Karir Terbaik Seorang Istri

 Karir Terbaik Seorang Istri

Karir terbaik seorang istri (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Pernah tidak mendengar quotes ini yang sering terpampang di beberapa poster dengan Hideline mentereng begini “KARIR TERBAIK SEORANG ISTRI”. Lalu di bawahnya, “Setinggi apa pun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah berdiam di rumah, bayaran termahalnya adalah ridha suami. Prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang salih dan salihah.”

Lebih mengejutkan adalah dari redaksi yang sama terjadi pencomotan nama dari seorang tokoh yang dilabelkan sebagai tuan kata tersebut. Dari ustad A atau ustad B, bahkan kerap juga menampilkan sosok ulama karismatik yang disegani banyak orang, yakni KH. Maimun Zubair. Dengan kata lain, dengan tulisan sama, tapi menggunakan sumber nama yang berbeda sebagai penutur kalimat itu.

Sebagaimana diungkapkan Kalis Mardiasih dan pemahamannya ketika melihat kalimat di atas disematkan pada mendiang KH. Maimun Zubair. Kalis menyebut dalam Feed Instagramnya bahwa KH. Maimun ini mengidolakan Sayyidah Khodijah Ra.

Syaikhona sangat mengangumi kemampuan literasi Sayyidah Khadijah yang dibuktikan telah membaca kitab sastra Klasik lintas bahasa. Di saat lingkungan masyarakatnya tak mengenal aksara. Beragam kemampuan cemerlang lain yang kerap tersemat dalam diri Sayyidah Khadijah.

Nah berikutnya setelah saya telusuri lebih lanjut persoalaan ini, ketika saya mencari di mesin pencarian Google dengan kata kunci “Karir terbaik Istri” akan ditemukan redaksi yang senada meski tidak sama persis.

Paling tidak pesan yang ingin disampaikan serupa, secara garis besar dapat ditarik begini “PEREMPUAN YANG DIRUMAHKAN”. Bahkan dibubuhi dengan lengkap hadis dan arti beserta perawinya, dan tak lupa disuguhkan tokoh yang dikutip sebagai upaya dukungan terhadap validitas datanya.

***

Saya tidak begitu mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa perempuan yang di rumah menjadi lebih ideal dan dinyatakan sebagai puncak karir tertinggi? Apalagi sampai didukung melalui doktrin dan tafsir agama yang mendasarinya.

Tulisan ini bukan hendak menyalahi perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Tetapi bukan berarti perempuan yang memilih berkarir berlabel tidak baik.

Hal tersebut secara tidak langsung menjadikan perempuan mengalami pendiskreditan yang memposisikannya sebagai manusia kelas dua setelah lelaki yang bisa menjadi ini dan itu. Hal itu juga didukung dari struktur sosial dan unsur patriarkis yang mengakar, bahkan tafsir agama yang misoginis yang lebih memperkuat posisi laki-laki.

Semisal muncul pertanyaan pragmatis yang sangat intimidatif terhadap perempuan yang hendak menempuh pendidikan tinggi. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti bakal jadi Ibu rumah tangga? Sekolah terus, kapan nikahnya?” Terkhusus di daerah lingkungan saya, perempuan yang sekolah tinggi-tinggi, masih kerap menerima pertanyaan seperti itu.

Perempuan yang menjadi kelas dua pun dikarenakan laki-laki yang lebih didukung dan difasilitasi banyak akses. Baik didukung karena konstruk sosial yang teramat kental nuansa patriarkinya. Sementara perempuan, dijejali ragam pertanyaan intimidatif yang jikalau keluar dari pakem yang kuat.

Hal ini berseberangan dengan fakta yang menunjukkan bahwa kalau kita melihat sejenak bagaimana ketika di ruang kelas. Para perempuan terkadang menduduki posisi peringkat atas dan kerap bersaing dengan laki-laki, bahkan dalam ajang perlombaan pun perempuan turut mengambil ruang menjadi pemenang.

***

Persaingan perempuan dan laki-laki untuk merebut kursi peringkat pertama terbilang sengit. Bahkan tidak jarang saya temukan perempuan yang seringkali mengikuti perlombaan dan berujung meraih kejuaraan. Baik dalam lomba yang sifatnya akademik seperti olimpiade, baca kitab kuning, pidato, karya tulis, dan lain-lain. Bahkan dalam bidang kesenian pun tak kalah saing dengan lelaki. Potensi dan kemampuan yang dimiliki teman-teman perempuan secara intelektual dapat dikatakan sebelas duabelas.

Padahal kalau kita mau jujur dan mengakui, perempuan dan laki-laki itu setara. Sama-sama manusia yang dilantik sebagai wakil Allah (lihat, QS. Al-Baqarah: 30) yang diamanahi menjaga alam semesta. Dalam tafsir yang menyebut Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam juga melanggengkan status quo Lelaki sebagai manusia yang lebih superior dari perempuan.

Seolah-olah kehadiran perempuan menjadi pelengkap yang hanya sebagai teman kesepian Adam, termasuk tafsir yang menyebut Siti Hawa sebagai pemicu utama keterusirannya dari surga. (lebih lanjut baca tulisan saya yang bertajuk Siti Hawa Korban Patriarki? Ini Penjelasannya https://hidayatuna.com/siti-hawa-korban-patriarki-ini-penjelasannya/) yang ternyata penafsiran tersebut diambil dari kisah-kisah Isra’iliyyat.

Laki perempuan sama-sama dibekali akal budi dan hati untuk menimbang setiap tindakan yang diambil secara matang. Juga dituntut untuk saling bekerja sama dalam rangka melestarikan bumi yang damai, tentram dan sejahtera tanpa pendiskreditan dan ada yang tersingkirkan.

Dengan demikian yang membedakan perempuan dan laki-laki hanyalah faktor biologisnya. Kalau kata Najwa Shihab, kodrat perempuan hanya 3, yakni Menstruasi, Mengandung dan Menyusui. Selain itu, dapat dilakukan laki-laki maupun perempuan, maka dari itu, dibutuhkan ketersalingan untuk saling bekerja sama antara keduanya untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Apa yang menjadi kekurangan dari perempuan dapat dilengkapi laki-laki, begitupun sebaliknya. Apa yang menjadi ketidakmampuan lelaki dapat disempurnakan perempuan sebagai partnernya.

***

Sah-sah saja bila perempuan mau meniti karir di mana pun dan di segi apa pun, mau belajar di luar negeri pun tidak masalah. Mau menjadi akademisi, reporter, jurnalis, kerja di kantor, politisi, bahkan presiden sekalipun tidak lah masalah, termasuk menjadi ibu rumah tangga sekalipun merupakan hal yang baik. Terpenting tidak menyalahi norma-norma Islam dan memunggungi norma negara dan norma-norma lainnya.

Selagi itu baik dan membawa maslahah umum mengapa tidak?

Perempuan memiliki hak untuk menjadi apapun yang dicita-citakannya, perempuan memiliki hak keinginan yang hendak direngkuhnya kemudian hari. Perempuan pun memiliki hak yang sama sebagaimana laki-laki pada umumnya.

Jangan sampai institusi pernikahan menghalangi hak-hak yang hendak dicapai. Jangan pula keberadaan agama dengan tafsirnya dijadikan alat legitimasi menjeruji cita-cita perempuan dan merampas hak-haknya.

Saya sangat meyakini potensi dan kemampuan yang dimiliki perempuan sangat dibutuhkan untuk kemajuan negeri ini. Jika saja “perempuan dirumahkan” sangat disayangkan kemampuan yang dimiliki didiamkan begitu saja tanpa diberdayakan sebagaimana seharusnya. Lebih-lebih sampai terdomestikasi hanya dalam ruang reproduksi dan prokreasi.

Wallahu ‘alam bi al-Shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen − ten =