Kisah PKI Gunakan Instrumen Kesenian Untuk Hina Kiai

 Kisah PKI Gunakan Instrumen Kesenian Untuk Hina Kiai
Digiqole ad


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam pemilu tahun 1955 persaingan keras terjadi antara kelompok komunis dengan santri. Berbagai upaya untuk menjatuhkan lawan dilakukan kala itu.

Partai Komunis Indonesia (PKI) menggunakan instrumen kesenian masyarakat seperti ludruk dan ketoprak sebagai propaganda untuk menghina para Kiai, khususnya umat Islam.

Muhammad Subarkah, jurnalis Republika mengutip, salah seorang informan yang dimiliki sejarawan UGM (Universitas Gajah Mada), Bambang Pranowo ketika menulis buku yang bertajuk ‘Islam Factual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa’ mengkisahkan tentang bagaimana PKI memakai instrumen pertunjukan kesenian masyarakat untuk menghina Kiai.

“Di (buku) halaman 30, menceritakan kisahnya (si informan) yang saat itu tinggal dekat Gunung Merbabu. Dia mengisahkan bagaimana PKI membuat pertunjukan kethoprak di mana kalangan kiai dan haji dihina,” kutip Subarkah, dikutip Ahad (14/6/2020).

Mirip dengan itu lanjut Subarkah, pertunjukan ludruk yang terkenal di Jawa Timur juga dipakai untuk menarik penonton dari kalangan jelata yang pro-PKI. Di dalam pertunjukan-pertunjukan tersebut, di gambarkan kehidupan kaum miskin sementara kehidupan kaum elite dikecam dengan gaya dideskripsikan dengan sangat komikal dan seringkali menjijikan.

“Cara tersebut misalnya dengan cara mengekpresikannya dalam sajian panggung melalui tokoh ludruk yang ditampilkan pejoratif melalui wujud banci-banci tua serta badut berbibir ‘ndower’ di hadapan penonton yang meliputi ‘perempuan pekerja seks, pencuri dan penjudi”. Padahal di sisi lain secara ideal ludruk bukanlah ‘terompet’ Marxis yang murni. Akibat sajian ludruk seperti ini, kesenian tersebut ikut tertimbas stigma buruk karena dianggap memainkan lakon sebagai propanda komunis atau juga dianggap menjadi salah satu ikon pertunjukan yang terlalu mesum dan tak senonoh,” sambungnya.

Karena ancaman PKI semakin menguat dan massif menghantam kelompok Islam, NU kala itu mencoba menyakinkan kalangan siswi sekolah mereka bahwa kampanye 1955 adalah perjuangan hidup atau mati.

“Menguntip kajian sejarawan Doorn-Harder dalam ‘Women Shaping Islam’ di dalaman 219, salah seorang dari responden dari kalangan santri diberitahu. Dia mengenangkan begini, ‘Jika engkau tidak membantu NU agar menang,… Partai Komunis akan menang, dan engkau akan dibacok sampai mati’,” jelas Subarkah.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × four =