Cancel Preloader

Kisah Pedagang Muslim di AS yang Tokonya Selamat Dari Penjarah

 Kisah Pedagang Muslim di AS yang Tokonya Selamat Dari Penjarah
Digiqole ad


HIDAYATUNA.COM, Minneapolis – Pedagang muslim di Amerika Serikat (AS) Mohammad Abdi (35), pemilik toko makanan Halal Tawakal menceritakan kisahnya bagaimana kronologi tokonya bisa selamat dari para penjarah, saat meletusnya aksi demonstrasi di jalanan Minneapolis pada Sabtu (30/5) lalu.

Kepada Reuters, Abdi mengaku ketakutan saat aksi demonstrasi di kota tersebut berujung pada aksi penjarahan. Ia mengatakan hanya ada dua pilihan yang sama sama sulit waktu itu.

Pertama pergi ke jalan dan menghadapi para pengacau dan penjarah berbahaya yang sedang bersiap-siap untuk membakar Toko Makanan miliknya atau kedua ia melakukan siaga dan menonton mereka menghancurkan mata pencahariannya.

“Saya mengatakan kepada mereka, ini adalah bisnis saya. Ini adalah gedung saya, tolong jangan lakukan itu,” kata Abdi, dikutip dari Sindo, Senin (1/6/2020).

Dalam situasi demikian, warga AS asal Somalia itu mengaku menjaga diri agar tidak panik. Dengan tenang ia mengingatkan kepada para massa aksi yang melakukan penjarahan agar tidak merusak tokonya.

“Saya tidak berteriak, saya tetap tenang. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak melakukan apa pun pada mereka. Dan, mereka pergi,” sambungnya.

Abdi tetap terjaga sepanjang malam hingga memasuki pagi hari untuk mengawasi toko dan Pasar Makanan A&D, toko bahan makanan lain yang dimilikinya di seberang jalan di lingkungan Lyndale, di Minneapolis, di sisi barat daya kota.

Sebagai informasi, aksi protes damai di Minneapolis berubah menjadi kerusuhan, setelah beredar video tewasnya seorang pria kulit hitam George Floyd akibat perlakuan polisi AS.

Pemerintah federal mengirimkan lebih dari 4.000 personel pasukan Garda Nasional ke Minneapolis. Pihak berwenang mengatakan, jumlah itu akan segera naik menjadi hampir 11.000 personel.

“Situasi di Minneapolis sama sekali bukan tentang pembunuhan George Floyd,” kata Gubernur Tim Walz. “Ini tentang menyerang masyarakat sipil, menanamkan rasa takut dan mengganggu kota-kota besar kita,” jelasnya.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − 16 =