Cancel Preloader

Liburan ke Dalam Diri: Refleksi Akhir Tahun di Tengah Pandemi

 Liburan ke Dalam Diri: Refleksi Akhir Tahun di Tengah Pandemi

Merayakan Tahun Baru

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Mengobati kejenuhan di akhir tahun dengan liburan, sejenak dapat menyegarkan pikiran. Apalagi setelah melewati tahun yang penuh dengan cobaan dan kesulitan pandemi.

Wacana liburan pun mulai terbayang-bayang melalui berbagai macam hiburan. Mulai dari membaca buku, menonton film, melukis, bermain playstation, meng-cover lagu, hingga berlibur ke tempat wisata.

Namun yang tidak disadari banyak manusia untuk menyegarkan pikiran, semestinya tidak selalu diobati dengan berlibur ke luar diri. Anda wajib mencoba liburan ke dalam diri sendiri.

Allah SWT. telah menganugerahkan akal dan hati kepada setiap hamba. Kita pun diberi “fasilitas” untuk berlibur ke dalam diri; yang tentunya bisa dilakukan di mana saja & kapan saja. Dengan harga yang tak perlu dibeli, hanya bermodal logika dan intuisi.

Liburan ke Dalam Diri Mengilhami Jagat Kecil Manusia

Dalam istilah Maulana Rumi, manusia dikenal sebagai alam shogir atau jagat kecil. Sementara alam semesta disebut sebagai alam kabir atau jagat besar.

Mungkin sudah terlampau sering kita mempelajari bagaimana untuk memahami jagat besar yang sejatinya berada di luar diri kita. Namun bisa jadi sangat jarang perhatian kita terhadap jagat kecil yaitu diri kita sendiri, sehingga hasil pemahaman yang didapatkan hanyalah berupa bayangan atau angan-angan semata.

Sebuah ungkapan yang masyhur di kalangan praktisi tasawuf, yang lebih menyuruh kita untuk senantiasa bermuhasabah adalah “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Ini merupakan narasi yang memperingatkan kita agar tidak lupa bahwa  mengenali diri sudah menjadi keperluan guna mengevaluasi semua kejadian di masa lalu, untuk kemudian menjadikannya cerminan di masa yang akan datang.

Karena pada dasarnya siapa yang telah menguasai jagat kecil (dirinya sendiri), maka ia akan dapat menguasai jagat besar (alam semesta). Inilah pentingnya liburan ke dalam diri sehingga kita dapat menguasai jagat kecil dalam diri sendiri.

Introspeksi Diri

Liburan ke dalam diri dapat kita mulai dari mengingat-ingat apa saja yang telah kita perbuat. Sarana atau media yang telah Allah SWT berikan, sudah sepatutnya kah kita gunakan?

Allah SWT memberi akal, sudahkah kita manfaatkan untuk memikirkan kemaslahatan dan kemanfaatan? Allah SWT memberi mata, sudahkah kita manfaatkan untuk melihat sesuatu dengan pandangan kebijaksanaan? Allah SWT memberi telinga, kaki dan tangan; sudahkah kita manfaatkan untuk mendengar kebaikan yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan?

Kemudian Allah SWT memberikan hati, sudahkah kita bersyukur atas jutaan nikmat yang setiap hari diberikan? Atau sekadar berempati pada orang lain yang terkena musibah? Atau menyemangati orang-orang yang hampir menyerah?

Semua itu merupakan “wahana-wahana” yang mesti kita kunjungi ketika berlibur ke dalam diri. Jika liburan ke luar dapat menghilangkan rasa bosan sesekali, maka liburan ke dalam dapat meningkatkan pemahaman akan hakikat diri. Karena sejatinya mereka yang dapat memahami keadaan dirinya, maka akan dapat pula memahami Tuhannya.

Liburan ke Diri Sendiri

Dalam sebuah pernyataan, Yogananda mengulas sebuah puisi Omar Khoyyam mengenai kesadaran jiwa. Ia menyatakan “Sejak awal kehidupan rohanimu, jangan pernah berhenti berusaha! Tetaplah selalu memfokuskan diri pada dorongan-dorongan awal dan kuat dalam kerinduan Ilahi-yang mungkin telah terhambat selama dalam perjalanan hidup oleh egomu-dengan tujuan untuk memahami misteri kehidupan dan kematian.

Masuklah dalam kensunyian sejati. Disanalah siapa saja yang sejak dahulu kala telah mendapatkan kebangkitan Ilahi, menemukan pula keinginan-keinginan jiwanya. Tinggallah di dalam tempat tersuci dari kedamaian yang murni”.

Pada akhirnya rangkaian liburan ke diri sendiri adalah berupa rangkaian evaluasi. Mengambil pelajaran atas hiruk pikuk kehidupan yang kaya akan warna dan seni. Baik hitam atau putih, benar atau salah, suka atau duka, cinta atau benci, positif atau negatif; yang semuanya menjadi pelecut untuk diri agar lebih baik daripada yang sebelumnya.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Muhasibi dalam kitabnya yang berjudul Adabun Nufus “Lihatlah sudut-sudut hati kecilmu dengan pandangan mata yang tajam dan pengamatan yang cermat. Jika engkau mendapati sesuatu yang terpuji, maka pujilah Allah SWT dan teruslah berlalu. Akan tetapi, jika engkau melihat sesuatu yang menjengkelkan, maka ikutilah dengan evaluasi dan pemeriksaan yang baik terhadapnya”.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × one =