Kisah Kebaikan Seorang Sufi kepada Seekor Kucing

 Kisah Kebaikan Seorang Sufi kepada Seekor Kucing

Kisah Kebaikan Seorang Sufi kepada Seekor Kucing (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Kebaikan tak mengenal nama dan agama. Itulah kasih sayang yang tercermin dalam Asma Allah, yaitu Ar-Rahman.

Allah subhanahu twa taala tidak membeda-bedakan makhluk-Nya yang mana yang akanı diberi karunia, sebab kasih sayang Allah Subhanahu wa taala itu luas. Tidak seperti kasih sayang manusia.

Demikianlah tersurat dalam Al-Qur’an. Dalam kisah ini, Allah Subhanahu wa taala telah menunjukkan buktinya kepada kita semua bahwa kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala itu Maha Luas.

Diceritakan bahwa Syeikh Junaid Al-Baghdadi memiliki seorang murid bernama Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

Dalam sebuah mimpi seseorang, sebutlah si Fulan, Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah Subhanahu wa taala.

“Kau tahu apa yang membuatku mengampuni dosa-dosamu?” tanya Allah subhanahu wa ta’ala kepada ruh Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Amal salehku,” jawab ruh Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Bukan,” kata Allah subhanahu wa ta’ala.

“Ketulusanku dalam beribadah?” Jawab ruh Syeikh Abu Bakr Asy- Syibli.

“Bukan,” kata Allah subhanahu wa ta’ala.

“Hajiku, puasaku, shalatku?” jawab ruh Syeikh Abu Bakr Asy- Syibli.

“Juga bukan,” kata Allah subhanahu wa ta’ala.

“Perjalananku kepada orang-orang saleh dan untuk menimba ilmu,” jawab ruh Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Bukan,” kata Allah subhanahu wa ta’ala.

“Ya llahi, lantas apa?” tanya Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

Dalam mimpi si Fulan itu, Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan Kota Baghdad.

Begini ceritanya:

Pada waktu itu, hujan cukup deras menerpa kota Baghdad. Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli sedang berjalan kaki hendak pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang itu, Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli melihat seekor kucing kecil yang meringkuk di sudut sebuah bangunan tua.

Kucing kecil itu tampak sangat payah dan loyo. Bulunya compang- camping dan tubuhnya menggigil hebat setelah didera oleh ganasnya hawa dingin.

Ia menyudut ke suatu tempat, mencari kehangatan, berharap kondisi bisa membaik.

Melihat kucing kecil yang malang itu, Syeikh Abu Bakr Asy- Syibli tergerak hatinya.

“Kasiban benar kau kucing kecil,” kata Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli.

“Udara sangat tidak bersahabat, mengapa kau tidak tidur pulas di dalam rumah tuanmu? Apakah tuanmu telah menelantarkanmu? Kalau kau kucing kecil yang terlantar, aku ingin kau tinggal di rumahku. Di sana ada makanan dan kebangatan. Engkau akan sebat.”

Lantas Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli memungut binatang malang itu. Beliau menghangatkan kucing kecil itu di dalam jubah yang dikenakannya dan membawanya pulang.

Tiba di rumah, Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli segera memberi kucing kecil itu makanan. Kucing itu makan dengan lahap.

Nampaknya dia sangat lapar. Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli juga mengeringkan tubuh kucing kecil itu lalu menyelimutinya dengan selembar kain. Lalu, kucing itu tertidur pulas.

“Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu,” kata Allah subhanahu wa ta’ala kepada Syeikh Abu Bakr Asy-Syibli dalam mimpi si Fulan itu.

Kebaikan tidak pernah menimbang kepada siapa dilakukan. Kebaikan akan selalu mendapat imbalan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Manusia memiliki kewajiban untuk berbuat baik, kepada siapa saja dan kepada apa saja, berbuat baik kepada semua makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *