Kontribusi Masjid untuk Lingkungan

 Kontribusi Masjid untuk Lingkungan

Muslim Texas Makin Kuat Pasca Pembakaran Masjid Victoria (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Isu mengenai lingkungan kerap peroleh bahasan yang panjang di setiap tahunnya. Sekian bencana yang melibas nyawa manusia, kemudian merusak fasilitas publik, dan menelan banyak anggaran untuk perbaikan.

Hal itu tak lantas membuat manusia jera melakukan kerusakan. Isu lingkungan mungkin akan tetap hangat diperbincangkan guna menemukan formulasi yang proporsional.

Hal ini mengingat antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan kehidupan keberlanjutan untuk generasi mendatang saling terjadi tarik ulur. Jika berkaca dalam tubuh Islam sendiri, lingkungan menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari.

Lingkungan dengan keanekaragaman di dalamnya dianggap sebagai subjek yang tidak bisa diperlakukan dengan semena-mena. Bahkan oleh para sufi di masa silam, lingkungan juga dinilai mengucap tasbih menyebut asma-Nya sebagai bentuk rasa syukur.

Pada titik ini saya merasa relasi yang terjalin antara manusia, khususnya umat Islam dengan lingkungan menjadi cukup penting. Terlebih lagi oleh umat Islam di negeri ini yang memiliki kuantitas lebih banyak sehingga, gerak merusak atau melestarikan lingkungan memiliki dampak yang cukup signifikan bagi ketersediaannya untuk masa-masa mendatang.

Bagian dari Menjaga Lingkungan

Salah satu sarana untuk menggaungkan kesadaran ihwal pentingnya menjaga lingkungan ini mungkin bisa dimulai dari masjid. Sebagai ruang komunal, masjid dapat menginisiasi wacana bahkan gerakan tentang lingkungan yang dimulai dari akar rumput.

Kendati sifatnya masih sederhana dan mungkin sekadarnya, tetapi akan tetap memiliki dampak yang positif bagi kehidupan mendatang. Di sisi lain, jumlah masjid di negeri ini terbilang banyak. Masjid dapat ditemui di kota sampai ke pelosok desa.

Maka bukan tidak mungkin ketika program mengenai tambahan peran masjid untuk menjaga ekosistem digulirkan dari pemangku kebijakan di pusat, akan segera peroleh respon sampai ke masyarakat muslim di akar rumput. Hanya saja dengan catatan, program itu tidak rumit, dilakukan berjenjang, dan mesti bersabar karena perlu proses yang panjang.

Hayu Prabowo di bukunya Ecomasjid: Dari Masjid Memakmurkan Bumi (2017), memberi landasan konseptual lantas memberi teladan masjid mana saja yang melakukan gerak perbaikan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir. Baginya, peran masjid tidak hanya terbatas pada relasi peribadatan antara manusia dengan Maha Pencipta, atau relasi sosiologis sesama manusia.

Lebih dari itu, masjid juga bisa berperan dalam menginfiltrasi pengetahuan tentang pentingnya ekosistem sehingga berkosekuensi pada laku menjaga, melestarikan, dan berinteraksi positif dengan lingkungan. Minimal lingkungan di sekitar masjid dan tempat tinggalnya.

Sarana Penghubung Manusia Satu dan Lainnya

Keterangan di buku, ecomasjid didefinisikan sebagai konsep: “… tempat ibadah yang memiliki kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya untuk Penghidupan Berkelanjutan.” Maka di posisi ini masjid peroleh peran yang cukup signifikan sebagai sarana penghubung antara manusia yang salih di satu sisi dengan manusia yang sadar dengan ekosistem di sekitarnya.

Bisa jadi masyarakat muslim di negeri kita masih luput tidak menyadari bahwa, masjid dengan lingkungan yang asri dan bersih juga menyokong kenyamanan dalam beribadah. Sampai-sampai ada beberapa masjid yang dikunjungi setiap hari, namun masjid tidak peroleh perawatan yang optimal. Selesai menunaikan salat dan berzikir, jemaah lantas pulang ke rumah.

Padahal jika menilik hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi mengenai perumpamaan umat Islam layaknya lebah. Saya rasa tidak terlalu berlebihan ketika jamaah masjid turut terlibat dalam merawat lingkungan.

Misalnya membersihkan masjid dan kamar mandinya, menanam pohon di area masjid, berbakti memperlancar saluran air, membuat tempat sampah yang menyukupi. Mungkin mengagendakan laku menanam pohon di tempat-tempat tertentu.

Beberapa prototipe masjid yang memulai gerak memperhatikan lingkungan antara lain Masjid dan Pesantren Azzikra Bogor, Masjid Salman ITB, serta Masjid dan Pesantren Al Amanah Wonogiri Jawa Tengah. Saya rasa masjid-masjid ini layak peroleh porsi program kunjungan dari para pengurus atau takmir masjid-masjid lain dalam kurun waktu mendatang. Begitu.

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa. Alumni Magister Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *