Kisah Karomah Dua Ulama Asal Madura

 Kisah Karomah Dua Ulama Asal Madura

Mengenal Prosesi Penjamasan Senjata Pusaka Sunan Kudus (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ada kisah menarik dari dua ulama asal Madura yakni Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syaikhona Yahya. Keduanya merupakan sahabat karib dan seperjuangan.

Soal kealiman, Syaikhona Kholil mengaku kalah dengan Syaikhona Yahya. Hal itu pernah disampaikan santri Syaikhona Yahya bernama Tabri yang diceritakan ulang KH Faraid, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Yahya Kamal.

“Seandainya seluruh ilmu dan amalku ditukar dengan amal kiaimu, niscaya aku masih harus nambah,” cerita Kiai Faraid menirukan ucapan Syaikhona Kholil, dikutip dari NU Online, Rabu (09/03/2022).

Kedua kiai kharismatik itu, lanjut Kiai Faraid, juga sama-sama memiliki karomah. Satu hari, ada seseorang terjatuh dari atas pohon kelapa dan mengalami patah tulang di bebebapa bagian tubuhnya. Dia kemudian dibawa ke kediaman Syaikhona Kholil untuk diobati.

Syaikhona Kholil lantas mengambil tongkat dan dipukulkan ke tubuh korban beberapa kali. “Kami (Syaikhona Kholil) bukan dukun,” kisah Kiai Faraid. Seketika itu korban bangkit dan berlari seperti orang ketakutan.

Begitu pula dengan Syaikhona Yahya. Dahulu, tutur Kiai Faraid, setiap orang Madura berangkat dan pulang dari Arab saat melaksanakan ibadah haji, pasti mampir ke pesantren yang diasuh Syaikhona Yahya di Kamal.

***

Satu hari, selesai salat berjamaah, Syaikhona Yahya menyuruh santrinya menutup lubang-lubang di tembok masjid dengan karung gula. Santri menurut saja tanpa tahu apa tujuan perintah sang kiai.

Beberapa hari kemudian, jamaah haji asal Madura datang dan mampir ke masjid yang dikelola Syaikhona Yahya. Ketika ditanya, jamaah mengaku hampir celakan karena kapal yang ditumpangi mengalami kebocoran dan air laut sempat masuk ke dalam kapal.

“Untung para awak kapal menutupi lobang-lobang itu dengan karung gula,” ujar Kiai Faraid menirukan pengakuan jamaah ke Syaikhona Yahya.

Ketika akan dimakamkan saat wafat, tanah yang akan ditutupkan ke kuburan Syaikhona Yahya tidak cukup. Didatangkan tanah dari tempat lain tetap saja tidak bisa menutupi kuburan Syaikhona Yahya secara sempurna.

Sambil menangis, Syaikhona Kholil yang membacakan talqin kemudian berkata, “Rahmat Allah jangan dihabiskan sampean saja, Kiai Yahya.”

Makam Syaikhona Yahya akhirnya tertutupi dengan sempurna setelah kekurangannya ditimbun dengan pasir laut.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *