Kaum Santri Dinilai Lebih Progresif Dibanding Muslim Kota

 Kaum Santri Dinilai Lebih Progresif Dibanding Muslim Kota

Gus Ulil (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Cendekiawan muslim Indonesia, Ulil Abshar Abdalla atau kerap disapa Gus Ulil melihat ada fenomena baru di kalangan kaum santri tradisionalis yang berbasis di desa. Menurutnya kelompok santri tradisionalis tengah menunjukkan progresifitasnya dalam beberapa dekade terakhir.

Sebaliknya cara pandang konservatif justru tengah nampak dan menguat di kalangan kelompok muslim perkotaan. Fenomena progresifitas kelompok santri tradisionalis ini menurut Gus Ulil disebut semacam gelombang peradaban yang menarik di Indonesia.

Adapun yang dimaksud Gus Ulil tentang progresifitas kelompok santri tradisionalis ini adalah terkait erat dengan sistem cara pandang keagamaannya. Dan hal itu justru tidak tampak pada kelompok muslom perkotaan dewasa ini.

Gus Ulil menyebut, kecenderungan kelompok muslim perkotaan saat ini justru bergerak pada cara pandang yang semakin konservatif. Padahal sebelum-sebelumnya cara pandang keagamaan yang progresif hanya dapat dijumpai pada muslim perkotaan.

“Saya melihat “gelombang peradaban” yang menarik di Indonesia. Kalangan santri NU tradisional yang berasal dari kampung-kampung bergerak ke arah yang lebih progresif dalam pandangan keagamaannya. Yang Muslim kota bergerak ke arah sabaliknya: makin konservatif,” ungkap Gus Ulil melalui akun Twitter pribadinya @ulil, Rabu (29/9/20219).

“Ini gejala yang menarik,” sambung Gus Ulil.

Pernyataan Gus Ulil ini pun mendapat tanggapan sejumlah netizen. Salah satunya tanggapan dari pemilik akun @k0ngm1n.

Ia mengajukan pertanyaan kepada Gus Ulil soal fenomena tersebut. Menurutnya apa mungkin hal itu terjadi karena para santi itu mereka punya dasar yang kuat dan diawasi dengan benar sehingga saat menerima arus informasi dari luar mereka lebih punya pegangan untuk bisa memilih mana baik atau buruk.

“Sedangkan di perkotaan mungkin terpapar informasi keagamaan,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Gus Ulil membenarkan. Menurutnya memang demikian itu yang terjadi saat ini.

“Kalangan yang belajar agama dengan baik dan mendalam, biasanya tak gampang “kepincut” pada arus,” jelasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 − one =