Kisah Muhammad Kecil yang Diasuh Kakek Hingga Pamannya

 Kisah Muhammad Kecil yang Diasuh Kakek Hingga Pamannya

Kakek Muhammad Abdul Muthalib

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Nabi Muhammad kecil diasuh oleh kakek nya setelah ibunya meninggal dunia. Kasih sayang Abdul Muthalib begitu besar bahkan melebihi sayangnya kepada anak-anaknya sendiri.

Ibnu Hisyam mengisahkan, Abdul Muthalib disediakan satu tempat khusus yang berada di bawah naungan Ka’bah. Anak-anaknya biasa duduk mengelilingi tempat itu menunggu kedatangan ayah mereka. Pada suatu hari Muhammad datang dan langsung duduk di tempat istirahat khusus untuk Abdul Muththalib tersebut.

Anak-anak Abdul Muthalib secara spontan menarik Muhammad agar mundur dari tempat tersebut. Ketika hal itu diketahui oleh Abdul Muththalib beliau menegur anak-anaknya. “Biarkan cucuku ini, sungguh dia begitu istimewa,” katanya. Kemudian ia duduk di samping Muhammad. Sang kakek lalu mengelus-elus punggung sang cucu dengan penuh kasih sayang.

Saat Muhammad berusia delapan tahun dua bulan sepuluh hari, Abdul Muththalib berpulang di Makkah. Pemimpin suku Quraisy dan seluruh penduduk Makkah itu wafat dalam usia 80 tahun. Sebelum wafat dia telah berencana menyerahkan cucunya itu dalam asuhan Abu Thalib saudara kandung ayah Muhammad. (Ar-Rahiq al-Makhtum: 69)

Kembali Muhammad dirundung kesedihan ketika sang kakek, Abdul Muthalib wafat. Ia teringat bagaimana pernah ditinggal ibunya, Aminah. Muhammad kecil kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Muhammad Kecil Diasuh Pamannya

Sebenarnya Abu Thalib bukanlah paman tertua dari Muhammad. Haritslah yang tertua, tapi dia tidak seberapa mampu. Abbas, paman beliau yang lain yang sebenarnya lebih mampu namun kikir sekali dengan hartanya. Itulah mengapa dia hanya memegang urusan siqaya (urusan minum), tanpa mengurus rifada (urusan makan) bagi peziarah Baitullah.

Abu Thalib, secara ekonomi juga terbilang kurang mampu. Ia hanya mempunyai perasaan yang halus dan penyayang, serta menempati kedudukan yang terhormat di kalangan Quraisy (Hayatu Muhammad : 55). Abu Thalib mencintai keponakannya itu sama seperti Abdul Muthalib mencintainya.

Oleh sebab itu dia mendahulukan kemenakannya itu daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya. (Hayatu Muhammad:56)

Muhammad kecil ikut membantu pamannya menggembalakan kambing milik keluarga dan juga kambing beberapa penduduk Makkah. Pengalaman menggembala kambing waktu kecil itu nanti diingat Nabi dengan gembira.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: Pengembala onta dan kambing berbangga di sisi Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi bersabda: “Rasa bangga bagi pengembala onta, ketenteraman bagi pengembala kambing. Musa diutus dan dia pernah mengembalakan kambing milik keluarganya, aku diutus dan aku juga pernah mengembalakan kambing milik keluargaku di Jiyad.” Dalam kesempatan lain Nabi juga mengatakan bahwa waktu kecil beliau pernah menggembalakan kambing milik penduduk Makkah. (lihat Muhammad Suwailaim Abu Syuhbah, As-Sirah an-Naabwiyah ‘ala Dhu’i Al-Qur’an wa as-Sunnah, 1427 jilid 1 hal, 209)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − 4 =