Kisah Makam Wali Qutub di Gunung Lawu

 Kisah Makam Wali Qutub di Gunung Lawu

Kisah Makam Wali Qutub di Gunung Lawu

HIDAYATUNA.COM – Jika kita menyebut Gunung Lawu pasti tidak lepas dari berbagai cerita mistis yang menyertainya. Namun tidak banyak yang tahu ternyata di Gunung Lawu terdapat makam seorang Wali Qutub.

Wali Qutub adalah sosok waliyullah yang memiliki tingkatan lebih tinggi dari pada waliyullah yang lain. dan Para wali qutub dipilih oleh Allah SWT pada setiap zamannya.

Bahkan disebutkan bahwa derajat Wali Qutub ini setara dengan nabi-nabi sebelum Rasululllah SAW.

Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam bukunya Secercah Tinta (2012) mengungkapkan ‘Ulamai Ka an-Nabi Bani Isra’il (ulama dari kalangan umatku seperti para Nabi di kalangan Bani Israil).

Kisah Gus Dur Berziarah ke Makam Wali Qutub di Gunung Lawu

Gus Dur mantan presiden ke-4 Indoesia adalah sosok yang sangat gemar berziarah kepada para waliyullah, tidak perduli dimanapun tempatnya dan jam berapapun, jika ingin berziarah beliau pasti berangkat.

Sastro al-Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur, memiliki banyak pengalaman spiritual yang luar biasa selama bersama Presiden RI ke-4 itu.

Suatu ketika, ia diajak Gus Dur berziarah ke makam Eyang Gusti Aji di Kaki Gunung Lawu. Makam tokoh ini dikenal sebagai tempat untuk bersemadi kelompok abangan. Hampir semua tokoh abangan berziarah ke tampat ini.

Selesai tahlil, juru kunci meminta Gus Dur masuk ke dalam gedung tempat penyimpanan pusaka.

Kemudian, Gus Dur juga diminta mengambil pusaka, dan apa yang diambil itu nantinya akan jadi pegangan. Dengan keadaan gelap gulita, pemilihan pusaka dilakukan secara spekulatif.

Jam 02.00 dini hari, mereka mulai naik menuju pemakaman. Sastro lalu bertanya, “Kita ngapain Gus di sana nanti?”

“Ya, tahlil, wong biasanya kita tahlil”, jawab Gus Dur.

“Katanya tokoh ini pentolannya abangan”, ujar Sastro.

“Yang ngerti Islam atau bukan itu hanya Gusti Allah”, jawab Gus Dur pendek.

Selanjutnya tahlil pun digelar. Dalam berdoa mereka menyebut, “Doa untuk ahli kubur yang dimakamkan di sini, kalau Engkau meridhai”.

Akhirnya, Gus Dur pun masuk dan mengambil salah satu pusaka. Ternyata, yang diambil Gus Dur adalah sebuah buku. Kemudian, ia diminta mengambil satu lagi dan memperoleh kain.

Bagitu dibuka di luar ruangan, buku yang terambil adalah Al-Qur’an. Artinya, Al-Qur’an ini menjadi pegangan hidup.

“Kalau selendangnya sendiri, apa artinya Gus”, tanya Sastro.

“Embuh, mungkin untuk nggendong bongso”, jawab Gus Dur. Yang artinya, “Tidak tahu, mungkin untuk menggendong bangsa”.

Selanjutnya, al-Qur’an yang terambil itu diminta kembali sedangkan selendangnya boleh dibawa pulang. “Wah, beliau yang dimakamkan di sini ternyata wali kutub yang menyembunyikan diri”, kata Gus Dur.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve + four =