Cancel Preloader

Ketika Abu Mihjan dan Nabi Khidir

 Ketika Abu Mihjan dan Nabi Khidir

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Dalam kitab al-Futuh, dikisahkan Saif meriwayatkan. Suatu ketika sekelompok orang yang sedang bersama Sa’ad bin Abi Waqqash, dan menyaksikan Abu Mihjan sedang bertempur (Misteri Nabi Khidir, 2015, hal. 135).

Kisah tentang Abu Mihjan ini diceritakan secara panjang lebar dalam kitab tersebut. Disebutkan pula, orang-orang (yang sedang bersama Sa’ad bin Abi Waqqash) itu mengatakan: “Lelaki itu tak lain adalah Khidir,” meskipun mereka tidak mengenalnya.

Ungkapan ini menunjukkan bahwa mereka meyakini keberadaan Nabi Khidir ketika itu. Sementara Abu Abdullah bin Baththah al-‘Akbari al-Hambali mengungkapkan kisah dari Syu’aib bin Ahmad bin Abu al-Awam.

Dia mendapatkan kisah dari ayahnya. Dari Abyan bin dari Ibrahim bin Abdul Hamid al-Wasithi, Sufyan, dari Ghalib bin Abdullah al-‘Uqaili, yang bersumber dari Hasan Bashri.

Dia Berkata, “Seorang lelaki Ahlus Sunnah dan Ghailan al-Qadri berselisih pendapat tentang permasalahan takdir. Mereka akhirnya bersepakat untuk menjadikan orang pertama yang muncul dari arah yang mereka setujui untuk menjadi hakim.

Maka muncullah seorang lelaki pedalaman, dia melipat mantelnya dan meletakkannya di pundaknya. Kedua lelaki yang sedang berselisih itu lantas berujar: ‘Kami telah bersepakat untuk menjadikanmu sebagai hakim atas perkara yang kami perselisihkan.’

Lelaki itu lalu melipat pakaiannya, duduk di atasnya kemudian berkata: ‘Duduklah kalian berdua.’ Kedua orang yang berselisih itu pun duduk. Lelaki yang menghakimi keduanya itu lalu memutuskan bahwa Ghailan al-Qadrilah-lah yang bersalah.

Berkaitan kisah di atas, Hasan Bashri mengatakan, “Lelaki yang menghakimi itu adalah Nbai Khidir.” Namun dalam daftar perawi kisah tersebut ada nama AByan bin Sufyan, yaitu seorang perawi yang matruk (ditinggalkan).

Wallahu’Alam bi Showab

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 4 =