Khutbah

Khutbah Jumat: Hukum Dan Cara Mengimani Takdir


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ قَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا وَجَرَّتِ الأُمُوْرَ عَلَى مَا يَشَاءُ حِكْمَةً وَتَدْبِيْرًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّموَ وَالأَرْضِ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُ الأَمْرَ كُلَّهُ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيْرًا.وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً . صلى الله عليه، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْد

Ma’asyirol muslimin, rohimakumulluh

Bertakwalah serta berimanlah kepada  Allah! Berimanlah kepada ketetapan, takdir, kehendak, dan penciptaan Allah, karena iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman. Keimanan seorang hamba tidak sempurna, sehingga ia bisa mewujudkan keimanan kepada takdir. Ada beberapa pilar yang tanpa itu keimanan kepada takdir tidak sempurna.

Pilar Pertama : Hendaklah kita beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dan menyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatuı yang telah dan sedang terjadi, juga yang akan terjadi pada masa mendatang, di langit dan di bumi, kecuali Allah mengetahuinya. Tidak ada sedikit pun dari semua itu, baik yang rumit maupun yang nyata, yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) , dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh).” (Al-An’am [6] : 59)

Baca Juga :  Hak-Hak Seorang Muslim Terhadap Saudara Muslim Lainnya

Pilar kedua : Hendaklah Kita meyakini bahwa Allah telah menulis takdir segala sesuatu hingga hari kiamat di Lauh Mahfuzh. Jadi, apa pun yang akan terjadi di bumi dan langit telah tertulis di Lauh Mahfuzh, sejak lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Tentang dua pilar keimanan kepada takdir di ataş, Allah telah mengisyaratkan dalam firman-Nya:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. ” (Al-Hajj [22] : 70)

Dalam sebuah hadits disebutkan :

Pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah pena. Allah berfiman kepadanya, ‘Tulislah! ‘ Pena bertanya, Apa yang akan kutulis?’ Allah berfiman, ‘Tulislah apa saja yang terjadi! ‘ Pada saat itu juga ia menulis segala yang terjadi sampai hari kiamat’. “

Pada malam Lailatul Qodar, pena menulis apa saja yang akan terjadi pada tahun itu.

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ 

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. “(Ad-Dukhon [44] : 4)

Dan ketika janin genap berusia empat bulan di perut ibunya, Allah mengutus malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh. Malaikat ini diperintah untuk menulis empat kalimat, yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara ataukah bahagia.

Pilar ketiga : Hendaklah Kita yakin akan kehendak Allah yang bersifat umum, kekuasaan-Nya yang sempurna, serta bahwa apa pun yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, sebaliknya apa pun yang tidak dikehendaki oleh Allah tidak akan terjadi. Segala hal yang telah terjadi di langit dan bumi, baik itu yang merupakan ketetapan-ketetapan Allah maupun perbuatan-perbuatan makhluk, maka itu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak mungkin sesuatu yang besar maupun kecil, penting maupun remeh, terjadi kecuali dengan kehendak dan takdir Allah, dalam jangkauan pendengaran dan penglihatan-Nya. Dia adalah Dzat yang mengetahuinya, menulisnya, menetapkannya, dan memudahkan sebab-sebabnya. Barangsiapa yang beramal sholih, maka ia beramal dengan kehendak Allah, dan barangsiapa yang melakukan kejahatan, itu pun juga dengan kehendak Allah.

Baca Juga :  Islam Anti Kekerasan

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا صُمٌّ وَّبُكْمٌ فِى الظُّلُمٰتِۗ مَنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَّشَأْ يَجْعَلْهُ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya Petunjuk) , niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Al-An’am [6] : 39)

Apa saja yang dilakukan oleh manusia, itu juga dengan kehendak Allah, termasuk makan, minum, jual beli, memberi, menerima, tidur, bangun, serta seluruh gerak dan diamnya, semua itu dengan kehendak Allah . Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk kelemahan dan kecerdikan.”

Pilar keempat : Hendaklah Kita meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, Penetap segala sesuatu dan Pengaturnya agar sesuai dengan tujuan penciptaannya. Allah juga yang menciptakan semua sebab beserta akibatnya, mengaitkan antara hasil dengan sebabnya, menjadikan hasil sebagai akibat dari sebab, dan mengajari para hamba-Nya tentang sebab-sebab Yang mengantarkan mereka untuk mendapatkan hasilnya. Hal itu supaya menjadi pelajaran dan bukti atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka. Allah menciptakan sebab-sebab tersebut untuk memudahkan mereka meraih tujuan yang mereka inginkan, sesuai dengan tuntutan hikmah dan kasih sayang-Nya. Allah telah mengisyaratkan hal ini dalam firmanNya, ”Maka terangkanlah kepadaku tentang nuthfah yang kamu Pancarkan” (Al-Wâqi’ah [561 : 58), hingga firman-Nya, “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Robbmu yang Mahabesar. ‘ (Al-Wâqi’ah [56] : 74)

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh hamba, merupakan akibat dari dua hal, yaitu Pertama, tekad manusia untuk melaksanakannya; tanpa memiliki tekad, tentu ia tidak melaksanakannya; dan kedua, kemampuan melakukan sebab-sebabnya sesuai dengan pengetahuan yang diajarkan oleh Allah kepadanya dan kekuatan yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya untuk melaksanakannya; tanpa memiliki kekuatan untuk melaksanakan perbuatan, pengetahuan tentang sebab-sebab untuk mewujudkannya, dan tekad untuk melaksanakannya, tentulah perbuatan itu tidak terjadi. Tidak diragukan lagi bahwa Dzat yang telah memberikan pengetahuan kepada manusia, serta menciptakan tekad dan kemampuan pada dirinya adalah Allah. Tekad, kemampuan, dan perbuatan manusia, semuanya berada dalam kekuasaan Allah serta di bawah kehendak-Nya.

Baca Juga :  Menyambut Bulan Ramadhan yang Diberkati

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعْجِزَهٗ مِنْ شَيْءٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِۗ اِنَّهٗ كَانَ عَلِيْمًا قَدِيْرًا
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close