Kisah Zaid Kesayangan Rasulullah

 Kisah Zaid Kesayangan Rasulullah
Digiqole ad

Rasulullah SAW berdiri untuk melepas pasukan yang dikirimnya menghadapi perang Romawi dalam Perang Mut’ah, beliau mengumumkan nama-nama Panglima Perang yang akan memimpin pasukan itu “Taatilah oleh kalian Zaid bin Haritsah, jika ia gugur gantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib, bila ia pun gugur ‘Abdullah bin Rawahah”.

Siapakan Zaid Bin Haritsah ini ? siapakah orang yang merupakan satu-satunya manusia yang mendapatkan julukan Al-Hibb kekasih Rasulullah SAW ini ? adapun mengenai perawakan dan penampilannya para ahli sejarah menggambarkan sebagai berikut, “Ia adalah seorang yang pendek, berkulit sangat cokelat dan berhidung pesek” sedangkan mengenai ceritanya sungguh sangat besar dan mengagumkan.

Zaid adalah seorang anak yang ditawan dan menjadi budak saat ia dan ibunya berada di Bani Ma’n yang saat itu diserang oleh suku-suku lain dan menelan kekalahan, ibunya berhasil selamat dan pulang melaporkan hal tersebut kepada Haritsah ayah Zaid. Tidaklah Haritsah menerima kabar buruk ini kecuali ia terkulai pingsan, lalu ia membawa tongkat di pundaknya dan terus berjalan melewati berbagai perkampungan, mengarungi gunung pasir dan bertanya kepada berbagai suku dan kafilah yang ia temui tentang anaknya dan jantung hatinya tersebut.

Kabilah yang menang melawan Bani Ma’n tersebut lantas menjual Zaid di Pasar ‘Ukadz dan dibeli oleh Hakim Bin Hazm yang kemudian dihadiahkan kepada bibinya Khadijah yang saat itu sudah menjadi istri Muhammad Bin ‘Abdullah yang belum diberikan wahyu kepadanya. Namun beliau sudah membawa semua sifat-sifat terpuji yang disediakan takdir sebagai persiapan diangkatnya menjadi utusan Allah SWT.

Khadijah kemudian memberikan Zaid kepada suaminya Muhammad SAW yang kemudian diterimanya dengan penuh kegembiraan dan langsung memerdekakannya, bahkan laki-laki agung tersebut memberikan perhatian dan perawatan yang luar biasa kepada Zaid, murni dari hatinya yang lapang dan jiwanya yang agung.

Singkat cerita ayah Zaid yang mengetahui anaknya bersama orang yang paling mulia Rasulullah SAW segera berangkat ke Makkah bersama saudaranya dan setelah bertemu Rasulullah SAW dan mengutarakan keinginannya untuk menyerahkan anaknya lantas Rasulullah SAW berkata “Panggilah Zaid kesini, suruh ia memilih sendiri seandainya ia  memilih Tuan aku mengembalikannya tanpa harus membayar tebusan, sebaliknya jika ia memilihku demi Allah aku tak hendak menerima tebusan apapun untuk menyerahkan orang yang memilihku”.  Dengan tegas Zaid berkata “tak ada orang yang aku pilih kecuali engaku! Karena bagiku engkau adalah ayah sekaligus pamanku!”.

Mendengar hal tersebut kedua mata Rasulullah SAW digenangi air mata rasa syukur dan haru bercampur menjadi satu, lalu dipegangnya tangan Zaid, beliau menuntunnya ke halaman Ka’bah tempat orang-orang Quraisy sedang berkumpul lalu beliau berseru “Saksikanlah oleh kalian semua mulai saat ini Zaid adalah anakku, ia akan menjadi ahli warisku dan aku jadi warisnya” (namun dimasa mendatang setelah suatu peristiwa turunlah ayat 40 surat Al-Ahzab “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi. Dan Allah Mengetahui segala sesuatu” lantas nama Zaid pun kembali menjadi Zaid bin Haritsah bukan Zaid bin Muhammad).

Tak hanya Rasulullah SAW yang mencintai Zaid tetapi Sayyidah ‘Aisyah RA juga turut memerhatikannya dengan berkata “Rasulullah tidak pernah mengirimkan suatu pasukan yang disertai Zaid kecuali beliau selalu mengangkatnya sebagai pemimpin. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul tentulah ia akan diangkatnya sebagai Khalifah”.

Singkat cerita terjadilah Perang Mut’ah antara kaum muslim dengan pasukan Romawi yang selama ini telah melakukan agresi terhadap siapa saja yang memeluk Islam dan berpikir untuk masuk Islam di Negeri Syam. Selain itu agar pada Da’i muslimin merasa aman, begitu pula dengan para pedagang yang bolak-balik antara Syam dan Madina akan merasa aman dari segala macam gangguan yang dapat menghalangi sampainya barang kebutuhan pokok ke Madinah.

Sebelum peperangan berlangsung Rasulullah SAW seolah-olah telah mengetahui rentetan pertempuran tersebut, apalagi beliau mengatur dan menetapkan urutan panglimanya sedemikian urut : Zaid, Ja’far kemudian Ibnu Rawahah. Berdasarkan urutan itu pula mereka wafat sebagai Syuhada.

Saat itu kaum muslimin melihat tentara Romawi yang jumlahnya mencapai 200.000 orang atau enam puluh enam kali lipat dibandingkan kekuatan kaum muslimin, jumlah yang membuat mereka tercengang dan tidak menduganya sama sekali. Namun walau pasukan musuh lebih banyak jumlahnya, itu tak membuat kaum muslimin patah arang,  mereka terus maju dan tidak peduli. Didepan mereka Panglima Zaid Bin Haritsah membawa bendera Rasulullah SAW menerobos hujanan panah, tombak dan pedang-pedang musuh.

Dimedan perang yang kian mencekam itu Zaid sama sekali tidak melihat pasir Balqa, tidak pula menyaksikan musuhnya tentara Romawi, yang ia lihat hanyalah taman-taman surga yang dedaunannya hijau melambai-lambai laksana bendera membawa kabar bahwa hari ini adalah malam pengantinnya. Maka benarlah, di medan perang itu pulalah Zaid Bin Haritsah menemui Allah SWT dengan tenang.

Sumber :

  1. Rijal Haula Al-Rasul, 60 Orang Besar disekitar Rasulullah SAW – Khalid Muhammad Khalid
  2. Peperangan Rasulullah – Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × 5 =