Luasnya Masjid, Sempitinya Fungsi dan Fenomena Ekstrimisme

 Luasnya Masjid, Sempitinya Fungsi dan Fenomena Ekstrimisme

Masjid, Kontestasi Ruang di Era Global (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Jika Tuan dan Puan mendengan kata “masjid”, apa kira-kira yang muncul dari benak pikiran Anda? Barangkali yang muncul adalah “agama Islam” dan “tempat beribadah”. Itu tentu benar.

Akan tetapi sebenarnya, ketika kita mendengar kata “masjid”, kita bisa melahirkan pikiran-pikiran yang berhubungan denganya. Misalnya saja masjid adalah tempat belajar, mengajar atau pun yang lainnya, tinggal kita sesuaikan dengan makna atau fungsinya. Itu berarti Masjid mempunyai makna dan fungsi yang begitu kompleks.

Kompleksitasnya itu bisa kita lihat melalui perspektif Islam misalnya, mengenai Masjid sebenarnya telah digambarkan dalam sebuah hadis yang artinya:

“Aku diberi lima hal yang diberikan kepada seorang pun sebelumku: aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai mesjid dan suci. Siapa pun dari umatku yang menjumpai waktu salat, maka salatlah…”(HR Bukhori)

Saya kira, maknanya itu betul. Bahwa setiap tempat, di mana pun itu yang terpenting suci dan kondusif, yang dijadikan tempat untuk salat boleh kita sebut sebagai masjid. Hal itu, seperti apa yang telah disabdakan Rasulullah Saw, bahwa bumi adalah masjid bagi umat Islam.

Terlepas dari pemaknaan-pemaknaan itu semua, mari kita coba sedikit menganalisis masjid di zaman Rasulullah dan di masa kita kini. Makna dan fungsinya apakah berbeda?

Masjid di Masa Rasulullah

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Masjid ini dibangun saat beliau tiba di Yatsrib, Madinah (QS 9: 108, At Taubah), masjid itu pun hingga kini masih kokoh berdiri di Kota Madinah, Arab Saudi.

Pada 18 Rabiul Awal tahun pertama Hijriah, Nabi Muhammad Saw bersama-sama para sahabat mendirikan masjid ke dua yaitu Masjid Nabawi. Masjid itu dikabarkan menyatu dengan kediaman beliau Saw.

Masjid Nabawi di masa itu bentuknya sangat sederhana. Hanya terbuat dengan berdidinding batu bata, batang kurma untuk tiang, dan pelepah kurma untuk atapnya.

Di masjid itulah Rasulullah menjadikannya sebagai tempat mengajarkan Islam, menyampaikan nasihat kepada umat Islam. Beliau juga menjadikan masjid sebagai tempat memutuskan persengketaan-persengketaan di kalangan umat.

Di masjid pula, Rasulullah melakukan muasyawarah dengan para sahabat, sampai-sampai mengatur siasat perang dan siasat bernegara pun di Masjid.

Maka, boleh saya katakan bahwa, Masjid di masa Rasulullah menjadi tempat yang istimewa meski faktanya hanya biasa. Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi fungsi masjid menjadi kentara, terbukti hal-hal diluar ibadah pun dilakukan di masjid itu.

Ketika Tuan dan Puan melihat itu, coba bandingkan dengan masjid di masa kini. Bagaimana maknanya maupun fungsinya?

Masjid di Masa Kini

Boleh jadi, kalau kita bandingkan dengan makna dan fungsi masjid di masa Rasulullah Saw dengan masjid di era sekarang ini, maka akan tampak jelas perbedaan perbedaanya. Dalam hal struktur bangunan misalnya, pada jaman Rasulullah Saw masjid hanya terbuat dari bahan apa adanya dan itu pun sedikit kuantitas masjidnya.

Tetapi di jaman sekarang ini, coba Tuan dan Puan lihat, bahwa masjid sangat jarang bahkan hampir tidak ada yang jelek. Bahkan semuanya bagus, mewah dan megah, lengkap dengan fasilitas yang memadai. Hal ini terlepas kondisi yang mana pada saat ini memang jaman modern, ya.

Selain itu, ada hal yang membedakan dan kadang kala kalau kita rasakan begitu memprihatinkan. Pasalnya, masjid di jaman Rasulullah Saw meskipun kecil dan fasilitasnya pun tidak se-wah sekarang ini, tetapi makna dan fungsinya luar biasa “luasnya”.

Masjid di Jaman Rasulullah Saw dimaknai tidak hanya sebagai rumah ibadah, melainkan dimaknai sebagai tempat untuk menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil’alamin. Selain itu juga sebagai tempat bermusyawarah dalam mengurusi ke-negaraan, atau bahkan tempat di mana untuk terus memikirkan umat manusia, selain itu juga masih banyak lagi fungsinya.

Berbeda dengan sekarang, Tuan dan Puan bisa melihatnya sendiri. Makna dan fungsi masjid, kini tampak sekali hanya sebatas sebagai rumah ibadah atau hanya sekadar untuk salat berjemaah. Itu pun hanya bagi orang-orang yang mau ke masjid.

Kalau kita lihat dalam kurun satu tahun saja misalnya, bisa kita lihat, masjid biasa ramai pada hari Jumat atau hari-hari besar saja, atau di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan pun, pasti masjid ramai dan penuh hanya di awal bulan saja, seterusnya jemaah pasti akan berkurang.

Masjid Bukan Tempat Menebar Intoleransi dan Ekstrimisme

Terlepas dari itu, meskipun dalam hal ini masih ada beberapa masjid yang ramai untuk kegiatan belajar mengajar atau majlis ta’lim lainnya. Kalau pun ada yang tetap meramaikan masjid, boleh jadi berbeda fungsi.

Bisa saja, fungsinya tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga difungsikan sebagai tempat menebar budaya intoleransi yang melaju pada ekstrimisme, kekerasan atau sejenisnya. Inilah yang mengakibatkan perpecahan umat Islam khususunya, dan perpecahan Indonesia pada umumnya.

Mengenai hal itu, Tuan dan Puan bisa melihat dari sebuah Masjid Finsbury Park namanya, melansir dari bbc.com (20/06/17). Masjid yang beralamat di 7-11 St. Thomas’s Road itu terkenal sebagai tempat Abu Hamzah al-Masri yang berceramah tetapi menyebarkan kebencian. Masjid ini juga dikenal sebagai tempat yang mendukung berbagai kegiatan radikal lain.

Fenomena demikian sungguh ironis dan mengerikan yang harus kita jauhi benar-benar, tetapi jangan lupa untuk menjadikan sebuah pelajaran penting. Sebab, masjid yang seharusnya difungsikan sebagai tempat menebarkan kasih sayang yang sesuai dengan ajaran agama islam, tetapi justru yang disebarkan jauh dari ajaran agama Islam itu sendiri.

Harus kita waspadai, bahwa hal itu tidak menutup kemungkinan juga bisa saja terjadi di masjid-masjid Indonesia. Boleh lah, kita kini sedikit jernih dalam melihat betapa carut-marut bangsa kita, yang boleh jadi, itu dilahirkan dari sebuah sikap intoleransi dan ekstrimisme yang masif tersebar melalui mimbar-mimbar masjid.

Mengembalikan Fungsi Masjid Sebagaimana Rasulullah

Oleh sebab itu, ini harus kita sadari dan resapi betul, agar kita selalu sadar bahwa fungsi masjid harus kita kembalikan seperti cita-cita Islam. Sebagaimana yang sudah ditanamkan oleh Rasulullah Saw yaitu tempat menabarkan kasih sayang.

Sebagai pungkasan, mari untuk seluruhnya, memakmurkan masjid dan melestarikah khazanah yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw pada waktu itu. Hal itu sangat perlu dan penting agar masjid tetap ramai, dan juga selain menjadi tempat beribadah, agar menjadi tempat penyebaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Jangan biarkan masjid menjadi sebuah tempat untuk para penebar intoleransi dan ektrimisme. Tidak etis rasanya, masjid yang kini mewah dan megah, lengkap dengan sagala fasilitas kok malah menjadi tempat mengerikan. Jangan sampai.

Tidak lain hal ini demi tercapainya cita-cita Islam dan bangsa Indonesia kita, yakni rukun dan damai, menjalani hidup dalam keberagaman. Semoga.

Tabik.

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seven + two =