Kyai As’ad Syamsul Arifin lahir di Makkah, Arab Saudi pada 1897. Beliau merupakan anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura. Ia mempunyai adik bernama Abdurrahman. Ia dilahirkan di perkampungan Syi’ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.

Kyai As’ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama K.H. Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Ampel dari jalur sang ayah. Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.

Pada usia enam tahun, Kyai As’ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Sedangkan adiknya, Abdurrahman, yang masih berusia empat tahun dititipkan kepada Nyai Salhah, saudara sepupu ibunya yang masih bermukim di Mekah.

Setelah 5 tahun tinggal di Pamekasan, Kyai As’ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo, yang pada saat itu masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus. Kyai As’ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana.

Kyai As’ad Syamsul Arifin adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Di Nahdlatul Ulama, Kiai As’ad terakhir kali menjabat Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sampai ia wafat di usia 93 pada 4 Agustus 1990, tepat hari ini 29 tahun lalu.

Kyai As’ad terbilang lama mengembara. Sejak usia 12 tahun, Kyai As’ad sudah mengembara dari pesantren ke pesantren. Pondok Pesantren kali pertama dituju adalah Ponpes Sidogiri, Pasuruan. Dipondok Pesantren Sidogiri inilah Kyai As’ad menimpa ilmu hingga mengabdi sebagai ustadz.

Sekian tahun di Sidogiri, Kyai As’ad pindah ke Ponpes Langitan, Tuban. Setelah itu di Pesantren Bangkalan dibawah asuhan langsung KH. Kholil Bangkalan. Kemudian mondok ke Mekkah bersama putra mahkota Pondok Sidogiri, Kyai Nawawi.

Di Mekah, ia masuk ke Madrasah Shalatiyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu). Ia belajar ilmu-ilmu keislaman kepada ulama-ulama terkenal, baik yang berasal dari al-Jawi (Melayu) maupun dari Timur Tengah. Guru-gurunya Kyai As’ad ketika belajar ilmu keagamaanya:

  • Syeikh Abbas al-Maliki
  • Syeikh Hasan al-Yamani
  • Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi
  • Syeikh Hasan al-Massad
  • Syeikh Bakir (K.H. Bakir asal Yogyakarta)
  • Syeikh Syarif as-Sinqithi

Pada tahun 1908, setelah pindah ke Situbondo, Kiai As’ad dan ayahnya beserta para santri yang ikut datang dari Madura membabat alas (menebang hutan) di Dusun Sukorejo untuk didirikan pesantren dan perkampungan. Pemilihan tempat tersebut atas saran dua ulama terkemuka asal Semarang, Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.

Usaha Kiai As’ad dan ayahnya tersebut akhirnya terwujud. Sebuah pesantren kecil yang hanya terdiri dari beberapa gubuk kecil, mushala, dan asrama santri yang saat itu masih dihuni beberapa orang saja.

Sejak tahun 1914, pesantren tersebut berkembang bersamaan dengan datangnya para santri dari berbagai daerah sekitar. Pesantren tersebutlah yang akhirnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

Pada tahun 1924, setelah beberapa tahun belajar di Mekah, Kyai As’ad kemudian pulang ke Indonesia. Setelah sampai di kampungnya, ia tidak langsung mengajar di pesantren ayahnya, Kyai As’ad memutuskan untuk memperdalam ilmunya dan melanjutkan belajarnya. Ia pergi ke berbagai pesantren dan singgah dari pesantren- pesantren lainnya, baik untuk belajar maupun hanya untuk ngalaf barakah (mengharap berkah) dari para Kyai.

Dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2016, Presiden Indonesia Joko Widodo, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin. Pemberian gelar Pahlawan Nasional dilakukan oleh Joko Widodo di Istana Negara pada Rabu (9/11/2016). Pemberian gelar itu berdasarkan atas Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/tahun 2016 tanggal 3 November 2016.

Berdasarkan hasil rapat Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan pada tanggal 11 Oktober 2016, diputuskan untuk memberikan pertimbangan dan rekomendasi kepada Presiden atas usulan permohonan gelar Pahlawan Nasional tahun 2016 dari Kementerian Sosial melalui surat nomor 23/MS/A/09/2016 tanggal 21 September 2016. Butuh puluhan tahun hingga Kyai As’ad resmi ditetapkan sebagai pahlawan.

Dua hari setelah Kyai As’ad meninggal, Rais Aam PBNU KH. Ahmad Siddiq pernah mengusulkan agar Kyai As’ad dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tapi usulan tersebut tidak ditindak lanjuti, apalagi saat itu NU di bawah kepemimpinan Gus Dur mengambil sikap oposisi terhadap rezim Soeharto. Baru pada 2014 usulan tersebut digodok lagi dan dua tahun kemudian Presiden Jokowi mengabulkannya.

Ia adalah salah satu orang yang berjasa di balik berdirinya Nahdlatul Ulama. Saat itu Kyai As’ad, yang masih menjadi santri KH. Kholil Bangkalan, diperintahkan gurunya untuk menyampaikan pesan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Pesan tersebut berupa tongkat yang disertai ayat-ayat Alquran. Dalam tradisi santri, pesan macam itu merupakan isyarah (perlambang), yang maknanya dianggap lebih kuat dibanding pesan eksplisit.

Setelah menerima tongkat itu, Kyai Hasyim akhirnya semakin membulatkan tekad untuk mendirikan organisasi bagi kalangan Islam tradisionalis. Dari situlah lahir Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Uniknya, putra Raden Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan KH. Syamsul Arifin ini tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga bela diri. Penguasaannya pada tradisi silat lokal membuatnya disegani, bahkan oleh para jawara kampung di daerah Situbondo.

Meski begitu, Kyai As’ad sama sekali tidak pernah menggunakan keunggulan ilmu bela dirinya untuk dakwah. Bahkan kemampuannya yang sudah di atas rata-rata ini jarang sekali dikeluarkan untuk menggertak para preman di sekitar pesantrennya. Reputasi Kyai As’ad sebagai jawara saja sudah membikin ciut nyali para preman.

Sebagai Kyai, As’ad tidak menggunakan cara berdakwah yang lazim. Misalnya dalam urusan pencurian sandal di masjid. Hilangnya sandal jamaah adalah hal yang umum terjadi. Dalam dunia pesantren ada istilah untuk membahasakannya, yakni ghosob “meminjam” barang milik orang lain, tapi tidak minta izin si empunya barang.

Jika mau jujur, istilah ghosob dalam dunia pesantren merupakan bahasa penghalusan saja, karena sebenarnya yang terjadi adalah pencurian barang. Akan tetapi, karena barang yang dicuri adalah barang-barang remeh yang diyakini suatu waktu akan kembali lagi, kehilangan itu biasanya tidak terlalu dipersoalkan. Tentu, jika seseorang mengalaminya berkali-kali, biasanya ia akan merasa kesal.

Kehilangan sandal akan semakin massif di waktu salat Jumat. Sebab, yang berjamaah tidak hanya para santri yang ada dalam pesantren, tapi juga warga sekitar. Jumlah sandal yang ada di luar pelataran serambi masjid akan berjubel banyaknya tentu dengan beragam merek dan model yang lebih bagus dari sekadar sandal jepit atau bakiak yang digunakan santri.

Sumber

  • KH. R. As’ad Syamsul Arifin, laduni.id
  • Kyai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin, kemendikbud.go.id
  • Kiai As’ad Syamsul Arifin, tirto.id