KisahSejarah Islam

Kisah Imam Salat yang Ditinggalkan Makmumnya Pada Zaman Rasulullah

HIDAYATUNA.COM – Di zaman Rasulullah, sebuah kisah tentang imam salat yang ditinggal makmumnya menuai banyak pelajaran. Zaman itu, ajaran Islam terlihat sekali betapa mudahnya untuk dijalankan oleh semua kalangan.

Sebab jika terjadi perbedaan pendapat atau masalah yang berkenaan dengan perbedaan maupun cara pandang, langsung menghadap kepada pembawa risalahnya yakni Nabi Muhammad.

Fenomena ini menjadi cerminan kita bersama, selaku umat Nabi Muhammad untuk terus mengajarkan Islam dengan cara-cara damai.

Tak elok rasanya jika Islam ditampilkan begitu kejam dengan berbagai dogma yang membuat takut para pegikutnya.

Hal ini menjadi tanggung jawab para ‘alim ulama sebagai penerus nabi, dengan kemampuan agamanya yang luar biasa, mereka menjadi panutan masyarakat awam.

Islam yang Ramah

Sepeninggal Rasulullah, ajaran Islam harus terus digemakan dengan ajaran yang ramah dan bisa dianut oleh semua kalangan.

Sebab masing-masing dari kita memiliki kesibukan yang berbeda untuk menjalankan ibadah. Misalnya, sebagian masyarakat berprofesi sebagai petani, pedagang, kiai, PNS, atau pekerjaan lainnya. Hal tersebut berdampak pada ibadah yang dilakukan oleh setiap individu.

Jika dibandingkan, ibadah para buruh yang bekerja kepada majikan dengan pemberian waktu yang tidak banyak., tentu tidak bisa dibandingkan dengan kiai yang setiap harinya beribadah, mengajar anak-anak ataupun ritual keagamaan lainnya.

Kalaupun dipaksa untuk melakukan ritual ibadah yang sama secara masif, seperti wajib melakukan salat berjamaah 5 waktu, tentu tidak bisa dilakukan oleh petani yang harus mengurusi lading sejak pagi hingga sore.

Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga yang jarang sekali dimaknai sebagai ibadah.

Mu’adz, Imam Salat yang Ditinggal Makmum

Alkisah di zaman Rasulullah, ada sahabat Nabi, Mu’adz yang sering menjadi imam salat di masjid.

Baca Juga :  Menyesal Saat Sakaratul Maut

Suatu hari, dia memperpanjang bacaan surah dalam salat sehingga salah satu jamaah yang sedang memiliki kesibukan mendesak, memilih untuk mundur dari shaf dan menyelesaikan salatnya sendiri.

Mu’adz menuduh orang tersebut sebagai munafik. Merasa terluka oleh tuduhan tersebut, ia mengadu kepada Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Rasulullah, kami ini orang-orang yang bekerja dengan tangan kami dan mencari air minum untuk hewan-hewan kami. Mu’adz menjadi imam kami saat salat berjamaah kemarin dan membaca Surah Al-Baqarah sehingga aku terpaksa pergi lebih dulu. Dia menuduhku orang munafik”.

Nabi Muhammad saw Bersabda, “ Wahai Mu’adz. Apakah kamu telah mempersulit orang-orang? Apakah kamu hendak mempersulit orang-orang? Apakah kamu mau mempersulit orang-orang? Bacalah Surah Al-Syams dan Al-A’la dan surah-surah serupa. Diantara anggota jamaah salatmu, ada orang-orang yang lemah, orang sepuh, dan yang punya urusan mendesak untuk diselesaikan”.

Nabi Muhammad saw Menegur dua hal yang dilakukan Mu’adz. Pertama, memperpanjang salat sehingga orang-orang menganggapnya sebagai beban yang memberatkan. Kedua, menuduh orang lain munafik karena tidak menerima keputusannya memilih bacaan surah panjang dalam salat.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah sama sekali tidak pernah memberatkan pengikutnya. Bahkan Islam yang ramah terhadap semua pengikutnya perlu menjadi narasi utama dalam berdakwah bagi kita semua untuk menyebarkan ajaran Islam.

Apalagi, dewasa ini banyak sekali konten-konten narasi keislaman ataupun dakwah Islam yang terlihat kejam serta dogma yang menyeramkan dinarasikan kepada masyarakat.

Islam seolah digambarkan ajaran kepatuhan yang bersifat kaku dan hanya ramah bagi golongan yang memiliki pengetahuan agama saja. Padahal sejak zaman nabi Muhammad saw. Ajaran Islam tidak pernah membuat rumit pengiktnya. Maka seyogyanya, agama Islam adalah agama yang rahmatal lil ‘alamin.

Mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada, Penulis lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close