Keunikan Kepemimpinan di NU yang Tak Bisa Ditebak

 Keunikan Kepemimpinan di NU yang Tak Bisa Ditebak

Kiai Ma’ruf Khozim (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam sejarahnya yang panjang, Nahdlatul Ulama (NU) telah melewati berbagai suksesi kepemimpinan. Sepanjang suksesi kepemimpinan itu pula NU memiliki cerita unik dan selalu sulit untuk ditebak.

Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur, KH. Ma’ruf Khozin. Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan di NU itu sangat unik, tidak bisa ditebak.

“Mari perhatikan perjalanannya, saat Kiai Wahab sudah sepuh para Muktamirin memilih KH Bisri Syansuri, namun beliau mengundurkan diri dan tidak mau menjadi Rais Am selama Kiai Wahab masih sugeng (hidup),” ungkap Ma’ruf Khozin dilansir dari akun Facebook pribadinya dikutip, Kamis (14/10/2021).

Pada Muktamar 27 di Situbondo, lanjut Ma’ruf Khozin, sebenarnya para kiai sepuh sudah saling tunjuk antara Kiai As’ad, Kiai Mahrus dan lainnya. Semua saling menolak sambil bercanda dengan membawa-bawa Malaikat segala.

“Para kiai sudah menghendaki Kiai Sahal Mahfudz sebagai Rais Am, tetapi Kiai As’ad lebih condong kepada Kiai Ahmad Siddiq, akhirnya beliau terpilih bersama Gus Dur pada tahun 1984,” jelasnya.

***

Kemudian Muktamar di Cipasung 1994 yang paling ‘menegangkan’. Dimana lagi-lagi Kiai Sahal digadang-gadang menjadi Rais Am, tapi beliau mengalah dan mendahulukan Kiai Ilyas Ruhiyat menjadi Rais Am.

“Baru pada Muktamar NU di Lirboyo, 1999, para kiai aklamasi memilih Kiai Sahal,” ungkap Ma’ruf Khozin.

Selanjutnya pada Muktamar di Jombang menggunakan sistem baru, yaitu AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) yang terdiri dari para kiai sepuh berwenang menunjuk Rais Am.

“Saya mendengar sendiri dari Syuriah PWNU Jatim bahwa dari sistem AHWA ini yang dikehendaki menjadi Rais Am adalah KH Maimun Zubair. Saat AHWA berkumpul justru Kiai Maimun tidak berkenan. Akhirnya disepakati Kiai Mustofa Bisri dan wakilnya KH Ma’ruf Amin,” jelasnya.

***

Di luar dugaan Gus Mus mengajukan surat pengunduran diri. Kiai Ma’ruf Amin mau tidak mau harus mau. Sebab kalau beliau ikut mundur maka terjadi kekosongan di organisasi Ahlusunah wal Jamaah terbesar di dunia ini.

Beliau kemudian bercanda: “Saya ini Rais Am min Haitsu La Yahtasib, terpilih karena diluar dugaan,” ungkap Ma’ruf Khozin menirukan ulang.

Pada 2015 Kiai Miftah sedang menjadi Rais Syuriah PWNU Jatim. Utusan Kiai Ma’ruf Amin datang agar Kiai Miftah menjadi Wakil Rais Am. Kiai Miftah menolak. Sampai pada akhirnya Kiai Ma’ruf Amin akan mundur jika Kiai Miftah terus menolak. Akhirnya Kiai Miftah menjadi Wakil Rais Am.

Ketika Kiai Ma’ruf Amin “dipinang” menjadi Wapres, Kiai Miftah sudah tidak keluaran rumah, beliau lebih banyak berdiam diri di pondok kawasan Kedungtarukan Surabaya ini. Kiai Miftah tidak berkenan menjadi Pejabat Rais Am sampai Muktamar berikutnya.

Namun karena peraturan organisasi mengharuskan, apalagi ada dawuh dari Kiai Maimun Zubair dan Kiai Nawawi Sidogiri, maka Kiai Miftah tidak bisa mengelak. Beliau sering dawuh: “Saya menjadi Rais Am ini karena Dharuri bi Syabkah”, darurat karena peraturan organisasi (Syabkah plesetan dari Syaukah: Kekuasaan).

“Para Kiai itu memiliki keluasan hati dan pikiran, kita saja yang selalu tegang kurang candaan karena terbawa situasi serba online. Mari kita sambut Muktamar (22-24 Desember di Lampung) sambil tersenyum riang gembira di sebelah istri,” pungkas Ma’ruf Khozin.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − 14 =