Kesamaan Negeri Kita, Indonesia, dengan Turki

 Kesamaan Negeri Kita, Indonesia, dengan Turki

Melihat Kiprah Politik Perempuan di Masa Nabi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Meskipun Turki telah memiliki peradaban gemilang dan masuk destinasi wisata dunia, saya tetap ingin kembali ke Negeri asli saya. Kecintaan kepada Negeri sendiri diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Sahabat Anas meriwayatkan:

«ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﻗﺪﻡ ﻣﻦ ﺳﻔﺮ، ﻓﺄﺑﺼﺮ ﺩﺭﺟﺎﺕ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﺃﻭﺿﻊ ﻧﺎﻗﺘﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺩاﺑﺔ ﺣﺮﻛﻬﺎ ﻣﻦ ﺣﺒﻬﺎ»

“Jika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tiba dari perjalanan dan melihat rumah-rumah Madinah maka Nabi mempercepat kendaraan dengan menggerakkan untanya karena kecintaan Nabi kepada Madinah” (HR Bukhari no 1803)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

ﻭﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺩﻻﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﻓﻀﻞ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺣﺐ اﻟﻮﻃﻦ ﻭاﻟﺤﻨﻴﻦ ﺇﻟﻴﻪ

Hadis ini menunjukkan tentang keutamaan Kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air serta rindu terhadap negeri (Fathul Bari, 7/621)

Selama perjalanan ke Turki, saya tidak akan menulis ulang beberapa dalil dan amalan umat Islam di Turki. Saya menambahkan dalil Amaliah Ahlusunah wal Jamaah di Turki yang ada kesamaan dengan Negeri kita:

– Amaliah

Mazhab Fikihnya adalah Hanafi, zikir setelah salat yang saya jumpai imam mengeraskan bacaan zikir hampir sama dengan umat Islam di Indonesia. Shaf salat berjarak karena sedang pandemi. Soal Qunut Subuh dan bacaan Basmalah dalam Fatihah memang tidak sama dengan Mazhab Syafi’i.

– Kubah Kuburan

Baik makam para Sultan atau ulama saya temukan memiliki kubah yang besar, bahkan makam umum saja batu nisannya seperti tiang besar seukuran orang berdiri. Ternyata dalam literatur kitab sejarah makam Imam Abu Hanifah juga memiliki bangunan di atasnya seperti yang disampaikan oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi:

تُوُفِّيَ (اَبُوْ حَنِيْفَةَ) شَهِيْدًا مَسْقِيًّا فِي سَنَةِ خَمْسِيْنَ وَمِئَةٍ. وَلَهُ سَبْعُوْنَ سَنَةً، وَعَلَيْهِ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ وَمَشْهَدٌ فَاخِرٌ بِبَغْدَادَ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

“Abu Hanifah wafat sebagai syahid pada 150 H, usianya 70 tahun dan diatas makamnya ada kubah besar dan makam yang megah di Baghdad” (Siyar A’lam an-Nubala’ 6/403)

– Amalan Tahunan

Di Turki ada amalan tahunan yang sama dengan Indonesia, kita mengenalnya perayaan hari besar Islam. Di Turki memiliki nama:

  1. Regaip Kandili, malam Jumat pertama di bulan Rajab
  2. Miraç Kandili, Isra Miraj
  3. Berat Kandili, Nisfu Sya’ban
  4. Kadir Gecesi, lailatul qadar
  5. Mevlid Kandili (Mawlid an-Nabi) – The birth of Muhammad

Perbedaannya adalah amalan Raghaib, kita di Indonesia tidak mengamalkan karena hadisnya dinilai palsu oleh Imam Nawawi dan para pentarjih Mazhab Syafi’i lainnya. Meskipun Imam Ghazali mencantumkan dalam kitab Ihya’.

Hadis tentang Salat Malam Nishfu Sya’ban dan Salat Raghaib ini sama-sama dinilai sebagai hadis palsu. Namun tetap saja ada ulama yang berbeda dalam hal pengamalannya. Salat Nishfu Sya’ban saja masih ditemukan ulama besar yang mengamalkan:

ﻗﺎﻝ اﻟﺤﺎﻓﻆ اﻟﻀﻴﺎء: ﻭﻛﺎﻥ اﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺟﻤﻊ ﻟﻪ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻔﻘﻪ، ﻭاﻟﻔﺮاﺋﺾ، ﻭاﻟﻨﺤﻮ، ﻣﻊ اﻟﺰﻫﺪ ﻭاﻟﻌﻤﻞ. ﻗﺎﻝ: ﻭﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻜﺎﺩ ﻳﺴﻤﻊ ﺩﻋﺎء ﺇﻻ ﺣﻔﻈﻪ ﻭﺩﻋﺎ ﺑﻪ، ﻭﻻ ﻳﺴﻤﻊ ﺫﻛﺮ ﺻﻼﺓ ﺇﻻ ﺻﻼﻫﺎ، ﻭﻻ ﻳﺴﻤﻊ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﺇﻻ ﻋﻤﻞ ﺑﻪ. ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻧﺼﻒ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻣﺎﺋﺔ ﺭﻛﻌﺔ

Al-Hafidz Dhiyauddin (643 H) berkata: “Allah telah menghimpun pengetahuan fikih, faraidl dan nahwu kepada Ibnu Qudamah (629 H dari Mazhab Hambali), juga sifat zuhud dan beramal. Hampir tidak pernah Ibnu Qudamah mendengar doa kecuali ia hapal dan membacanya. Ia tidak pernah mendengar tentang salat kecuali ia melakukannya. Dan ia tidak pernah mendengar sebuah hadis kecuali ia amalkan. Ia menjadi imam Salat 100 rakaat di malam Nishfu Sya’ban” (Al-Hafidz Ibnu Rajab, Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 3/113)

Intinya, seperti kata kawan saya yang ikut dalam rombongan Santri Goes To Istanbul. “Kalau masih merasa aneh dengan perbedaan sesama umat Islam, berarti dia kurang jauh jalan-jalannya,” pungkas teman saya.

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *