Kebenaran Paradoks dalam “Perempuan di Titik Nol”

 Kebenaran Paradoks dalam “Perempuan di Titik Nol”

Nawal El Sadawi, Penulis Novel “Perempuan di Titik Nol” (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Rasanya belum bisa dikatakan aktivis—paling tidak mengaku pegiat—feminisme jika belum membaca Perempuan di Titik Nol-nya Nawal el- Saadawi. Sebuah buku yang mengguncang dunia pada akhir abad ke-20.

Nawal bukan saja berhasil menempatkan perempuan dalam titik terendahnya. Sebagaimana yang dilukiskan dalam judul yang sudah dialihkan ke bahasa Indonesia, melainkan juga lebih dari nol, minus satu dan seterusnya. Di sisi lain, Nawal juga berhasil menempatkan perempuan dalam “posisi yang tinggi” sehingga tidak ada laki-laki yang berada di atasnya, bahkan seorang Pangeran Arab pun.

Saya tidak akan meresensi, spoiler ataupun semacam itu terhadap novel ini. Saya lebih tertarik untuk melihat sisi kebenaran paradoks yang ada dalam novel ini.

Dikatakan kebenaran paradoks mengacu pada kebenaran yang semu, di sisi lain dianggap benar di sisi lain justru menuai ketidakadilan. Kebenaran yang hanya berlaku hanya bagi segelitir individu dan tidak untuk lainnya.

Hal ini tercermin jelas oleh Firdaus—tokoh utama dalam novel ini—sebelum ia dihukum mati; “Kebenaran itu selalu mudah dan sederhana”. Ia juga menyamakan antara kebenaran dengan kematian bahwa keduanya sama-sama mensyaratkan keberanian untuk menghadapinya.

Kekecewaan Pada Oknum Elit Agamawan

Firdaus berani mengungkap kebenaran itu dengan menebusnya dengan nyawanya sendiri. (Nawal el-Saadawi, Perempuan di Titik Nol, 149-150). Meskipun pada akhirnya ia tetap kalah dalam panggung. Dia tetap bisa dikatakan menang berkat bantuan Nawal yang menyalurkan suaranya kepada dunia, bahwa dunia tidak pernah baik-baik saja.

Hal ini sama saja dengan film Mr. Glass yang berhasil menyebarkan video yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kekuatan super berkat sugesti supranatural. Meskipun Mr. Glassnya sendiri mati.

Firdaus nyatanya berhasil merobek kemunafikan, kesalihan yang diagung-agungkan semuanya terbongkar. Ia bukan hanya menjadi istri Syaikh al-Azhar yang sudah pensiun, yang kerap kali memukulinya.

Namun sampai juga kepada Pangeran Arab dan bahkan seorang aktivis revolusioner idealis yang dikiranya berada di garda terdepan untuk membelanya. Ia benar-benar mencintainya setelah sekian lama perasaannya mati, justru malah menghianatinya dan ikut andil dalam merenggut kehormatannya.

Berbeda dengan novel yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan, Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Masih dengan tema yang sama. Dengan tokoh utamanya Nidah Kirana sebagai aktivis hijrah yang kecewa terhadap agama.

Alih-alih menemukan gerakan Islam yang diakuinya sebagai tempat terbaik yang penuh dengan halaqah-halaqah pengajian dan bergelimang pahala. Ia justru dikecewakan dengan perlakuan bejat dari para petinggi-petinggi dalam gerakan tersebut. Orang yang notabenenya lebih paham mengenai ajaran agama daripada dirinya.

Sukarela Menjerumuskan Diri ke ‘Dunia Gelap’

Akibat kekecewaan itu ia malah menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan. Ini terbukti ketika ia mencoba melampiaskan kekecewaan itu kepada Daarul dengan menakalkan diri mencoba merebut rokok darinya.

Hal ini terkesan Kirana lebih “sukarela/sengaja” masuk dalam dunia gelap itu sedangkan Firdausnya Nawal tidak. Sebab dari awal dia sama sekali tidak berniat untuk melanggar aturan-aturan.

Namun, keadaanlah yang memaksanya untuk melakukan semua itu sampai pada titik “yaudahlah”. Oleh karena keadaan itu pula, jika ia tidak melakukan itu maka bisa saja mati, berbeda dengan Kirana yang masih banyak pilihan dan rela menjual jiwanya pada iblis hanya karena sebatas kecewa, bukan antara hidup dan mati. (Muhidin M. Dahlan, Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, 147).

Ada stigma terhadap kaum perempuan model Firdaus ataupun Kirana yang tertanam pada masyarakat bahwa mereka kerap kali jauh dari kaum yang beragama. Padahal mereka juga masih  manusia dan masih mempunyai keyakinan tentang Tuhan.

Stigmatisasi ini juga didukung oleh elit agamawan sehingga seringkali mereka tersingkir secara struktural. Terusir dari masyarakat maupun secara kultural (budaya) dianggap perempuan yang tidak terhormat.

Korban Superioritas Lelaki

Mereka berada pada pilihan hidup yang seringkali tidak diinginkannya, dihadapkan pada keadaan yang benar-benar memaksanya untuk melakukan hal itu seperti yang terjadi pada Firdaus. Terkadang mereka tidak melakukannya secara sengaja, dikelabuhi, dibujuk dan dipaksa.

Sangat jarang yang melakukannya dengan sukarela—berbeda dengan kasus kirana yang menceburkan dirinya. Jadi lebih banyak faktor ekonomi, frustasi juga bisa berasal dari keluarga yang broken home. (Nur Syam, Agama Pelacur: Dramaturgi Transendental, 7-8)

Dengan demikan, kita dipaksa kembali mempertanyakan tentang kebenaran itu. Apakah yang dilakukan oleh wanita jalanan atau kupu-kupu malam itu benar ataukan justru para lelaki munafik yang ditemui oleh Firdaus itu benar?

Bahkan para petinggi yang ada dalam gerakan hijrah yang ditemui oleh Kirana dengan segala doktrin kebenaran yang dimiliki oleh mereka? Kenyataannya lagi-lagi perempuan menjadi korban atas superioritas lelaki yang tidak bertanggung jawab, menjadi objek atas segala bentuk dosa-dosa padahal tak diinginkannya.

Perlu kiranya kita lebih jauh melihat mereka dari sudut pandang yang berbeda, tidak seperti yang disuarakan oleh kaum elit agamawan. Sebab, sejatinya kebenaran itu akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa ataupun dicegah.

Muhammad Firdaus

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

12 + 12 =