Kisah Pilu Dibalik Tragedi Pengepungan Kashmir

 Kisah Pilu Dibalik Tragedi Pengepungan Kashmir
Digiqole ad

Dua jam lewat dari siang hari, Haleema masih menunggu di sebuah taman tepat di luar penjara pusat di Srinagar, kota utama di wilayah mayoritas Muslim. Dia tidak yakin apakah dia akan diizinkan untuk bertemu suaminya, Bashir Ahmad.
“Dia dijemput 20 hari yang lalu seperti saat mereka menjemput orang-orang yang lain, mereka tidak perlu alasan dan kita tidak bisa bertanya,” katanya.

Taman yang terletak di luar penjara pusat tersebut telah menjadi tempat untuk menunggu bagi keluarga yang ingin melihat kerabat mereka yang ditahan. Jumlah penahanan dan penangkapan yang dilakukan di seluruh Kashmir yang dikelola oleh India dalam sebulan terakhir ini masih belum bisa diketahui karena para pejabat yang ada masih dibungkam. Untuk mencegah protes terjadi, pada tengah malam di tanggal 5 Agustus pemerintah India telah melakukan pemadaman akses telepon dan internet di daerah itu dan menjaganya dengan ketat. Tindakan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan para politisi yang pro-India pun tidak terhindar. Setidaknya tiga mantan menteri utama tetap ditahan di tengah-tengah pemadaman komunikasi yang hampir total itu.

Walaupun kini pemerintah mengklaim bahwa situasi telah kembali normal lagi di wilayah yang disengketakan tersebut, angka resmi yang didapat oleh Al Jazeera menunjukkan bahwa sejak tanggal 5 Agustus ada 588 insiden pelemparan batu yang 458 di antaranya dilaporkan terjadi di Srinagar dimana di beberapa bagian kota lama itu masih dalam pembatasan. Angka resmi menunjukkan bahwa 3.500 orang telah ditangkap dan 350 di antaranya telah di tandai di bawah Aksi Keamanan Publik (PSA) – undang-undang yang memungkinkan penahanan yang panjang tanpa adanya proses pengadilan. Angka-angka tersebut menyebutkan bahwa hanya ada 135 orang yang terluka dalam sebulan terakhir.

Menteri Dalam Negeri India Amit Shah, sebagai orang yang mengumumkan penangguhan status khusus Kashmir pada tanggal 5 Agustus, mengatakan keputusan itu akan memperbaiki ‘ketidakadilan yang dijatuhkan kepada orang-orang Jammu dan Kashmir selama 70 tahun terakhir’.

Partai Bharatiya Janata (BJP), partai nasionalis yang berkuasa itu mengkritik status khusus yang diberikan pada wilayah Kashmir, salah satunya adalah dalam Pasal 35A yang mencegah warga non-Kashmir memiliki tanah di wilayah yang disengketakan tersebut. Dengan hilangnya Pasal 370 dan Pasal 35A, warga Kashmir khawatir akan ancaman terhadap identitas dan demografi mereka, karena orang-orang dari bagian lain dari negara itu sekarang dapat membeli tanah dan menetap di sana. Di rumahnya di lingkungan Anchar di Srinagar, Mohammad yang berusia 54 tahun mengatakan ia khawatir akan masa depan anak-anaknya.
“Jika kita tetap diam sekarang, anak-anak kita akan menderita nantinya,” katanya. Anchar, sebuah lingkungan di tepi utara Srinagar, selama sebulan terakhir telah menjadi titik utama ketika para keluarga disana membela lingkungan itu dari berbagai serangan oleh polisi dan militer India.


Bano, seorang perawat berusia 30 tahun, mengatakan dia telah merawat hampir 300 pria dan wanita muda dari Anchar yang terluka akibat senjata pellet. Penduduk sekitar khawatir mereka akan ditahan jika mereka pergi ke rumah sakit untuk melakukan perawatan. “Pada hari Jumat (30 Agustus), lebih dari 200 orang terluka. Saya merawat orang-orang ini dengan menggunakan peralatan saya yang terbatas dan mengeluarkan pellet dari tubuh mereka di dalam masjid,” katanya. Saat malam tiba, seorang dokter dan seorang perawat pria dari rumah sakit terdekat menyelinap ke lingkungan itu dengan sekotak obat-obatan. “Kami berhasil membantu mereka yang terluka, beberapa pemuda memiliki 100 dan ada juga yang memiliki 200 pellet di tubuh mereka. Tetapi ketika seseorang terkena pelet di bagian mata, kita tidak bisa melakukan apa-apa,” katanya. Bano mengatakan dia menggunakan gunting tang, pinset alis, dan pisau untuk mengoperasi mereka yang terluka. “Aku juga mengeluarkan pellet dari tubuh 4 orang wanita,” tambahnya.

Dia pun menambahkan bahwa banyak dari mereka yang terluka masih terbaring di rumah dan belum menerima perawatan yang tepat. Para pemuda telah membentuk kelompok untuk jaga malam di pintu-pintu masuk lingkungan tersebut. Aijaz, 25 tahun, mengatakan ia adalah bagian dari tugas jaga harian untuk mempertahankan garis depan Anchar dan berpartisipasi dalam protes selama sebulan terakhir ini. “Kami tidak melawan untuk diri kami sendiri, tetapi untuk masa depan Kashmir,” katanya.
“Kami berdoa pada hari Jumat di masjid dan pasukan datang dan menembakkan pellet pada para jamaah,” katanya.
Di antara banyak warga yang terluka pada hari Jumat lalu, Aqib yang berusia 24 tahun terkena pellet di mata, mulut, wajah, dan lengannya. “Mereka sedang berperang dengan kami, cara mereka menyerang kami selama empat jam itu seolah-olah 100 pemberontak bersenjata sedang terjebak di sini,” katanya. Sepupu Aqib juga terluka ketika mencoba melarikan diri dari pengejaran dan jatuh setelah melompati barikade. Lengan dan kakinya patah.


“Bahkan ambulans tidak diizinkan datang ke sini dan membantu mereka yang terluka. Kami tidak pergi ke rumah sakit karena kami takut mereka akan menahan kami dan mengirim kami ke penjara di luar selama bertahun-tahun. Kami akan mati di sini tetapi kami tidak akan meninggalkan tempat ini, “ katanya.

Nusrat, seorang wanita muda warga daerah itu, mengatakan dia merasa ketakutan walaupun sedang di dalam rumahnya sendiri, tempat dimana ia tinggal bersama tujuh saudara perempuan dan orang tuanya.
“Mereka menjadikan semua orang sebagai target, pria atau wanita, muda atau tua,” katanya.
“Saat malam, kami tidak berani tidur karena kami takut akan adanya serangan dan rasa takut itu lebih banyak dirasakan oleh para wanita dan gadis muda,” tambahnya “Pada hari Jumat, mereka memutus pasokan air dan listrik untuk menghukum kami. Kami tidak melempari batu tetapi mereka memprovokasi kami,” kata dia.

Anchar adalah satu-satunya kantong utama perlawanan di Kashmir, wilayah lainnya telah terdiam, orang-orangnya tampaknya telah mundur ke rumah mereka masing-masing. Pasar utama di Kashmir, termasuk pusat komersial Lal Chowk tetap tutup selama sebulan terakhir dalam penutupan yang dilakukan secara spontan. Bahkan ketika pemerintah memerintahkan pembukaan kembali sekolah untuk anak-anak yang mempunyai umur sampai 14 tahun, sekolah-sekolah pun tetap kosong. Perguruan tinggi telah ditutup dan diubah fungsi menjadi barak militer. Pembatasan perjalanan yang diberlakukan pada hari-hari awal telah berkurang secara bertahap, minggu demi minggu, wilayah demi wilayah.

Awal pekan ini, bagian administrasi di Kashmir mengatakan bahwa pembatasan perjalanan telah berkurang menjadi 91 persen wilayah tersebut. Tetapi penangguhan akses komunikasi ponsel dan internet tetap berlanjut. Pemadaman akses komunikasi yang berarti komunikasi keluarga menjadi terputus antara satu dengan yang lainnya, dan bahkan memanggil ambulan pun menjadi tugas yang sangat sulit. “Mereka ingin membuat kami lelah, mereka ingin kami tunduk,” kata Nazir Ahmad, 45 tahun, warga Rainawari. “Tapi mereka salah,” lanjutnya.

Langkah tersebut juga berimbas pada ekonomi Kashmir yang telah terjun bebas. Industri pariwisata, industri yang telah menyediakan mata pencaharian bagi ribuan warga Kashmir telah memekik terhenti, dengan resort padang rumput yang indah dan hotel-hotel disana menjadi kosong. Di taman di luar penjara pusat, Shazia telah melakukan perjalanan dari utara kota Handwara yang mempunyai jarak hampir 80 km dari Srinagar, untuk bertemu saudara laki-lakinya. “Saudaraku adalah seorang imam, dia ditangkap karena menggunakan pengeras suara selama khotbahnya,” katanya. Shazia mengatakan saudara laki-lakinya telah terkena PSA, sebuah undang-undang yang dideskripsikan sebagai ‘hukum yang tidak berdasar’ oleh Amnesty Internasional. Dia mengatakan keponakannya yang berusia delapan tahun menangis selama berhari-hari karena dia bersikeras melihat ayahnya.
“Kami datang agar dia bisa melihat ayahnya,” kata Shazia.

Sumber : AlJazeera.com

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × three =