Larangan Perjalanan Ziarah

 Larangan Perjalanan Ziarah

Perjalanan ziarah kubur (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di meme ini, hadis yang dijadikan dalil untuk melakukan perjalanan ziarah kubur adalah hadis yang melarang melakukan perjalanan untuk salat di masjid karena, semua masjid memiliki kesamaan pahala, kecuali Masjid di Makkah, Madinah dan Baitul Maqdis.

Meme larangan ziarah
Meme larangan ziarah (sumber : FB Ma’ruf Khozin)

Kalau perjalanan ke selain Masjid tersebut dengan tujuan lain bagaimana? Di sinilah Al-Hafidz Ibnu Hajar mengulasnya:

ﻭاﺧﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﺷﺪ اﻟﺮﺣﺎﻝ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻛﺎﻟﺬﻫﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺯﻳﺎﺭﺓ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺃﺣﻴﺎء ﻭﺃﻣﻮاﺗﺎ ﻭﺇﻟﻰ اﻟﻤﻮاﺿﻊ اﻟﻔﺎﺿﻠﺔ ﻟﻘﺼﺪ اﻟﺘﺒﺮﻙ ﺑﻬﺎ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻘﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ اﻟﺠﻮﻳﻨﻲ ﻳﺤﺮﻡ ﺷﺪ اﻟﺮﺣﺎﻝ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻋﻤﻼ ﺑﻈﺎﻫﺮ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ

Ulama beda pendapat dalam melakukan perjalanan ke selain Masjid, seperti ziarah ke ulama baik yang masih hidup atau sudah wafat dan ke tempat utama lain. Dengan tujuan mencari berkah dan salat di sana. Syekh Abu Muhammad Al Juwaini mengatakan haram sesuai Zahir hadis tersebut

ﻭاﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ

Pendapat yang sahih menurut Imam Haramain dan ulama Syafi’iyah lainnya adalah tidak haram. (Fath Al-Bari, 3/65)

Bagi yang ikut pendapat haram, silakan. Tapi jangan melarang Muslim yang tidak sependapat. Di antara ulama ahli hadis yang gemar melakukan perjalanan ziarah kubur bahkan lintas negara adalah Imam Ibnu Hibban:

Ziarah Ke Basrah/ Iraq

مُحَمَّدُ بْنُ سِيْرِيْنَ اْلاَنْصَارِي أَبُوْ بَكْرٍ مَوْلِدُهُ لِسَنَتَيْنِ بَقِيَتَا مِنْ خِلاَفَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَمَاتَ بِالْبَصْرَةِ فِي شَوَّالَ بَعْدَ الْحَسَنِ بِمِائَةِ يَوْمٍ وَقَبْرُهُ بِإِزَاءِ قَبْرِ الْحَسَنِ بِالْبَصْرَةِ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ وَقَدْ زُرْتُهُمَا غَيْرَ مَرَّةٍ

“Muhammad bin Sirin al-Anshari lahir 2 tahun tersisa dari masa khilafah Utsman bin Affan. Ia wafat di Bashrah di bulan Syawal setelah 100 hari wafatnya Hasan. Makamnya di Bashrah dikenal dan diziarahi. Saya sudah menziarahi keduanya lebih dari sekali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/143)

Ziarah ke Damaskus Suriah

أَبُوْ الدَّرْدَاءِ عُوَيْمِرُ بْنُ عَامِرِ بْنِ زَيْدٍ اْلاَنْصَارِي مَاتَ سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَثَلاَثِيْنَ وَقَبْرُهُ بِبَابِ الصَّغِيْرِ بِدِمَشْقَ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ قَدْ زُرْتُهُ غَيْرَ مَرَّةٍ

“Abu Darda’, Uwaimir bin Amir bin Zaid al-Anshari 32 H. Makamnya di ‘Pintu Kecil’ di Damaskus sudah dikenal dan diziarahi. Saya (Ibnu Hibban) sudah berziarah lebih dari sekali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/84)

Ziarah ke Samarkan

فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ بْنِ مَنْصُوْرٍ أَبُوْ عَلِى مَوْلِدُهُ بِسَمَرْقَنْدَ  .مَاتَ بِهَا سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِيْنَ وَمِائَةٍ وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا

“Fudlail bin Iyadl bin Mansur, kelahirannya di Samarkand. Meninggal disana tahun 187 H. Makamnya sudah masyhur dan diziarahi. Saya berziarah berkali-kali” (Ibnu Hibban, Masyahir Ulama al-Amshar 1/84)

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 4 =