Kisah Kesufian Abul Husain Ahmad al-Nuri

 Kisah Kesufian Abul Husain Ahmad al-Nuri

Kisah Kebaikan Seorang Sufi kepada Seekor Kucing (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Abul Husain Ahmad al-Nuri melakukan disiplin diri seperti yang dilakukan oleh Junaid.

Ia dijuluki Nuri (manusia yang memperoleh cahaya) karena setiap kali ia berbicara di suatu ruangan pada malam yang gelap, dari mulutnya keluar cahaya sehingga seluruh ruangan itu menjadi terang.

Alasan lain mengapa ia dijuluki demikian adalah karena ia menjelaskan rahasia-rahasia yang paling pelik dengan cahaya intuisi.

Tetapi versi yang ketiga mengatakan bahwa ia mempunyai sebuah tempat menyepi di tengah padang pasir, di mana ia biasa shalat di sepanjang malam dan apabila ia berada di tempat itu, orang-orang bisa menyaksikan cahaya yang memancar dari tempat itu.

Pada awal kehidupan mistiknya, setiap hari ia keluar rumah pagi-pagi sekali dan pergi ke tokonya mengambil beberapa potong roti untuk dibagi-bagikan sebagai sedekah.

Setelah itu barulah ia pergi ke masjid untuk shalat shubuh dan tetap di situ sampai tengah hari. Kemudian ia baru pergi ke tokonya.

Orang-orang di rumah menyangka bahwa ia telah makan di toko dan orang-orang di toko menyangka bahwa ia telah makan di rumah.

Yang demikian dilakukannya secara terus-menerus selama dua puluh tahun tanpa seorang pun yang mengetahui perihal yang sesungguhnya.

Mengenai dirinya sendiri, Abul Husain Ahmad al-Nuri berkisah sebagai berikut:

“Bertahun-tahun aku berjuang mengekang diri dan meninggalkan pergaulan ramai. Betapapun aku telah berusaha keras, namun jalan belum terbuka bagiku.”

“Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diriku,” aku berkata di dalam hati. “Jika tidak, biarlah aku mati terlepas dari hawa nafsu ini.”

“Wahai jasadku,” aku berkata. “Bertahun-tahun sudah engkau menuruti hawa nafsumu sendiri, makan, melihat, mendengar, berjalan-jalan, mengambil, tidur, bersenang- senang dan memuaskan hasratmu. Sungguh, semua itu akan mencelakakanmu.”

“Sekarang masuklah ke dalam penjara, akan kubelenggu dirimu dan kukalungkan kepada lehermu segala kewajiban kepada Allah. Jika engkau sanggup bertahan dalam keadaan seperti itu, engkau pasti meraih kebahagiaan. Tapi jika kau tak sanggup maka setidaknya engkau akan mati di atas jalan Allah.”

“Maka, berjalanlah aku di atas jalan Allah. Pernah kudengar bahwa hati para sufi merupakan alat yang amat awas dan mengetahui rahasia segala sesuatu yang terlihat dan terdengar oleh mereka.”

Karena aku sendiri tak memiliki hati yang seperti itu, maka aku pun berkata kepada diriku sendiri,

“Ucapan-ucapan para Nabi dan manusa-manusia suci adalah benar. Mungkin sekali aku telah bersikap munafik dalam usahaku selama ini, dan kegagalanku ini adalah karena kesalahanku sendiri.”

“Di sini tak ada tempat untuk berbeda pendapat. Sekarang aku ingin merenungi diriku sendiri sehingga aku benar-benar mengenalnya. Maka, aku merenungi diriku sendiri. Ternyata ke- salahanku adalah bahwa hati dan hawa nafsuku bersatu. Bila hati dan hawa nafsu berpadu, celakalah.”

“Karena jika ada sesuatu yang menyinari hati, maka hawa nafsu akan menyerap sebagian daripadanya. Sadarlah aku bahwa hal inilah yang menjadi sumber dilema yang kuhadapi selama ini. Segala sesuatu yang datang dari hadirat Allah ke dalam hatiku, sebagian diserap oleh hawa nafsuku.”

Sejak saat itu, segala perbuatan yang diperkenankan oleh hawa nafsuku tidak kulakukan. Yang aku lakukan adalah hal-hal lain yang tak disukainya.

Misalnya, apabila hawa nafsuku berkenan jika aku shalat, berpuasa, bersedekah, menyepi atau bergaul dengan sahabat-sahabatku, maka aku melakukan hal yang sebaliknya.

“Akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsuku bisa kubuang dan rahasia- rahasia mistik mulai terbuka di dalam diriku, siapakah engkau? aku bertanya.”

“Aku adalah mutiara dari Lubuk Tanpa Hasrat,” terdengar jawaban.

“Katakan kepada murid-muridmu, lubukku adalah Lubuk Tanpa Hasrat dan mutiaraku adalah Mutiara dari Lubuk Tanpa Tujuan.”

“Kemudian aku turun ke sungai Tigris dan berdiri di antara dua buah perahu. Aku tidak akan beranjak dari tempat ini,” aku berkata. Sebelum ikan terjerat ke dalam jalaku. Akhirnya masuklah seekor ikan ke dalam jalaku. Ketika kuangkat jalaku itu, aku pun berseru: Alhamdulillah, perjuanganku telah berhasil.”

“Aku mengunjungi Junaid dan berkata kepadanya: Sebuah karunia telah dilimpahkan kepadaku. Kemudian Abul Husain Ahmad al-Nuri,”

Junaid menjawab, “Apabila yang terjerat oleh jalamu itu adalah seekor ular, bukan seekor ikan, itulah pertanda sebuah karunia.”

“Karena engkau sendiri telah campur tangan. Hal itu hanyalah sebuah tipuan, bukan sebuah karunia. Tanda dari suatu karunia adalah bahwa engkau sama sekali tidak ada di sana lagi.” []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *