujar Afandi dilansir dari Alif.id, Senin (25/1/2021).

Memadukan Pakaian Khas Jawa Ala Santri

“Saya lihat meski banyak teman-teman mahsiswa islamic studies di Leiden, tapi kok ndak pernah menunjukkan tradisi santri berupa kopyah dan sarung ini. Meski saya kuliah hukum, tapi keterlibatan di NU mendorong saya untuk promosi tradisi santri ini.” Demikian diungkap pria yang aktif mengurus PCI NU Belanda.

Mahasiswa Indonesia di Leiden
Sumber Twitter

Ia mengaku saat izin ke pihak Universitas, dirinya ingin memakai pakaian mirip Husein Djajadiningrat. Tapi pakaian yang ia kenakan adalah pakaian ala santri. Untuk semakin mempertegas identitas Indonesia, sengaja ia memilih sarung bermotif batik dengan merek La Gurda, yang diporduksi oleh Pesantren Al-Muayyad Solo, Jawa Tengah.

“Saya memilih batik karena pernah melihat Gus Mus mengenakannya,” katanya.

Apa yang ditampilkan Afandi dalam promosi doktoralnya di Leiden ini merupakan hal pertama dalam sejarah setelah Indonesia merdeka. Sebelumnya pernah dilakukan oleh Husein Djajadiningrat dengan pakaian khas Jawa, tapi sebelum Indonesia merdeka.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 + seven =