Kenapa Fiqih Lebih Diminati daripada Tasawuf?

 Kenapa Fiqih Lebih Diminati daripada Tasawuf?

Khazanah Keilmuan dalam Ilmu Fikih (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menilai banyak umat Islam lebih tertarik fiqih dibanding tasawuf. Mengapa demikian?

 

Dalam hal ini, Gus Bahauddin atau Gus Baha memiliki penjelasan tersendiri mengenai hal itu. Ia menjelaskan sistem kerja fiqih yang bersifat fleksibel dalam kehidupan sehari-hari menjadikan fiqih lebih banyak diminati.

 

Sementara tasawuf cenderung menganggantungkan semuanya kepada kepasrahan kepada Allah SWT dan dinilai statis.

 

Gus Baha mencontohkan ketika seseorang punya tetangga, ia selalu didholimi oleh tetangganya, maka si korban ini akan pasrah.

 

Ia akan menilai bahwa tetangga yang menyakitinya tersebut sebagai qudrotulloh untuk menyakiti dirinya.

 

Dimana Allah menginginkan dirinya memiliki banyak pahala lewat disakiti orang lain. Cara berpikir demikian ini merupakan pendekatan tasawuf.

 

Sebaliknya kalau dalam pendekatan fiqih, orang yang didholimi oleh orang lain, dibolehkan untuk membalasnya.

 

Dimana dengan alasan untuk menghentikan perilaku dholim dari seseorang yang telah berbuat buruk.

 

“Misalnya Zaid marah-marah terus ke kamu, kalau kamu gak balas, ia bakal marah terus ke kamu nanti. Terus kamu balas, itu untuk menghentikan kemungkaran,” kata Gus Baha dalam video yang diunggah akun Instagram @ngajigusbaha dikutip Selasa (9/5/2023).

 

Dalam kasus inilah, menurut Gus Baha, fiqih lebih banyak diminati umat muslim, dibanding dengan tasawuf.

 

“Makanya fiqih itu peminatnya banyak, sebab lebih seru. Jadi segalanya bisa tersalurkan. Sementara tasawuf itu peminatnya gak banyak. Karena orang yang dimarahi harus bilang alhamdulillah,” jelasnya. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *