Kisah Seorang Sufi, Keledai, dan Keistimewaan Kalimat Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billah

 Kisah Seorang Sufi, Keledai, dan Keistimewaan Kalimat Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billah

Kisah Seorang Sufi dan Keistimewaan Kalimat Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta –¬†Pada suatu masa, ada seorang sufi yang senang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain dengan menunggangi seekor keledai.

Sufi itu mengenakan penampilan yang sangat sederhana. Malam harinya, ia singgah di sebuah perkumpulan sufi yang disebut Khanqah untuk beristirahat.

Sufi itu mengikat tali kekang keledainya di satu sudut dan mengamanatkan kepada penjaga untuk mengawasinya.

Ia sendiri bergabung dengan sufi-sufi lainnya. Ketika malam sudah bertambah larut, makan malam ala kadarnya dihidangkan. Tiba-tiba si sufi teringat pada keledainya. Ia segera mendatangi keledainya dan bertanya kepada penjaga.

“Apakah engkau sudah memberikan rumput kepada keledaiku?” tanya sang Sufi kepada penjaga.

Laa haula wa laa quwwata illa billah, Tuan,” jawab penjaga.

“Bagaimana kenyamanan tempat keledainya?” tanya Sufi lebih lanjut.

“Apakah luka-luka di tubuh keledai tersebut sudah engkau obati?”

Laa haula wa laa quwwata illa billah, Tuan,” jawab penjaga.

Jawaban penjaga itu seakan mengandung makna ia cukup ahli menjalankan tugasnya untuk menjaga dan merawat keledai dan kuda para tamu di Khanqah.

“Tanpa kau suruh pun, aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Pergilah beristirahat. Keledaimu saat ini sedang beristirahat dan berada di tempat yang nyaman,” kata penjaga meyakinkan sang sufi. Sufi itu kembali bergabung bersama sufi-sufi lainnya.

Sepeninggal sang Sufi, pelayan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak memikirkan perkataannya kepada sang Sufi. Tak ada rumput dan makanan keledai yang ia siapkan.

Sementara itu, sang Sufi yang keletihan tidur di dalam sana. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat keledainya berteriak-teriak ketakutan dikepung oleh kawanan serigala buas. Keledainya terjebak di dalam sebuah lubang besar yang cukup dalam.

Dalam mimpinya ia teringat akan kata-kata penjaga tadi bahwa keledainya sudah diberi makanan enak, dirawat dengan baik dan ditempatkan di tempat yang nyaman.

“Tega benar penjaga itu membiarkan keledaiku seperti ini. Mana janjinya untuk merawat keledaiku dengan baik? Bukankah aku cukup ramah berbicara dengannya tadi? la sendiri juga makan bersamaku dan bergabung dalam perkumpulan sufi dan itu berarti ia punya hati yang bersih!”

Dengan pikiran-pikiran seperti itu, sang Sufi melewatkan malam hingga pagi tiba tanpa mendapat manfaat apa-apa.

Pagi harinya, si Sufi sudah bersiap meninggalkan tempat tersebut. Ia pergi ke tempat penitipan keledai di Khanqah.

Dilihatnya penjaga telah memasang dan mengikat pelana dan keranjang perbekalan di tubuh keledai. Tanpa bertanya lagi, sufi naik ke atas punggung keledai dan mulai bergerak.

Gerakan keledai semakin lamban, tenaganya semakin lemah. Tak heran, sebab sejak semalam ia tak makan dan minum.

Tubuhnya yang terluka juga tak dirawat. Sementara ia harus melewatkan malam di tempat yang tidak nyaman, terbuka dan dingin.

Beberapa langkah kemudian, keledai itu ambruk tak sadarkan diri. Orang-orang berdatangan membantu, masing-masing bertanya dalam hati tentang apa yang membuat keledai itu pingsan.

Mereka memeriksa telinga keledai hingga mulut dan lidahnya, dan ada pula yang melihat matanya dengan seksama. Mereka ingin mengetahui penyebab pingsannya keledai.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Keledai ini sakit. Tapi bukankah kemarin kau katakan bahwa keledai ini sehat dan kuat?”

Sang Sufi menghela napas panjang. Dia harus mengakui binatang tunggangannya ini memang sakit dan lemah. Setelah diam beberapa saat, sang Sufi berkata.

“Beginilah jadinya keledai malang yang semalam penuh hanya menyantap dzikir Laa haula wa laa quwwata illa billah, bukan rumput dan jerami. Tak heran jika ia sekarang jatuh tersungkur dan lemah seperti ini. Penjaga di rumah sufi hanya sibuk mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah ketika kutanya apakah sudah memberi keledai makanan.”

Hati sebagian orang di Khanqah itu lebih buruk dari setan. Tak ada kasih sayang dan keramahan di dalamnya.

Bohong, tipuan dan kerakusan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Orang-orang seperti itu hanya ingin memamerkan diri dalam kemasan dzikir dan ibadah yang tak ikhlas. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *