Kebijakan Seorang Kiai

 Kebijakan Seorang Kiai

HIDAYATUNA.COM – Sebagai ketua keamanan di Pondok Tambakberas, Gus Dur, yang kendati merupakan keponakan dari pengasuh pondok, termasuk santri yang taat dan teguh terhadap amanah kiai. baginya mengingkari  dowuh kiai, walau hanya berupa gerundelan dalam hati adalah merupakan su’uladab yang bisa berakibat pada terkikisnya manfaat dan barokah ilmu. Meski juga tak jarang terhadap temannya muncul sifat iseng dan mbelingnya.

“itu merupakan Otoritas kiai…”demikian prinsip seorang santri Saat tunduk dan patuh terhadap kebijakan kiai sebagai pemilik kewenangan tertinggi di pondok dalam memutuskan suatu masalah yang tidak bisa diputuskan oleh para pengurus. Seorang guru bertindak memutuskan sesuatu lebih karena berdasar pada ketajaman isyarah yang beliau peroleh dari kedekatannya dengan Gusti Yang Maha Kuasa, yang tak jarang hal tersebut berada di wilayah kemampuan akal sang murid untuk menafsirkannya, kecuali orang-orang tertentu, maka lebih aman bagi murid adalah mendahulukan husnudzon kepada guru.

Beberapa bulan terakhir Gus Dur cukup dibuat pusing dan geregetan oleh ulah seorang santri yang sudah sangat kelewatan dan membuat kelabaka para pengurus pondok, terutama pengurus bidang keamanan. la juga banyak menerima pengaduan dari para santri tentang hal-hal yang mengganggu  stabilitas ketertiban pondok.

Kasak kusuk ramai di kalangan santri, ada seorang yang sering keluar masuk dan mengintip asrama pondok putri. Tapi selama itu pula belum bisa ditemukan satu bukti pun yang bisa dijadikan dasar untuk menangkap dan melaporkan santri tersebut kepada kiai atau pengasuh pondok.

Selidik punya selidik, setelah melakukan investigasi secara mendalam serta tak ketinggalan memasang beberapa umpan jebakan, akhirnya digelarlah razia serentak, seluruh almari santri putra diperiksa satu persatu, Hingga terkuaklah misteri menghebohkan itu. Di dalam almari salah satu santri ditemukan berapa pakaian dalam. Setelah diselidiki lebih lanjut terbukti bahwa pakaian dalam tersebut merupakan milik santri pondok putri.

Sebagai tersangka tunggal adalah seorang santri yang berasal dari Jawa Barat. Hal tersebut ditindaklanjuti melalui proses persidangan khusus. Akhirnya diputuskanlah sanksi bagi santri tersebut. la harus disowankan ke pengasuh Hingga akhirnya diputuskan oleh para pengurus untuk menyowankan santri Tersebut kepada Kiai Fattah. Dalam aturan pesantren. bila sebuah pelanggaran

Sampai dibawa ke tingkat pengasuh, maka itu artinya pelanggaran yang  dilakukan adalah merupakan pelanggaran yang tidak main-main. Sanksinya juga tidak main-main.

pelanggaran yang dilakukan santri tersebut bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya ia pernah berulang kali melakukan pelanggaran yang lain, mencuri kulit bedug di Masjid Jamik Tambakberas, Namun dengan pertimbangan stadium pelanqqaran dan alasan yang mendasarinya santri tersebut cukup mendapatkan takziran ringan dan cukup diatasi oleh pengurus. Tapi pelanggaran kali ini beda.

Selanjutnya disowankanlah santri tersebut ke Kiai Fattah sambil membawa barang bukti berupa pakaian dalam “Ada apa Dur?. Apa itu?, Tanya Kiai Fattah. barang bukti hasil hasil curian santri dari asrama pondok putri. kiai Kami temukan di dalam almarinya,’jawab Gus Dur. Tanya Kiai Fattah, “Terus maunya bagaimana kok disowankan saya? “Hasil musyawarah pengurus sepakat untuk mengeluarkan santri ini kiai” imbuh Gus Dur dengan tegas dan mantab. Santri itupun hanya hanya menunduk tanpa berani mengucap sepatah kata.

Di luar dugaan. Kiai Fattah menjawab, “Owaah santri bermasalah kok lapor saya. Laporkan saja santri yang sudah baik dan pintar Santri itu dipondokkan dan dipasrahkan ke saya karena belum menjadi baik” Gus Dur dan teman pengurusnya mati kutu dengan jawaban tersebut, “Terus pripun, Kiai” Kiai Fattah menjawab, “Sudah, begini saja… saya hargai hasil musyawarah kalian untuk mengeluarkan santri itu dari pondok. Selanjutnya tempatkan dia di kamar depan rumah saya, Biar dia ikut saya dan mudah mengawasinya.. Meski kebingungan dengan putusan tersebut, tak satu pun dari pengurus yang berani mengajukan protes atas kebijakan Kiai Fattah.

Seiring berjalannya waktu setelah kejadian itu karena santri tersebut ditempatkan di kamar depan ndalem kiai, maka Jadilah ia orang pertama yang selalu ditemui oleh Kiai Fattah Saat hendak berangkat jemaah dan mengajar. disuruh membawakan kitab dan menandai batasan halaman kitab serta menyiapkan tempat shalat, hal tersebut sampai bertahun-tahun. Hingga mau tak mau santri itu pun terpaksa mengikuti laku kebiasaan Kiai Fattah dan menjadi pola hidupnya yanq baru. Sampai tiba waktunya santri itu disuruh pulang oleh Kiai Fattah.

Setelah sekian tahun kejadian menghebohkan itu berangsur terlupakan. Hingga Gus Dur dan santri tersebut sama-sama telah menjadi alumni. Saat keduanya bertemu dalam satu kesempatan, Gus Dur terheran dan senyum- senyum, entah karena memang sudah nasib atau kebetulan, atau karena ketekunan munajat dan tirakat kiai, si santri kini menjadi seorang kiai dengan santri yang cukup di sebuah daerah di Jawa Barat.


[i] Tim Sejarah Tambakberas, Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah, (Jombang: Pustaka Tambakberas, 2017)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *