Korban Akidah Mujassimah: Allah Membungkus Semesta

 Korban Akidah Mujassimah: Allah Membungkus Semesta

Fanatisme Buta Awal Kerusakan Agama (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Pedoman arah bawah dikategorikan sebagai sesuatu yang bisa disebut di bawah atau di arah bawah ketika ada medan gravitasi. Bila berada di arah yang sesuai arah tarikan gravitasi, maka disebut di bawah. Sebaliknya, bila ada di arah yang berlawanan dengan tarikan gravitasi, maka disebut di atas.

Dari situ kita tahu bahwa seorang astronot yang mengambang bebas di angkasa tidak punya atas bawah kecuali bila dikiaskan dengan kondisinya sewaktu di bumi. Saat astronot meletakkan barang di arah kepalanya, tidak bisa kita sebut bahwa barang itu ada di atasnya.

Demikian juga ketika astronot meletakkan sesuatu di arah kakinya juga tidak bisa disebut di arah bawah sebab patokan atas bawahnya, yakni gravitasi, tidak ada. Semua nisbi tanpa gravitasi yang menjadi patokan arah bawah.

Bila Anda masih bingung, coba letakkan sebuah buku di kaki meja, maka dalam posisi normal Anda bisa berkata bahwa ada buku di bawah meja. Sekarang coba balik mejanya sehingga kakinya menghadap ke atap lalu letakkan buku yang tadi di lokasi yang sama.

Tentu Anda takkan bisa berkata bahwa bukunya di bawah meja lagi sebab patokan bawah adalah gravitasi, bukan arah kaki mejanya. Sekarang bayangkan bila mejanya melayang bebas di ruang angkasa tanpa gravitasi, maka Anda juga takkan bisa berkata bahwa bukunya di bawah meja meski Anda lem di kaki mejanya.

Dengan ini kita tahu kerancuan berpikir para mujassim sejak dulu. Mereka berkata bahwa Allah menciptakan makhluk di arah bawah-Nya sehingga Allah berada di posisi paling tinggi.

Kerancuan Kuno Para Mujassim

Baiklah, kita turuti bilang Allah di tempat paling tinggi sesuai nalar jongkok mereka. Lalu tempat paling rendah yang jadi patokan arah bawahnya apa?

Kalau ada ketinggian lokasi yang qadim, maka pasti ada kerendahan lokasi yang qadim pula sehingga ada yang namanya arah atas bawah yang qadim. Dengan demikian ada lebih dari satu yang qadim, dan ini disepakati sesat.

Bila mereka berkata bahwa arah bawahnya hadis, maka artinya arah atasnya juga hadis (punya awalan). Itu sama artinya berkata bahwa sifat uluw Allah juga hadis sebab mereka mengaitkan sifat uluw dengan arah.

Akhirnya mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa Allah dulunya tidak uluw, bukan Allah Ta’ala. Lalu berubah punya sifat ‘uluw dan jadi Allah Ta’ala. Maha Suci Allah dari pikiran sesat itu.

Ini adalah kerancuan kuno para mujassim. Mereka kerjaannya hanya membodohi orang yang memang tidak mampu berpikir. Bagaimana bisa dia bilang Allah di atas Arasy sebelum adanya sesuatu? Apa dia kira Arasy bukan sesuatu?

Lalu apa patokan atas bawahnya sehingga dia bisa bilang “di atas dan di bawah”? Memangnya ada tarikan gravitasi atau patokan bawahnya? Tidak ada jawaban memuaskan atas tulisan saya tersebut sebab memang ajaran sesat hanya berdasarkan asumsi khayalan.

Allah Tak Bertempat di Hal-hal yang Berawal Mula

Di salah satu lapak media sosial luar negeri, saya menemukan orang yang mencoba menjawab dilema itu. Dia mencoba menjelaskan bahwa alam semesta hanya punya arah atas, tidak ada arah bawahnya.

Ini berbeda dari keterangan Syaikh Ibnu Taymiyah, sang penyeru akidah absurd ini, yang kapan-kapan akan saya bahas tersendiri saja. Dalam penjelasan orang itu, dia mencoba memakai kata “muhith” yang artinya meliputi atau membungkus dari segala arah.

Argumennya simpel sesimpel pemahaman anak TK. Dia bilang: “Langit meliputi bumi. Kursi meliputi langit. Arasy meliputi kursi. Allah meliputi Arasy karena bumi bulat, maka segala yang meliputi kita disebut “atas” dan tidak ada arah bawahnya.”

Dari ucapan itu dapat disimpulkan karena bumi ini bulat, maka otomatis langit yang meliputinya juga bulat. Atau berbentuk lain yang intinya mempunyai rongga di tengahnya untuk ditempati bumi sehingga ia meliputinya.

Hal yang sama berlaku pada kursi, Arasy dan bahkan Allah yang meliputi hal lain di dalamnya. Artinya dalam akidah ‘bodoh’ ini seluruh semesta ada di dalam Allah dan dibungkus oleh Allah. Sudah jelas, kan, sesatnya?

Tanggapan Ulama Salaf atas Akidah Bodoh

Ulama salaf membahas kekeliruan akidah ‘bodoh’ itu dengan pernyataan bahwa Allah tidak bertempat di hal-hal yang berawal mula (hawadits/makhluk). Hal-hal yang berawal mula juga tidak bertempat di Allah. Sebagian menyebut makna ini dengan istilah ba’in ‘anil khalq atau tidak terkait dengan makhluk.

Maunya dia lepas dari dilema “atas-bawah” lalu masuk pada dilema “luar-dalam”. Namun sebenarnya dia juga tetap tak terlepas dari dilema “atas-bawah” dengan imajinasinya tersebut.

Dia hanya menyoroti hal-hal yang ada di luar bumi tempat manusia ini. Semisal awan, matahari, bintang dan langit secara umum yang dia sebut “ada di atas kita”. Tetapi dia lupa bahwa di bawah kita ini juga ada banyak hal yang bisa dibahas dan disebut sebagai di bawah manusia.

Jadi, dalam perspektif makhluk, arah bawah itu ada, tidak hanya arah atas. Dalam status sebelumnya saya menjelaskan bahwa pedoman arah atas bawah adalah gravitasi.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 2 =