Siapakah Hazrat Hilal bin Umayyah itu? Bagaimana sejarah masa kanak-kanak dan masa mudanya? Bila dia masuk Islam, menyatakan kalimat tauhid, dan mempercayai kerasulan Rasulullah SAW? Tak seorang pun yang mengetahuinya.

Hilal bin Umayyah adalah salah satu dari tiga sahabat yang tertinggal dari perang Tabuk, yang mengakui dosa-dosanya. Taubatnya ditunda sampai 50 hari hingga Allah sendiri yang mengampuninya dengan surah Taubah ayat 117 – 118. Dua orang lainnya adalah, Ka’ab bin Malik dan Murarah bin Rabi’.

Yang jelas, dia termasuk kaum Muslimin yang telah memasuki agama Allah SWT secara berpusu-pusu dan termasuk salah seorang pengikut Rasulullah SAW yang ikut mendampinginya dalam Perang Badar yang terkenal itu.

Al-Quranul Karim telah mengabadikan namanya dalam dua tempat. Pertama, ketika dia tidak ikut dalam Perang Tabuk. Kedua, ketika dia menuduh isterinya bermain dengan Syarik bin Samha’.

Namun, mengapa dia tidak ikut Perang Tabuk? Apa yang telah menyebabkannya tidak ikut serta dalam peperangan yang diikuti oleh Rasulullah SAW? Jawapannya itulah yang hendak kami huraikan sekadarnya saja.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabatnya agar bersiap-siap untuk menyerang ke daerah pendudukan Rom di kawasan negeri Syam. Pada waktu itu, banyak orang yang hidup dalam kesusahan, kemarau yang mencekam hampir seluruh penduduk.

Pada waktu itu, Rasulullah SAW sudah bersiap-siap membawa bekal yang diperlukan dalam perjalanan jauh dan udara yang tidak bersahabat itu. Baginda juga sudah memerintahkan kepada orang-orang kaya untuk menanggung beban saudara-saudaranya yang kurang mampu dalam mengikuti perang di jalan Allah itu.

Ramai orang kaya tidak tanggung-tanggung menyerahkan hartanya untuk memenuhi perintah Rasulullah SAW itu, antara lain Hazrat Uthman bin Affan r.a. yang tidak sedikit sumbangannya, sehingga Rasulullah SAW mendoakannya, “Ya Allah, redhailah Uthman. Sesungguhnya aku redha kepadanya.”

Sekumpulan Muslimin yang fakir dari kaum Ansar dan lain-lainnya datang menemui Rasulullah SAW untuk memohon agar dapat ikut berperang atas tanggungan Rasulullah SAW. Namun, Rasulullah SAW menyatakan dengan sedih hati,

“Aku tidak mempunyai kesanggupan untuk menjamin kamu.”

Mereka kembali dengan kecewa sementara itu air matanya berderai dengan deras kerana tidak memiliki bekal yang dapat dinafkahkan oleh mereka.

Rasulullah SAW dan beberapa pengikutnya bertolak menuju medan Perang Tabuk, sedangkan sekumpulan kaum Muslimin lainnya masih dalam keragu-raguan sehingga tertinggal jauh. Mereka itu antara lain: Ka’ab bin Malik bin Abi Ka’ab dari Bani Salamah, Murarah bin Rabi’ dari Bani Amru bin Auf, Abu Khaithamah dari Bani Salim bin Auf, dan Hilal bin Umayyah dari Bani Waqif.

Mereka adalah orang-orang Muslim yang tidak diragukan keIslamannya.

Beberapa hari sesudah kepergian Rasulullah SAW, Hazrat Abu Khaithamah pulang menemui kedua isterinya, ternyata keduanya sudah menyiapkan dirinya masing-masing menyambut kedatangannya dalam dua buah khemah. Makanan dan minuman kesukaannya sudah disiapkan juga di dalamnya.

Sesudah dia memasuki khemahnya dan melihat kedua isterinya serta apa yang telah dipersiapkan untuk dirinya, lalu dia kembali ke pintu khemah seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Rasulullah SAW ada di bawah terik matahari dan menghadapi terpaan angin gurun pasir, sedang Hazrat Abu Khaithamah ada di antara dua wanita cantik, di tempat yang teduh, makan dan minumnya tersedia secukupnya. Demi Allah, aku tidak akan memasuki khemah kamu berdua sebelum aku pergi menyusul rombongan Rasulullah SAW.”

Baca Juga :  Biografi Habib Ali Kwitang

Dia lalu memerintahkan kepada kedua isterinya itu untuk menyiapkan bekal perjalanannya dan keduanya pun mematuhinya.

Dia menunggang kudanya menuju Tabuk dan tiba di sana beberapa saat sesudah Rasulullah SAW sampai di Tabuk.

Dari kejauhan, kaum Muslimin melihat seseorang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi menuju  tempat mereka. Rasulullah SAW lalu bersabda,

“Aku yakin, dia Abu Khaithamah!”

Setelah dia tiba di tengah-tengah mereka, mereka pun bersorak-sorak dan berkata, “Ya Rasulullah SAW, demi Allah, tak salah lagi, dia Abu Khaithamah!”

Sesudah menambatkan kudanya, dia pun menyampaikan salam dan menghampiri Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Sikapmu tepat sekali, ya Abu Khaithamah!”

Dia menceritakan pergolakan batinnya dari awal hinga akhir kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW mendoakannya moga-moga dia sentiasa memperoleh kebajikan yang diharapkan.

Itulah tekad dan semangat Hazrat Abu Khaithamah r.a., tetapi mengapa Hazrat Hilal bin Umayyah r.a. tidak melakukan seperti yang dilakukan kawannya itu?

Menurut riwayat dari beberapa sumber yang dapat dipercayai, dia seorang soleh dan takwa. Dia mencintai Rasulullah SAW dan selalu mentaati perintah-perintah baginda dengan rajin.

Mungkinkah keadaan yang telah menghalang-halanginya pergi dan berbuat serupa itu?

Menurut sumber sejarah, dia pada waktu itu memiliki harta dan kenderaan, dan dia tidak mempunyai urusan dan alasan untuk pergi ke medan Perang Tabuk bersama dengan Rasulullah SAW.

Sesudah Rasulullah SAW kembali dari Perang Tabuk, perintah pertama yang diberikan kepada kaum Muslimin adalah,

“Ketiga orang yang tidak ikut ke Tabuk jangan diajak berbicara!”

Mereka ialah Hazrat Ka’ab bin Malik, Hazrat Murarah ibnur-Rabi, dan Hazrat Hilal bin Umayyah.

Hazrat Ka’ab bin Malik bertanya kepada seseorang, “Apakah ada orang yang bernasib nahas selain aku?”

Dia menjawab, “Ya! Dua orang lainnya yang alasannya serupa denganmu dan dihukum sama denganmu juga!”

Hazrat Ka’ab bertanya kepadanya, “Siapa mereka?”

Dia menjawab, “Murarah ibnur-Rabi dan Hilal bin Umayyah.”

Mereka menyebut nama dua orang soleh yang patut diteladani. Kini, Rasulullah SAW telah melarang semua orang Islam untuk bercakap dengan mereka bertiga.

“Kami dijauhi oleh semua orang dan mereka pun telah memulaukan kami dari pergaulan sehari-hari. Semuanya kini sudah berubah sama sekali,” kata Hazrat Ka’ab.

“Seterusnya,” katanya lagi, “Kami hidup dalam suasana seperti itu selama empat puluh malam. Tiba-tiba ada seorang pesuruh Rasulullah SAW datang menyampaikan pesan baginda.

“Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu agar kamu menjauhi isterimu!”

Hazrat Ka’ab bertanya kepadanya, “Apakah aku akan menceraikannya atau bagaimana?”

Dia menjawab, “Tidak, tetapi jauhi dia dan tidak boleh mendekatinya.”

Rasulullah SAW pun mengutus pesuruh kepada kedua kawannya yang lain untuk menyampaikan perintah serupa.

Baca Juga :  Sahabat Sabit bin Qais, Sang Orator Ulung

Mendengar perintah itu, Hazrat Ka’ab terus memerintahkan kepada isterinya, “Sebaiknya, kamu pulang ke rumah keluargamu dulu sampai Allah menentukan hukuman apa lagi yang harus dikenakan kepadaku.”

Bagaimana keadaan Hazrat Hilal bin Umayyah ketika menerima perintah Rasulullah SAW itu?

Isterinya datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah SAW, sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang yang sudah berusia lanjut dan tidak mempunyai pembantu. Apakah baginda tidak memperbolehkan aku melayaninya?”

Rasulullah SAW menjawab, “Boleh, tetapi dia tidak boleh mendekatimu.”

 Isteri Umayyah berkata lagi, “Demi Allah, ya Rasulullah SAW, dia tidak berhasrat lagi kepadaku. Demi Allah, dia sentiasa menangisi dosanya itu hingga sekarang sehingga aku khuatir tangisannya akan merosak penglihatannya.”

Itulah air mata taubat, air mata penyesalan kerana tidak segera menunaikan perintah Rasulullah SAW untuk bertolak perang bersamanya.

Itulah pergolakan yang tulus melawan hawa nafsu insani, yang merasa salah melangkah dari hak dirinya, dari hak Rasulnya, dan dari hak Rabb-nya.

Pada saat-saat yang mencemaskan itu turunlah wahyu dari Allah SWT yang mengampuni dosa-dosa mereka bertiga kerana sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam saat-saat sukar, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan, terhadap ketiga orang yang ditangguhkan (taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah terasa menyempit pula bagi mereka, serta mereka meyakini bahawa tiada tempat lagi bagi mereka dari (seksa) Allah, melainkan (kembali) kepada-Nya saja. Allah kemudian menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 117-118)

 Itulah kisah Hazrat Hilal bin Umayyah dan kedua kawannya yang ketinggalan dalam Perang Tabuk, yang membiarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya berperang melawan musuh dalam saat-saat kemarau panjang, sedangkan mereka bersenang-senang di Madinah.

Adapun kisah kedua ialah kisah Hazrat Hilal bin Umayyah juga ketika dia pulang ke rumahnya selesai Isyak, dia menemui isterinya bersama seorang lelaki. Dia mendiamkan hal itu sampai subuh. Siang harinya, dia pergi kepada Rasulullah SAW dan melaporkan kejadian tersebut, “Ya Rasulullah SAW, aku pulang ke rumah semalam sekitar waktu Isyak, ternyata aku menemukan seorang lelaki bersama isteriku di sana. Aku melihatnya dengan mata kepalaku dan mendengarnya dengan telingaku ini.”

Rasulullah SAW sedih sekali mendengar laporan yang disampaikan Hazrat Hilal itu. Kaum Ansar berhimpunan-kumpulan di sana-sini memperbincangkan apa yang diucapkan Sa’ab bin Ubadah r.a. sebelum itu, “Kami mendapat ujian dengan apa yang dikatakan Sa’ad bin Ubadah.”

 Menurut Imam Ahmad bin Hambal dengan sanad dari Ibnu Abbas r.a., “Sesudah diturunkan ayat

 “Dan, orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina), kemudian mereka tidak dapat mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) lapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya….”

Baca Juga :  Kiai Subchi Parakan, Sang Kiai Bambu Runcing (1945)

Sa’ad bin Ubadah, pimpinan kaum Ansar, terus bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Benarkah demikian bunyi ayat itu diturunkan, ya Rasulullah SAW?’

Rasulullah SAW menjawab,

“Wahai kaum Ansar, tidakkah kamu mendengar apa yang ditanyakan pemimpin kamu?’

 Mereka menjawab, ‘Ya Rasulullah SAW, janganlah dia dicela dalam masalah itu. Dia seorang pecemburu. Demi Allah, dia tidak pernah mengahwini seorang wanita kecuali seorang gadis dan dia tidak pernah menceraikan isterinya lalu ada seorang lelaki dari kami yang mengahwini bekas isterinya itu kerana cemburunya yang berlebihan.’

Sa’ad menjawab sabda Rasulullah SAW itu, ‘Ya Rasulullah SAW, demi Allah, aku tahu benar bahawa firman itu benar sekali dan firman itu diturunkan oleh Allah SWT, tetapi aku hairan sekali bagaimana mungkin aku akan membiarkan seorang lelaki yang menggauli seorang perempuan tanpa ditindak sebelum aku dapat mendatangkan empat orang saksi mata. Demi Allah, aku tidak dapat membiarkannya sampai selesai pekerjaannya itu.”

“Seterusnya,” ujar Imam Ahmad bin Hambal, “Tidak lama setelah itu berlakulah peristiwa seperti yang berlaku di rumah Hilal bin Umayyah itu.”

Kini, timbul berbagai pertanyaan, apakah Rasulullah SAW akan mendera Hazrat Hilal bin Umayyah dan membatalkan kesaksiannya untuk selama-lamanya?

Hazrat Hilal sendiri berkata, “Demi Allah, aku berharap sekali bahawa Allah SWT akan memecahkan kesku itu dengan sebaik-baik.”

Dia berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, aku sudah melihat beratnya penanggungan Baginda untuk menerapkan ayat itu dan Allah Maha Mengetahui bahawa aku adalah jujur.”

 Bilakah peristiwa itu berlaku? Apakah berlaku sebelum Perang Tabuk atau sesudahnya? Siapakah di antara isteri-isterinya yang telah berbuat serong itu?

Kemungkinan besar, peristiwa itu berlaku sebelum Perang Tabuk kerana Hazrat Hilal bin Umayyah sewaktu berlaku Perang Tabuk sudah tua renta dan sudah kurang banyak bergerak serta sudah tidak berkeinginan terhadap perempuan, seperti yang dikatakan isteri-isterinya kepada Rasulullah SAW.

Kalau demikian keadaannya, siapakah di antara isteri-isterinya yang telah melakukan perbuatan serong itu?

 Hazrat Hilal bin Umayyah r.a. pernah menikah dengan Fari’ah binti Malik ibnud-Dakhsyam. Ayahnya, Malik ibnud-Dakhsyam, pernah hadir dalam pertemuan Aqabah, pernah ikut Perang Badar, malah dialah yang telah berjaya menawan Suhail bin Amru dalam perang itu, malah Rasulullah SAW pernah mengirimnya bersama dengan Ma’an bin Adi untuk membakar Masjid Dhirar.

 Dia terkenal sebagai seorang mujahid di jalan Allah dan juga salah seorang anggota dari perajurit dakwah.

Pertanyaannya kini, apakah mungkin seorang wanita yang dibesarkan dan diasuh di rumah seorang mujahid seperti Malik ibnud-Dakhsyam itu akan melakukan perbuatan terkutuk seperti itu?

Apakah mungkin seorang wanita baik-baik yang hidup serumah dengan seorang Mukmin yan gtakwa, yang sentiasa berjihad dan mencari syahadah, melakukan hal seburuk itu? Kami kurang yakin seorang seperti itu akan mencemari dirinya dengan perbuatan sehina itu.

Kalau istri yang ini tidak mungkin melakukannya, mungkin isterinya yang kedua yang melakukannya?

Menurut sejarah, isterinya yang kedua ialah Malikah binti Abdullah bin Ubay, pemimpin tertinggi kaum Munafik di Madinah.

Ayahnya, Abdullah bin Ubay, pernah menyebarluaskan isu yang menuduh Sayyidatina Aisyah r.a. melakukan perbuatan serong, yang dikenal dengan hadithul ifki. Dengan demikian, dia telah mencemarkan keluarga Rasulullah SAW dan keluarga Hazrat Abu Bakar as-Siddiq r.a., malah dia juga telah mengancam keutuhan rumah tangga Rasulullah SAW.

Ayahnya juga menjaga beberapa hamba dan mereka diperintahkan untuk mencari uang dengan cara menjual dirinya. Ada di antara para hambanya yang setelah masuk Islam hendak bertaubat dari perbuatan jijiknya itu, namun dia memaksanya dengan kekerasan sehingga perempuan itu mengadukan diri kepada Hazrat Abu Bakar r.a. dan dia menyampaikan keluhannya itu kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW memerintahkan supaya mereka dilindungi.