Keluarga Berencana Dalam Kajian Hukum Islam

 Keluarga Berencana Dalam Kajian Hukum Islam
Digiqole ad

Adalah tentang pembatasan keturunan, Islam menolak ungkapan ini dan tidak merelakannya, karena pembatasan keturunan mengandung makna tidak percaya kepada Allah uang menanggung rezeki sebagaimana firman Allah swt:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud (11) : 6)

Orang-orang yang mempropagandakan pembatasan keturunan juga mempropagandakan untuk meringankan beban hidup bagi individu dan umat. Mencegah kehamilan karena fakir atau takut fakir seperti membunuh anak. Allah melarang hal ini dengan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ

Artinya: “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan…..” (QS. Al-An’am (6) : 151)

Janganlah engkau membunuh anak-anakmu karena fakir yang didapatkan, sesungguhnya Allah yang memberi rezeki engkau dan mereka. Di sini Allah mendahulukan rezeki orangtua terlebuh dahulu. Oleh karena itu, Allah menenangkan rezeki orangtua terlebih dahulu kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa Allah juga memberi rezeki kepada anak-anak dan rezeki anak-anak tidak mengurangi rezeki orangtua.

Ayat di atas memberi tahu kepada orang yang khawatir nasib anak-anak mereka setelah mereka meniggal dunia “agar engkau tidak takut”. Firman Allah swt :

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-isra (17) : 31)

Dalam ayat mendahulukan kata أَوْلَادَ (anak-anak) daripada bapak-bapak, hal ini memberikan pengertian bahwa Allah memberi rezeki orangtua karena sisi anak-anak mereka atau mengikut rezeki anak-anak mereka. Dengan demikian, anak-anak mukmin yang percaya kepada Tuhannya agar memperbanyak anak agar rezekinya diperluas Allah. Mendahulukan kata ‘anak-anak’ ini memberi pengertian bahwa Allah sebagaimana memberi rezeki kepadamu karena merawat anak-anak kecil, sesungguhnya Allah memberi rezeki mereka untuk merawatmu pada saat lemah.

  • KB yang Diperbolehkan dalam Islam

Ungkapan pembatasan keturunan memang diharamkan dalam Islam. Sebagaimana dimaklumi apa nama yang pantas yang membolehkan kondisi penangguhan kehamilan atau mencegah karena darurat?. Nama KB yang dating pada lisan sahabat da Fuqaha’ adalah ‘azel (penumpahan air sperma diluar alat kelamin wanita ketika bersetubuh). Terkadang sebagian orang sekarang menyebutnya dengan istilah penjarangan kehamilan atau mencegah kehamilah karena darurat.

Bagi kita tidak ada kesamaran lagi bahwa niatlah yang menjadi ukuran halal dan haramnya KB. Barangsiapa yang melakukan ‘azel karena ingin mengecilakan jumlah keluarga agar ringan beban materi berarti sungguh telah jatuh pada perbuatan terlarang.

  • KB yang Diharamkan dalam Islam

Di antara sesuatu yang dimaklumi secara gamblang bahwa mencegah kehamilan secara total hukumnya haram menurut syara’. Demikian itu misalnya mencabut rahim wanita, vasektomi atau tubektomi atau salah satunya mengambil sebab-sebab kemandulan. Sebagaimana firman Allah swt :

فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

Artinya: “…dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. An-Nisa (4) : 119)

Akan tetapi, ketika ada keterangan yang pasti bahwa kehamilan seorang wanita anak mendatangkan bencana yang dapat dibuktikan dan bahwa kondisi ini secara kontinu, maka boleh saja mencegah kehamilan dengan alat kontrasepsi apapun, karena darurat memperbolehkan larangan.

  • Beberapa Kondisi Boleh KB
    Boleh saja dalam Islam KB dengan alat kontrasepsi, jika dalam beberapa kondisi berikut :
  1. Ketika kehamilan dan kelahiran beruntunbagi seorang ibu yang sulit dan tidak mampu merawat anak-anaknya, memnyebabkan penderitaan yang tidak mampu diemban, dan suami tidak mampu mendatangkan pembantu dalam pendidikan. Dalam kondisi ini diperbolehkan bagi seorang ibu melakukan KB untuk penjarangan kehamilan agar tidak memberatkannnya dan tidak memberatkan pada dirinya. Sesungguhnya Allah menghendaki hambanya hal yang mudah, sebagaimana firman Allah swt :
    يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
    Artinya: “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…..” (QS. Al-Baqarah (2) : 185)
    Allah tidak menjadikan kesulitan atas dalam melaksanakan agama.
  2. Jika wanita hamil dikhawatirkan bahwa susunya yang dibutuhkan anaknya sampai sebelum disapih kering. Padahal ibunya sendiri dinyatakan sebagai ibu susu karena tidak ada lagi seorang ibu susu dan adakalanya anak tidak menerima susu orang lain.
  3. Jika kedua orangtuanya di sebuah negara yang dikhawatirkan terjadi bencana atau musuh mengenai anaknya, bagi mereka boleh menangguhkan kehamilan sehingga aman.
  4. Jika kedua orangtua atau salah satunya terkena penyakit menular dan dikhawatirkan akan menular kepada anak, keduanya boleh menangguhkan kehamilan sampai sembuh total.

Sumber: Buku Fiqh Munakahat Khitbah, Nikah, dan Talak karya Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam, Prof. Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas (Guru besar Univ. Al-Azhar Mesir).

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen + 9 =