Khadijah Mellah, Muslimah Inggris Pertama Pemenang Pacuan Kuda

 Khadijah Mellah, Muslimah Inggris Pertama Pemenang Pacuan Kuda
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sosok muslimah asal Inggris, Khadijah Mellah baru baru ini berhasil mencuri perhatian publik Inggris. Ini menyusul prestasinya dalam memenangkan lomba pacuan kuda.

Mengenakan hijab tak menghalangi dirinya untuk berprestasi di bidang olahraga pacuan kuda. Dengan prestasi yang ia raih itu, ia kini menyandang sebagai muslimah Inggris pertama yang memenangkan kejuaran tersebut.

Bahkan berkah capaiannya itu, Khadijah Mellah menjadi inspirasi baru bagi muslimah muslimah lain untuk optimis dalam lomba pacuan kuda tersebut. Pasalnya selama ini banyak anak muda dari komunitas muslim yang masih kurang terwakili di cabang olahraga ini.

Wanita berusia 20 tahun itu memenangkan pacuan kuda di Piala Magnolia 2019 Goodwood silam. Akademi pacuan kuda yang menjadi tempat Khadijah Mellah belajar yakni Riding A Dream Academy mengaku sangat bangga dengan apa yang dicapai anak asuhnya tersebut.

“Balapan kuda mengubah hidup saya selamanya. Saya berharap dengan ikut serta dalam Riding A Dream Academy ini akan mengubah kehidupan anak muda lainnya juga.” Demikian kata Khadijah dilansir dari About Islam, Senin (24/5/2021).

Sebagai informasi, Riding A Dream Academy merupakan akademi yang dikembangkan oleh Oli Bell dari ITV racing dan kepala PR Naomi Lawson dari Great British Racing. Di mana akademi tersebut didanai langsung oleh Racing Foundation.

Oli Bell mengatakan, dirinya berharap akademi ini bisa memberikan warisan dari prestasi Khadijah. Sementara itu, Susannah Gill, mengaku sedang dengan keberadaan akademi tersebut. Ia merupakan wali dari Racing Foundation dan ketua Diversity in Racing Steering Group,

“The Riding a Dream Academy adalah contoh fantastis dari tindakan positif. Ini yang diperlukan untuk memastikan balapan Inggris adalah olahraga yang beragam dan inklusif. Di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka dan di mana orang-orang dari semua komunitas merasa diterima.”

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

10 − one =