Lembaga Wakaf MUI Tengah Siapkan Terobosan Baru

 Lembaga Wakaf MUI Tengah Siapkan Terobosan Baru

Lembaga wakaf MUI (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Di dalam ajaran agama Islam, terdapat sejumlah amalan yang sangat erat sekali dengan hal hal yang bersifat hablun minannas (kehidupan sosial). Misalnya zakat, infak dan sodaqoh. Namun dari tiga nama amalan yang populer itu, ada satu lagi yakni wakaf.

Selama ini mungkin beberapa umat Islam kurang begitu memahami secara detail tentang wakaf. Sekretaris Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI), Guntur Subagja Mahardika menjelaskan bahwa wakaf adalah salah satu cara untuk mensejahterakan umat.

Ia menjelaskan bahwa dengan berwakaf maka pahala yang didapatkan akan terus mengalir meski pemberi wakaf sudah meninggal dunia. Itulah salah satu fadilah amalan ibadah wakaf.

“Nah, wakaf yang dikelola dengan baik akan turut mewujudkan ekosistem halal yang kuat,” ungkap Guntur Subagja dilansir dari laman resmi MUI, Senin (13/9/2021).

Ia menambahkan bahwa Lembaga Wakaf MUI pun berkomitmen mendukung realisasi ekosistem itu. Untuk itu optimalisasi potensi wakaf uang dan wakaf produktif bisa mendukung halal supply chain.

“Yaitu jaringan dalam rantai pasok yang dilakukan dengan tujuan untuk menerapkan integritas halal pada proses pemerolehan bahan baku hingga mengantarkan produk pada konsumen,” jelasnya.

Menurutnya seluruh proses yang terlibat dalam jaringan rantai pasok harus patuh pada hukum syariah. “Jika wakaf dikelola dengan baik maka wakaf itu akan menjadi ladang yang bermanfaat,” ungkapnya.

Dia menyebutkan misalnya, bentuk wakaf di Makkah yang manfaatnya bisa dirasakan sekarang oleh jamaah haji asal Aceh sekarang. Wakaf tersebut berasal dari tokoh ulama dari Aceh Habib Bugak Al Asyi.

Dimana kala itu, ia membeli sebidang tanah lalu mewakafkannya untuk jamaah haji asal Aceh. Di atas tanah tersebut kini berdiri penginapan.

“Setiap tahunnya jamaah haji asal Aceh menerima pembagian manfaat uang dari hasil pengelolaan wakaf dari Baitul Asyi, per jamaah mendapatkan 1.200 riyal atau sekitar Rp 4,5 Juta,” ujar Guntur.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × 2 =