Cancel Preloader

Kitab Karya Ulama Tatar Sunda Ini Terbilang Langka di Nusantara

 Kitab Karya Ulama Tatar Sunda Ini Terbilang Langka di Nusantara

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Kitab karya Kiyai Izzuddin Cibatu berjudul “Taqrîrât Natîjah al-Âdâb” disebut sebagai kitab yang langka di Nusantara. Pengarang ialah ulama Tatar Sunda asal Cibatu (Cisaat, Sukabumi). Hal itu dikatakan oleh Pakar Filologi Islam, A Ginanjar Sya’ban menyebut k

Pasalnya, lanjut Gunanjar, kitab tersebut disebut berbeda dengan kebanyakan kitab-kitab karya para ulama di Nusantara pada umumnya. Ginanjar menjelaskan, Kitab “Taqrîrât Natîjah al-Âdâb” ini mengkaji tentang ilmu debat.

“Kitab ini mengulas satu bidang kajian ilmu yang terbilang langka dan jarang ditulis oleh para ulama Nusantara. Yaitu ilmu dialektika atau ilmu berdebat dan berargumentasi (‘ilm al-munâzharah/ ‘ilm âdâb al-bahts),” tulis Ginanjar dalam catatannya di akun Facebook pribadinya. Dikutip Sabtu (6/2/2021).

Setelah melakukan pendalaman terhadap manuskrip kitab tersebut, ia mendapati kitab tersebut ditulis Kiyai Izzuddin pada 14 Ramadhan tahun 1341 Hijriah atau 1 Mei 1923 Masehi. Dengan demikian, kini usia kitab tersebut telah mencapai 100 tahun.

“Tertulis pada halaman akhir sekaligus menjadi kolofon naskah: (Pondok gede Gentur, malam Senin 14 Ramadhan tahun 1341 Hijrah Nabi. Semoga salawat dan salam terbaik senantiasa tercurah untuknya). Tarikh hijri di atas bertepatan dengan 1 Mei 1923 Masehi,” ungkap Ginanjar.

“Jika dihitung dengan hitungan tahun Hijri (1341), maka usia manuskrip kitab ini telah berusia seratus tahun pada saat ini (1441 Hijri),” sambungnya.

Ditulis dalam Bahasa Arab

Kiyai Izzuddin Cibatu menulis kitab ini dalam bahasa Arab. Hal tersebut sebagai bentuk penjelasan (taqrîrât) atas teks puisi (manzhûmah) “Natîjah al-Âdâb” karya seorang ulama Makkah. Yaitu Syaikh ‘Abd al-Malik b. ‘Abd al-Wahhâb al-Fattanî al-Makkî (w. 1332 H/ 1913 M).

Selain taqrîrât, Kiyai Izzuddin Cibatu juga menuliskan terjemah interlinear (terjemah antar baris, makna gantung) berbahasa Jawa Pegon.

“Menariknya, karya hebat ini ditulis ketika Kiyai Izzuddin masih menjadi santri yang sedang belajar di Pesantren Gentur (Cianjur, Jawa Barat) asuhan Kiyai Ahmad Syathibi (Mama Gentur, w. 1947),” jelasnya.

Kondisi fisik manuskrip kitab “taqrîrât” Kiyai Izzuddin Cibatu ini kata Ginanjar terbilang masih sangat bagus dan terjilid dengan baik. Bisa dikatakan hampir tidak ada cacat atau pun kerusakan di dalamnya.

“Sayangnya, tidak ada penomoran halaman dalam naskah ini. Diperkirakan, jumlah keseluruhan halaman adalah 150 halamanan,” ujarnya.

Adapun kertas yang digunakan sebagai media tulis adalah kertas Eropa. Bahasa teks pada naskah adalah bahasa Arab dan Jawa Pegon. Kiyai Izzuddin menulis taqrîrât-nya dalam bahasa Arab, juga menulis terjemah interlinear dalam bahasa Jawa Pegon.

Romandhon MK

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seven + fourteen =