Kisah Bisyir bin Harits: Seorang Mantan Preman yang Menjadi Sufi Agung

 Kisah Bisyir bin Harits: Seorang Mantan Preman yang Menjadi Sufi Agung

Kisah Imam Baqi bin Mikhlad dan Keutamaan Mencari Ilmu (madina365.com)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sebagai seorang manusia, kita semua berpotensi menjadi seseorang yang tersesat di tengah hiruk pikuk gelapnya keterpurukan.

Karena Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manusia hawa nafsu yang bertindak sebagai ujian sejauh mana seseorang dapat kembali menemukan jalan yang terang.

Sebagaimana kisah hidup seorang sufi Bisyir bin Harits berikut ini.

Semasa kecil, Bisyir bin Harits adalah seorang pemuda yang dikenal sebagai pemabuk.

la gemar mabuk-mabukan dengan mengonsumsi minuman keras.

Kenakalan pemuda ini sudah masyhur di wilayahnya. Namun, pada akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala mengentaskannya dari kebobrokan dengan menjadi sufi sejati.

Ada hal-hal aneh yang sering dilakukan Bisyir bin Harits. Salah satu peristiwa aneh adalah ketika ia mengunjungi rumah saudara perempuannya.

Ia sudah berjanji akan datang sebelum petang. Namun kemunculannya terlihat lain. Ia tampak linglung seperti halnya orang yang tengah kebingungan.

Belum lagi duduk atau berkata sepatah katapun untuk basa-basi, ia malah pergi meninggalkan ruang tamu.

“Aku mau naik ke loteng.” Kata Bisyir bin Harits kepada saudara perempuannya. Saudara perempuannya keheranan dengan sikap aneh Bisyir bin Harits. Namun ia membiarkan saja.

Ketika berjalan di tangga, Bisyir bin Harits berhenti. Ia terdiam di sana sampai waktu Subuh berkumandang.

Sehabis shalat Subuh, saudara perempuannya menemui Bisyir bin Harits.

“Mengapa sepanjang malam kau banya berdiri di tangga itu?” saudara perempuannya bertanya sungguh-sungguh.

“Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa di kota Baghdad ini banyak orang yang memiliki nama Bisyir.

Kau tabu orang Yahudi, Kristen, Majusi juga bernama Bisyir. Aku sendiri muslim dan bernama Bisyir.”

“Itu tidak mengherankan,” kata saudara perempuannya.

“Tapi, aku seperti mendapat kebahagiaan yang besar. Kemudian aku bertanya pada diriku seindiri, apa yang telah aku lakukan sehingga men- dapat kebahagiaan sedemikian besar? Itulah yang membuatku berdiri di tangga itu sepanjang malam tadi.”

“Kau aneh, saudaraku,” kata saudara perempuannya. Tingkah aneh yang pernah dilakukan Bisyir bin Harits bukan cuma itu saja.

Hampir separuh hidup Bisyir bin Harits dijalani dengan perilaku dan pemikiran yang aneh.

Pada suatu hari, Bisyir bin Harits kedatangan beberapa orang tamu dari Syiria.

Mereka bermaksud mengajaknya menunaikan ibadah haji ke Makkah.

“Aku mau,” kata Bisyir bin Harits. “Asal kalian tidak membawa bekal apapun! Kami tak akan bawa bekal,” kata orang-orang Syiria itu.

“Kedua,” kata Bisyir bin Harits. “Kalian tidak boleh meminta belas kasiban orang lain dalam perjalanan sampai ke Makkah dan pulan ke sini lagi.”

“Kami menyanggupi,” kata tamu-tamu itu.

“Ketiga,” lanjut Bisyir bin Harits. “Jika ada orang yang melihat karena iba dan kasihan kepada kalian, kalian tidak usah menerima pem- berian itu. Kalian harus bertawakal kepada Allah.”

“Kami akan belajar semakin tawakal kepada Allah,” kata tamu- tamu itu.

“Bimbinglah kami. Wahai Bisyir bin Harits.”

Akhirnya mereka berangkat menuju Makkah sesuai dengan kesepakatan yang diajukan oleh Bisyir bin Harits kepada mereka.

Jika salah satu ada yang melanggar, maka batallah perjalanan mereka.

Pada saat musim dingin datang, Bisyir bin Harits melepas semua bajunya.

Padahal semua orang mengenakan baju mereka, bahkan berangkap-rangkap untuk mendapatkan kehangatan.

“Hei, Bisyir bin Harits.” Kata seseorang. “Mengapa engkau melepas bajumu? Tidakkah engkau kedinginan?”

“Wahai, kawanku,” kata Bisyir bin Harits.

“Aku teringat pada orang-orang miskin, betapa menderitanya mereka saat ini, sementara aku tidak punya uang untuk membantu mereka, kecuali ikut merasakan penderitaannya.”

Kawan Bisyir bin Harits tidak bisa menjawab apa-apa dengan alasan yang diajukan oleh Bisyir bin Harits.

Ia tertegun dengan jawaban yang terasa ngilu melebihi dinginnya cuaca yang menggigilkan daging makhluk hidup.

Begitulah kisah-kisah aneh yang dilakukan oleh Bisyir bin Harits.

Dulunya dia adalah pemuda berandalan, tetapi setelah bertaubat, kesufiannya amatlah agung. Namanya harum di seluruh kota Baghdad. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *