Kemunculan Intelektual Muslim dan Pembaharuan Wacana Islam di Indonesia

 Kemunculan Intelektual Muslim dan Pembaharuan Wacana Islam di Indonesia

Mengambil Pelajaran dan Haul Sang Guru (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Beragamnya corak pemikiran intelektual muslim keagamaan yang berkembang dalam sejarah Islam di Indonesia dari Islam yang bercorak sufistik, tradisionalis, revivalis hingga modernis memperteguh kekayaan khazanah keislaman negeri ini.

Fenomena tersebut merupakan bukti adanya berbagai pengaruh yang masuk dan turut mempengaruhi wacana Islam yang berkembang di Indonesia.

Dalam perspektif sejarah perkembangan intelektual, hal tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran visi dan orientasi di dalam corak pemahaman keagamaan di kalangan muslim Indonesia.

Intelektual muslim menguat pada abad ke-20 yang sekaligus  mengawali bangkitnya modernitas di dunia Islam.

Latar belakang munculnya intelektual muslim tidak lepas dari lahirnya Orde Baru.

Pada masa Orde Baru umat Islam dari kalangan tradisionalis terutama dikalangan modernis masih tetap berkeinginan untuk melestarikan pemikiran-pemikiran formalisme pendidikan.

Lalu munculah orientasi baru intelektual muslim Indonesia dalam berhadapan dengan penguasa. Hal tersebut sekaligus menjadi respon atas tuntutan Orde Baru mengenai kebijakan modernisasi.

Kandungan intelektual pembaharuan ini merupakan suatu usaha untuk merumuskan kembali secara umum postulat-postulat Islam mengenai Tuhan, manusia dan alam materi serta cara mengkoneksikan semua itu di bawah sinaran realitas politik yang ada.

Sekitar abad ke-20 an muncul wacana-wacana besar seperti marxisme, sosialisme dan kumunisme yang marak di kalangan masyarakat.

Kemunculannya sebagai respon atas berbagai kemerosotan ekonomi akibat industriliasi Hindia-Belanda.

Dalam menanggapi hal ini, para tokoh pergerakan Islam terbelah menjadi dua kubu.

Kubu pertama yaitu tokoh yang menolak marxsisme dan komunisme, tetapi tetap memunculkan wacana sosialisme Islam dengan mengacu pada pokok-pokok ajaran Islam.

Tokoh utama dari kubu ini adalah H.O.S. Tjokroaminoto yang didukung oleh Agus Salim.

Kubu kedua adalah mereka yang menerima afiliasi marxsisme dan komunisme dengan Islam.

Kubu ini menganggap dalam esensinya tujuan komunisme sama dengan apa yang ada dalam ajaran Islam yaitu pembebasan terhadap kaum lemah.

Tokohnya adalah Hadji Mohammad Misbach dan Haroenrasyid. Buku-buku hasil karya Tjokroaminoto di antaranya ialah Islam dan Sosialisme, Tarich Agama Islam, Riwayat dan Pemandangan atas Nabi Muhammad dan Perjalanan Nabi Muhammad Saw, dan masih banyak lagi.

Keluasan ilmunya membuatnya pernah menjadi guru tokoh besar Indonesia seperti Soekarno, Tan Malaka, Muso dan sejumlah tokoh pergerakan lain.

Para pemikir Islam kontemporer abad ke-20 sempat menjadi heboh, karena kemunculan mereka sebelumnya sama sekali tidak diprediksikan.

Para cendekiawan tersebut dengan sangat mengapresiasi wacana-wacana keislaman yang berkembang dengan sangat riuh.

Sikap apresiatif terhadap wacana keislaman itu adalah diwakili oleh kelima tokoh antara lain adalah Munawwir Sjadzali, Nurcholis Madjid, Abdurraman Wahid, Dawam Rahardjo dan Jalaluddin Rakhmat.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya para cendekiawan telah menuangkan ide dan gagasan segarnya sebagai sumbangan pemikiran keislaman yang sangat berguna bagi pengembangan umat beragama di Indonesia.

Contoh beberapa pemikiran cendekiawan muslim di Indonesia adalah Nurcholis Madjid atau yang dikenal dengan Cak Nur.

Cak Nur ini merupakan tokoh intelektual yang berpikir realistis akomodasionis, dan dianggap sebagai intelektual gerakan pembaharu teologis atau keagamaan.

Pemikiran Cak Nur yang dianggap kontroversial adalah mengenai ‘sekularisasi’ pemikiran Islam.

Sekularisasi Cak Nur adalah salah satu bentuk ‘liberalisasi’ kebebasan terhadap pandangan yang keliru yang telah mapan.

Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin sebagai sekularis.

Sekularisme dimaksudkan untuk menduaniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan menyakralkannya.

Sementara sekularisme adalah suatu paham keduniawian yang mana  bertentangan dengan hampir seluruh agama yang ada di dunia karena membentuk filsafat tersendiri dan pandangan-pandangan baru yang berbeda.

Dalam gagasannya, Tjokro mencoba membangun perspektif Alquran dalam rangka memahami realitas dengan memahami ajaran-ajaran sosial dalam Alquran.

Dengan memahami ajaran-ajaran sosialnya, dapat dikatan bahwa Islam sangat revolusioner karena selalu menghendaki transformasi struktural.

Maksudnya Islam selalu berusaha merombak struktur-struktur ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.

Pemahaman terhadap Alquran yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial sangat jarang dilakukan pada masa itu.

Kebanyakan para intelektual memahami Islam pada aspek ibadah ritual, sedangkan realitas empiris kurang diperhatikan.

Ada tiga pilar utama untuk menyokong sosialisme religius (Islam).

Pertama, gerakan sosial yang memperjuangkan tatanan struktural yang berkeadilan. Kedua, gerakan humnistik yang menyapa sesamanya berdasarkan kemanusiaan, bukan tas dasar primordialisme agama, suku, ras, dan kelompok.

Ketiga, religuisitas, yaitu spirit beragama yang dilandasi semangat pembebasan dan humanistik yang beribadah kepada Tuhannya dengan cinta dan soliter.

Selain Tjoroaminoto, ada seorang intelektual muslim yaitu Hadji Mohammad Misbach yang mengembangkan pemikiran keselarasan Islam dengan komunisme.

Pengetahuannya tentang komunisme beliau dapatkan dari pergauannya dengan tokoh-tokoh komunis seperti Tan Malaka, Semaoen, Alimin, dan Mas Marco Kartodikromo.

Pemikirannya tentang komunisme Islam dituangkan dalam artikel yang berjudul Islamisme dan Komunisme yang ditulis pada 1925 ketika beliau berada dalam pembuangan di Manokwari, Irian Jaya.

Dalam artikel tersebut, Misbach ingin mempertegas bahwa posisi ajaran Islam terhadap ajaran komunis sejajar.

Sikap ini sangat bertentangan dengan pemikiran Tjokroaminoto yang memposisikan Islam lebih tinggi dari konsep marxisisme, sosialisme, dan komunisme.

Di antara pokok pemikiran Misbach adalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Menurutnya, keimanan dalam hati belum berarti apa-apa apabila belum ada perbuatan yang membuktikannya.

Keimanan seseorang sudah seharusnya dimanifestasikan dalam prilaku keseharian. Refleksi keimanan yang diwujudkan dalam perbuatan, dalam istilah Misbach disebut sebagai ‘gerakan’.

Sehubung dengan sikap hipokrit kemusliman seseorang, Misbach mengacam seorang muslim atau organisasi yang menggunakan Islam sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Bahkan dalam salah satu tulisannya Hadji Misbach menuduh Muhammadiyah dan SI pimpinan Tjokroaminoto sebagai gerakan Islam yang tidak didasarkan apada ajaran Islam yang sesugguhnya.

Bagi Misbach perlu adanya konsep Islam bergerak dalam membebaskan kaum-kaum tertindas dan beliau menganggap kerangkanya berada pada ajaran komunisme.

Oleh karenanya, ia menginginkan adanya persatuan antara ide-ide yang ada dalam ajaran Islam dengan komunisme.

Islam dan komunisme sama-sama menentang atas penindasan terhadap manusia dan sama-sama menganggap kapitalsme sebagai ancaman.

Dalam pandangan Misbach, seseorang yang tidak menyetujui konsep komunisme, mustahil menjadi Muslim yang sejati.

Hadji Misbach berasal dari generasi intelektual baru yang ingin melihat Islam sebagai alat efektif untuk mencipaakan tatanan sosial yang adil dan baik di era indutri.

Ia merasa perlu melakukan reinterpretasi ulang ajaran Islam yang menciptakan keadilan sosial-ekonomi.

Menurut analisis George D. Larson, corak komunisme Islam yang dianut Misbach adalah suatu campuran antara ajaran Muhammad (Islam), Karl Marx, dan wawasan abangan tradisioal.

Konversi Misbach ke dalam komunisme merupakan sebuah upaya untuk menggali dan membuktikan keaslian ajaran Islam dengan menyerang semua pernyataan mereka yang telah membelokkan ajaran Islam dengan kerangka berpikir Karl Marx.

Selain itu konversinya adalah tipikal dari intelektual Muslim Jawa yang berusah menggali ajaran-ajaran Islam dengan sudut pandang ideologi modern.

Itulah sekilas mengenai kemunculan intelektual muslim beserta pengaruhnya terhadap pembaharuan wacana Islam di Indonesia.

Lutfi Maulida

Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta. Perempuan yang menyukai bacaan, film/series dan kuliner. Dapat disapa melalui Instagram @fivy_maulidah dan surel [email protected]

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eight + 4 =