Kisah Imam Hasan Al-Basri Melawan Kesombongan

 Kisah Imam Hasan Al-Basri Melawan Kesombongan

Menemukan Diri di dalam Al-Qur’an (madina365.com)

HIDAYATUNA.COM – Setiap dari kita tidak pernah luput dari perbuatan yang dimurkai oleh Allah. Salah satu perbuatan kemungkaran yang banyak dijumpai ditengah masyarakat adalah sifat kesombongan. Sesungguhnya kesombongan hanyalah milik Allah, dan manusia sebagai hamba tidak pantas memiliki sifat sombong.

Maka dari itu marilah kita sekalian berusaha menghindari perilaku sombong dan menganggap orang lain lebih rendah dari kita. Karena siapapun berpeluang terbelenggu kesombongan. Sebagaimana kisah yang dialami oleh Imam Hasan Al-Basri berikut ini dalam proses kehidupannya menjadi seorang ulama besar yang kita kenal hingga saat ini.

Dikisahkan pada suatu ketika, Imam Hasan Al-Basri berada di tepi sungai Dajlah (Tigris) di Irak. Ia melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Sebuah bisikan yang sangat halus memaksa Hasan Al-Basri berkata dalam hatinya tentang sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ia ketahui.

Kemudian, Imam Hasan Al-Basri terlena dengan bisikan jahat itu. “Betapa bejat akhlak orang itu.” kata Imam Hasan Al-Basri dalam hati. “Seandainya saja dia seperti aku. Maka jadi baiklah dunia ini.” Seyampang kemudian, sebuah perahu tenggelam di sungai itu.

Imam Hasan Al-Basri melihatnya dengan jelas situasi yang tidak menguntungkan itu. Pasti di dalam perahu itu ada penumpangnya. Sementara itu, pemuda yang duduk di tepi sungai bersama seorang perempuan dan sebotol arak tadi segera terjun ke sungai. la berenang dan mencoba menolong penumpang perahu yang tenggelam itu.

Ada enam orang yang berhasil diselamatkan. Sementara itu, satu penumpang lain masih tenggelam. Melihat Imam Hasan Al-Basri yang berdiri saja tanpa melakukan apa- pun, pemuda itu berkata kepadanya. “Wahai, Tuan.” Kata Pemuda itu. “Jika engkau memang lebih mulia daripadaku, selamatkanlab seseorang yang belum sempat saya tolong itu.”

Imam Hasan Al-Basri tergugah hatinya kemudian terjun ke sungai. Hasan Al-Basri telah berusaha sekuat tenaga untuk menolong orang yang tenggelam itu. Akan tetapi, ia gagal menyelamatkan penumpang yang tersisa.

“Wahai, Tuan,” kata Pemuda itu. “Perempuan yang duduk di samping saya ini adalah Ibu saya sendiri. Jika kau kira di dalam botol itu adalah minuman keras, itu juga salah. Isinya banya air mineral biasa. Ya, aku bukan peminum anggur atau arak.”

Imam Hasan Al-Basri sungguh terkejut bahwa apa yang diucapkan dalam hatinya mampu didengar oleh pemuda itu. Lalu, Imam Hasan Al-Basri tersadar bahwa pemuda itu bukanlah pemuda biasa. “Wahai, Pemuda yang bijaksana.” Kata Hasan Al-Basri. “Tolong, selamatkan aku seperti engkau menyelamatkan keenam orang yang tenggelam itu tadi.”

“Selamatkan dari apa, Tuan?” tanya Pemuda itu. “Aku telah tenggelam dalam kebanggaan dan rasa sombong.” Kata Hasan Al-Basri. Aku akan sangat bahagia jika kau sudi menyelamatkan aku.” “Aku banya bisa berdoa, Tuan,” kata pemuda itu. “Semoga Allah Subhanahu wa taala mengabulkan permohonanmu.”

Ilmu merendahkan hati memang sangat sulit dipelajaari. Tapi, sejak peristiwa itu, Imam Hasan Al-Basri berusaha sekuat mungkin untuk rendah hari bahkan setiap detiknya. Sehingga, Imam Hasan Al-Basri pada akhirnya menjadi ulama besar sekaligus sufi yang sesungguhnya, terbebas dari membanggakan diri dan rasa sombong.

Begitulah, kealiman seseorang membuat syetan melancarkan serangan yang lebih halus dari bisikan kalbu kita. Para setan itu menyanjung-nyanjung kita sebagai orang alin. Padahal, senyatanya mereka hanya menjerumuskan kita ke dalam limbah kesombongan. Naudzubillah min dzalik.

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *