Kisah Seorang Sufi dan Penjual Sepatu

 Kisah Seorang Sufi dan Penjual Sepatu

Kisah Imam Baqi bin Mikhlad dan Keutamaan Mencari Ilmu (madina365.com)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Salah satu kisah sufi yang masyhur adalah mimpi yang dialami oleh Abdullah bin Mubarak tentang diterimanya amalan haji. Abdullah bin Mubarak adalah Imam yang shaleh dan sangat dihormati oleh orang-orang.

Beliau tinggal di daerah bernama Merv, Turki. Kekayaannya Abdullah bin Mubarak sangat berlimpah dari hasil dari perdagangan yang ia lakukan.

Maka tak heran jika ia juga menjadi seorang dermawan yang kinasih. Karena kekayaannya itu pula, setiap tahun ia selalu berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.

Pada suatu hari sepulang dari berhaji, Abdullah bin Mubarak tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, beliau melihat ada dua malaikat yang sedang berdialog tentang amalan haji yang dilakukan para Muslimin pada tahun tersebut.

“Tahun ini tahun yang meriah,” kata Malaikat pertama. “Kau tahu berapa banyak orang yang berhaji tahun ini?”

“Banyak,” kata Malaikat kedua.

“Lebih banyak dari tahun kemarin. Jumlah orang berhaji tahun ini enam puluh ribu orang.”

“Masya Allah, sungguh menakjubkan!” puji Malaikat pertama. “Lalu, berapa banyak orang yang hajinya diterima?”

“Sayang sekali, dari sekian banyak jumlah tersebut, hanya seorang pria yang berprofesi sebagai tukang sepatu dari Damaskus bernama Abdullah bin Mufiq yang bajinya diterima. Dia bahkan tidak berangkat ke Tanah Suci, tapi Allah subhanahu wa ta’ala menerima hajinya!”

Terbangun dari mimpi tersebut, Abdullah bin Mubarak sangat khawatir karena pada tahun itu ia juga berangkat haji.

Tubuh beliau gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Setelah menenangkan diri, Abdullah bin Mubarak pun memutus- kan untuk pergi ke Damaskus dan mencari tahu siapakah gerangan sosok Abdullah bin Mufiq itu.

Sesampainya di sana, ia mencari tahu di mana ia bisa bertemu dengan Abdullah bin Mufiq.

“Aku dari jauh datang ke Damaskus ini untuk mencari seseorang yang belum aku kenal,” kata Abdullah bin Mubarak kepada seorang penduduk Damaskus.

“Aku hanya tahu namanya namun tidak tahu di mana ia bisa aku kunjungi.”

“Siapakah nama orang itu, wahai Musafir?” tanya Penduduk Damaskus itu.

“Ia seorang pria yang dikarunia nama Abdullah bin Mufiq,” kata Abdullah bin Mubarak.

“Oh, Abdullah bin Mufiq?” kata Penduduk itu. “Ia tinggal di blok kedua dari sini. Engkau bisa menemuinya di rumahnya.”

“Terima kasih, saudaraku. Aku akan segera menemuinya,” kata Abdullah bin Mubarak.

Setelah mengetahui di mana bisa menemui Abdullah bin Mufiq, Abdullah bin Mubarak bergegas menuju ke rumah orang yang dicarinya.

Sesampainya di sana, Abdullah bin Mubarak mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah Abdullah bin Mufiq. Sang tuan rumah pun membuka pintu rumahnya sambil menjawab salam.

“Maafkan saya, saya ingin bertemu Abdullah bin Mufiq, apakah engkau bernama Abdullah bin Mufiq?” tanya Abdullah bin Mubarak.

“Benar,” kata Abdullah bin Mufiq. “Saya Abdullah bin Mufiq. Mari silakan masuk.”

Setelah duduk di kursi di dalam rumah, Abdullah bin Mufiq bertanya kepada Abdullah bin Mubarak tentang hajatnya datang ke rumahnya.

“Bolehkan saya tahu siapa namamu dan apa keperluanmu menemuiku?” tanya Abdullah bin Mufiq.

“Saya Abdullah bin Mubarak dari Merv. Saya bermimpi dan ingin menanyakan kepadamu peribal mimpi yang saya alami,” kata Abdullah bin Mubarak.

“Oh, saya bukan abli tafsir mimpi,” kata Abdullah bin Mufiq. “Saya hanya tukang sepatu.”

“Ini bukan masalah apa pekerjaanmu,” kata Abdullah bin Mubarak. “Saya banya ingin bertanya karena mimpi ini berkaitan dengan engkau.”

“Berkaitan dengan aku?” Abdullah bin Mufiq penasaran.

“Iya, benar,” kata Abdullah bin Mubarak.

“Aku bermimpi, ada dua Malaikat yang berdialog. Dalam dialog itu salah satu Malaikat menyatakan bahwa orang-orang yang berhaji tahun ini tidak satupun yang mendapatkan pahala berhaji kecuali seorang saja. Orang itu adalah engkau, Abdullah bin Mufiq.”

Abdullah bin Mufiq menangis. Air matanya berurai tak tertahankan sambil mulutnya terus memuji keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ia tidak begitu yakin dengan cerita Abdullah bin Mubarak, tetapi keharuan tetap saja melingkupi hatinya.

Setelah menenangkan diri, Abdullah bin Mufiq menjelaskan kepada Abdullah bin Mubarak.

“Tahukah engkau, tahun ini aku tidak jadi pergi berhaji?” kata Abdullah bin Mufiq.

“Lalu, apa yang engkau lakukan?” tanya Abdullah bin Mubarak. “Aku hanyalah tukang sepatu.” Kata Abdullah bin Mufiq.

“Penghasilanku kecil dan banya cukup untuk menghidupi keluargaku. Tapi, keinginanku berangkat haji tidak pernah terbendung. Selama dua pulub tahun, aku menabung sedikit demi sedikit. Sampai tahun ini, ketika waktu berhaji datang uangku cukup untuk berangkat berhaji. Namun sayang, istriku sedang hamil dan menginginkan makan daging. Ia mencium aroma daging yang sedang dimasak tetangga kami. Dan, ia menginginkan daging yang dimasak oleh tetangga kami itu.”

“Kemudian, aku mendatangi tetangga kami itu. Dia adalah seorang janda dengan tiga orang anak. Aku ketuk pintu rumahnya. Perempuan janda itu membuka pintunya. Istriku sedang hamil, sedangkan kau sedang memasak daging. Bolehkah aku meminta sebagian dari daging itu? kataku memohon kepada wanita itu. Dagingnya halal bagi kami, tapi baram untuk kalian.” Kata janda itu.

“Bagaimana mungkin halal untukmu, tapi haram bagi kami? Aku penasaran dengan penolakannya. Selama beberapa hari ini, anak-anakku kelaparan. Kata Janda itu. Kami sama sekali tidak punya makanan. Hari ini, ketika aku sedang berjalan mencari makan, aku menemukan bangkai seekor keledai. Aku mengambil daging keledai mati itu untuk memberi makan anak-anakku. Daging yang sedang kumasak adalah daging bangkai keledai itu, Ya, daging itu balal bagi kami dan haram bagi kalian.”

“Setelah mendengar jawaban janda itu, aku pulang dan mengambil semua uang yang sudah kukumpulkan selama dua puluh tahun itu. Ya, uang itu aku berikan kepada wanita itu sambil berucap dalam hati, Inilah bajiku, ya Allah.”

Abdullah bin Mubarak menangis mendengarkan cerita Abdullah bin Mufiq. Ia merasa dirinya kecil dan kerdil.

Ya, setiap tahun ia berhasil berhaji, tapi apakah ia memikirkan tetangganya apakah sudah makan atau belum? Ia menangis sedih.

Maka, sejak saat itu, ketika hendak berangkat berhaji, Abdullah bin Mubarak memastikan tetangganya tidak ada yang kelaparan. []

 

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *