Kiai Mustofa Bisri Luruskan Istilah “Gus”

 Kiai Mustofa Bisri Luruskan Istilah “Gus”

Gus Mus (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Menanggapi ramainya istilah sebutan Gus, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mencoba meluruskan tentang istilah penggunaan Gus.

Dewasa ini banyak orang menggunakan istilah Gus, bahkan kedudukan istilah Gus seakan keren dibanding dengan sebutan Kiai. Menurut Kiai Mustof Bisri, Gus pada mulanya merupakan istilah untuk menyebut anak Kiai yang masih belum pantas untuk dipanggil Kiai. Untuk itu mereka panggil dengan sebutan Gus.

“G u s , adalah istilah Pesantren untuk menyebut anak kiai yang belum pantas dipanggil k i a i (walau sudah tua sekalipun, seperti halnya Gus Mus),” tulis Kiai Mustofa Bisri melalui akun Facebook pribadinya, dikutip Kamis (14/10/2021).

Kiai Mustofa menjelaskan bahwa boleh jadi setelah fenomena Gus Mik (KH. Hamim Jazuli) dan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), rahimahumãLlãh, istilah/ sebutan itu (Gus) menjadi berubah atau kacau.

“G u s menjadi semacam gelar yang sering dianggap lebih tinggi ketimbang k i a i . Maka hingga dukun pun –yang dulu suka menyebut diri sebagai Kiai atau Ki– kemudian lebih suka dipanggil Gus,” sambung Kiai Mustofa dengan menambah emoticon tertawa.

Dalam unggahannya tersebut, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) melampirkan foto bersama dengan sejumlah Gus yang kini tampaknya pantasnya disebut Kiai bukan Gus lagi. Dalam captionnya, Kiai Mustofa mengaku mulai bingung memanggil para Gus tersebut.

“Gus mus sedang nggedobos, membual, di hadapan putra-putra kiai yang mulai ‘membingungkan’ panggilan mereka (dipanggil g u s atau k i a i),” tulis Kiai Mustofa.

Di dalam foto tersebut tampak antara lain, Yahya Cholil Staquf bin KH. Cholil Bisri (PP. Leteh Rembang); Ahmad Sa’id bin KH. Asrori Ahmad (PP. Wonosari Magelang); Abdul Ghofur bin KH. Maimoen Zubair (PP. Sarang Rembang); Bahãuddin bin KH. Nursalim Al-Hafizh (PP. Narukan Rembang); dan Ulil Abshar bin KH. Abdullah Rifa’i (PP. Cebolek Pati).

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen + nineteen =