Kiai Ma’shum Sepaton, Ulama Abad 19 yang Kitabnya Diterbitkan di Mesir

 Kiai Ma’shum Sepaton, Ulama Abad 19 yang Kitabnya Diterbitkan di Mesir

Kiai Ma’shum Sepaton, Ulama Abad 19 yang Kitabnya Diterbitkan di Mesir (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Kota Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang luar biasa. Selain sebagai kota yang penuh sejarah, Semarang juga banyak melahirkan banyak ulama besar.

Salah satu diantaranya yang paling popular adalah Kiai Sholeh Darat.

Namun di luar nama besar Kiai Sholeh Darat, terdapat nama besar lain yang berasal dari kota Semarang yang tak kalah hebat.

Ulama tersebut tak lain adalah Syaikh Muhammad Ma’shum bin Salim as-Samarani as-Sepatoni atau lebih populer dikenal dengan Kiai Ma’shum Sepaton.

“Beliau berasal dari desa Sepaton, yang sekarang letaknya di dekat kawasan Pasar Johar, Jalan Pemuda di belakang Hotel Belambangan, Semarang,” ungkap cendekiawan NU, Ulil Abshar Abdalla melalui akun TikTok pribadinya dikutip Kamis (22/02/2024).

Lebih lanjut kata Gus Ulil sapaan akrab Ulil Abshar Abdalla, Kiai Ma’shum bin Salim as-Samarani ini menerbitkan kitab di Mesir.

“Beliau menulis hasyiyah syarah (penjelasan syarah) dari kitab Jurumiyah,” jelasnya.

Gus Ulil menjelaskan, kitab Jurumiyah ini adalah kitab pengantar di dalam ilmu nahwu yang sangat terkenal di seluruh dunia Islam.

“Dan kitab Jurumiyah ini disyarahi oleh banyak ulama. Salah satunya adalah Syaikh Sayyid Ahmad bin Zayni Dahlan. Beliau menulis syarah kitab Jurumiyah,” ujarnya.

“Dan syarah ini kemudian dihasyiyahi (disyarahi lagi) oleh ulama dari Semarang dengan judul Tasywiqul Khilan,” kata Gus Ulil.

Jadi kitab Tasywiqul Khilan merupakan hasil hasyiyah atas syarah kitab Jurumiyah yang ditulis oleh Sayyid Ahmad Zayni Dahlan.

Kiai Ma’shum Sepaton sendiri merupakan seorang ulama Semarang yang hidup di akhir abad 19 M. Atau sekitar tahun 1886 Masehi.

Dengan kata kata lain, Kiai Ma’shum Sepaton hidup sejazaman dengan Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Sholeh Darat, Kiai Nawawi Banten, Syekh Mahfud Tremas dan ulama-ulama besar yang lain.

“Beliau nulis kitab ini dan terbit di Mesir. Bayangkan, ulama Semarang nulis kitab diterbitkan di Mesir. Ini menunjukkan betapa besarnya khazanah Islam di Nusantara,” pungkas Gus Ulil. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *